Perjalanan hidup seseorang tidak selalu dimulai dari keadaan yang serba berkecukupan. Keterbatasan justru dapat menjadi titik awal terbentuknya ketangguhan, kedisiplinan, dan semangat untuk terus berkembang. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan hidup Dr. dr. Sutrisno, S.H., M.A.R.S., M.H.Kes., FISQua.
Sosok yang memiliki latar belakang sebagai dokter sekaligus perwira tinggi TNI berpangkat Brigadir Jenderal ini kini mengemban amanah sebagai Rektor Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen (ITSK Soepraoen) Malang sejak April 2026.
Perjalanannya menuju dunia akademik tidak berlangsung secara instan. Berbagai pengalaman, mulai dari kehidupan masa kecil yang sederhana, pendidikan kedokteran, pengabdian di lingkungan militer, hingga kepemimpinan institusi pendidikan, membentuk pandangannya tentang arti keberhasilan dan tanggung jawab seorang pendidik.
Kisah tersebut turut diabadikan dalam buku biografi berjudul Jurus “Bandel” Sang Jenderal. Buku ini mengungkap bagaimana karakter yang disebutnya sebagai sikap “bandel” justru menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Berangkat dari Keterbatasan, Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Tidak semua keberhasilan lahir dari perjalanan yang mudah. Dr. Sutrisno merupakan salah satu sosok yang membuktikan bahwa keadaan pada masa kecil tidak harus menentukan batas pencapaian seseorang di masa depan.
Dalam buku biografinya, perjalanan hidup Dr. Sutrisno digambarkan melalui berbagai pengalaman yang penuh tantangan. Kehidupan yang sederhana membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbiasa menghadapi kesulitan dan tidak mudah menyerah.
Menariknya, salah satu karakter yang melekat dalam perjalanan hidupnya adalah sifat “bandel”. Namun, istilah tersebut tidak dimaknai sebagai sikap menentang aturan atau mengabaikan tanggung jawab.
Sebaliknya, sifat bandel menjadi representasi keberanian untuk mencoba, kegigihan dalam menghadapi hambatan, serta kemauan untuk terus bergerak meskipun keadaan tidak selalu mendukung.
Semangat tersebut kemudian mengantarkannya menempuh pendidikan kedokteran, sebuah bidang yang menuntut ketekunan, disiplin, dan komitmen tinggi.
Perjalanan pendidikannya juga tidak berhenti pada bidang kedokteran. Ia memperluas kompetensi melalui keilmuan hukum, manajemen rumah sakit, dan hukum kesehatan.
Perpaduan berbagai disiplin ilmu tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya, terutama ketika menghadapi persoalan pelayanan kesehatan yang tidak hanya membutuhkan kemampuan medis, tetapi juga pemahaman terhadap regulasi, tata kelola, dan kepemimpinan organisasi.
Meniti Karier sebagai Dokter dan Perwira Tinggi TNI
Sebelum dipercaya memimpin perguruan tinggi, Dr. Sutrisno telah menjalani perjalanan panjang dalam dunia militer dan pelayanan kesehatan.
Kariernya sebagai perwira TNI hingga mencapai pangkat Brigadir Jenderal memberikan pengalaman kepemimpinan yang berbeda dari lingkungan akademik pada umumnya.
Dalam dunia militer, kedisiplinan, ketegasan, kemampuan mengambil keputusan, dan tanggung jawab terhadap keselamatan orang lain menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas.
Sebagai seorang dokter militer, ia juga memiliki pengalaman dalam pelayanan medis, pengelolaan rumah sakit militer, serta penanganan situasi darurat dan kebencanaan.
Pengalaman tersebut membentuk perspektifnya bahwa ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dipahami secara teoretis. Pengetahuan harus mampu diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Latar belakang kedokteran, militer, dan manajemen kesehatan inilah yang kemudian menjadi fondasi penting ketika Dr. Sutrisno memasuki dunia pendidikan tinggi.
Baca juga: Kunci Meningkatkan Eksistensi dan Profesionalisme Dosen Ala Prof Hendy
Dari Dekan Fakultas Kedokteran hingga Menjadi Rektor ITSK Soepraoen
Perjalanan kepemimpinan Dr. Sutrisno di dunia akademik salah satunya ditandai dengan amanah sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).
Dalam peran tersebut, ia terlibat dalam pengembangan pendidikan kedokteran serta penguatan kapasitas mahasiswa, baik melalui pembelajaran akademik maupun kegiatan yang berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat.
Pengalaman memimpin fakultas menjadi ruang baginya untuk mengintegrasikan kedisiplinan yang diperoleh dari lingkungan militer dengan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan mahasiswa.
Memasuki April 2026, perjalanan kariernya berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Rektor ITSK Soepraoen Malang.
Amanah tersebut menandai babak baru pengabdiannya di dunia pendidikan tinggi. Setelah menjalani berbagai tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan dan kepemimpinan militer, ia kini memiliki peran strategis dalam pengembangan institusi pendidikan tenaga kesehatan.
Dengan pengalaman lintas bidang yang dimilikinya, Dr. Sutrisno membawa perspektif yang menghubungkan kompetensi profesional, tata kelola institusi, serta pembentukan karakter mahasiswa.
Kepemimpinannya juga menghadirkan harapan agar perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi tantangan profesi.
Memegang Prinsip bahwa Keberhasilan Dosen Terletak pada Kesuksesan Mahasiswa
Di balik perjalanan kariernya sebagai dokter, perwira TNI, dan pemimpin perguruan tinggi, Dr. Sutrisno memiliki pandangan tersendiri mengenai peran seorang pendidik.
Baginya, keberhasilan seorang dosen tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan akademik, gelar pendidikan, maupun kedudukan yang berhasil diraih. Keberhasilan tersebut justru dapat dilihat dari kemampuan seorang pendidik dalam membantu mahasiswa berkembang dan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Dalam buku Jurus “Bandel” Sang Jenderal, ia menyampaikan prinsip yang menjadi pegangan dalam menjalankan peran sebagai dosen.
“Aku nggak ingin jadi dosen yang hanya bangga karena mahasiswa takut. Aku ingin jadi dosen yang bangga karena mahasiswanya berkembang.”
Prinsip tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya ketika dipercaya menjadi Komandan Satuan Pendidikan (Dansat Selapa). Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan sejumlah peserta didiknya berhasil mencapai kedudukan yang lebih tinggi, termasuk menjadi perwira tinggi TNI.
Alih-alih merasa tersaingi, Dr. Sutrisno justru memandang keberhasilan mereka sebagai kebanggaan tersendiri.
Menurutnya, seorang pendidik tidak seharusnya membatasi pengetahuan yang diberikan kepada mahasiswa karena khawatir kemampuan mereka akan melampaui dirinya.
Sebaliknya, dosen perlu memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman seluas mungkin agar mahasiswa mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Pandangan ini menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak seharusnya berpusat pada keunggulan dosen semata, melainkan pada pertumbuhan dan keberhasilan mahasiswa sebagai generasi penerus.
Baca juga: Profil Satryo Soemantri Brodjonegoro yang Kini Menjabat Mendiktisaintek
Terus Belajar dan Mengembangkan Diri Melalui Pengalaman Internasional
Semangat belajar Dr. Sutrisno tidak berhenti ketika berhasil menempuh pendidikan kedokteran maupun mencapai jabatan dalam karier profesionalnya.
Pengalaman menempuh pendidikan di Australia turut memberikan perspektif baru mengenai pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam biografinya, ia menceritakan pengalaman ketika melakukan riset yang berkaitan dengan universal precautions dalam penanggulangan HIV/AIDS di La Trobe University.
Saat menghadapi keterbatasan sumber pembelajaran yang sesuai dengan topik penelitiannya, ia memperoleh pengalaman tentang pentingnya inisiatif untuk mengembangkan sesuatu yang belum tersedia.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa inovasi tidak selalu harus menunggu tersedianya sistem atau fasilitas yang sempurna.
Seorang akademisi justru perlu memiliki keberanian untuk mencari solusi, mengembangkan pendekatan baru, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat menjawab kebutuhan nyata.
Pembelajaran tersebut menjadi relevan dengan tantangan dunia pendidikan tinggi saat ini, ketika dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi sekaligus menghasilkan inovasi melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Baca juga: Bagus Putra Muljadi, Profesor Termuda di Universitas Nottingham Inggris
Menjadikan Ilmu Pengetahuan sebagai Sarana Memberikan Manfaat
Selain menekankan pentingnya pengembangan mahasiswa, Dr. Sutrisno juga memiliki pandangan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan.
Dalam perjalanan hidupnya, ia memaknai kontribusi bukan hanya dari besarnya bantuan yang diberikan, tetapi juga dari dampak jangka panjang yang dapat dihasilkan.
Salah satu gagasan yang diangkat dalam biografinya adalah pentingnya menciptakan efek multiplikasi melalui ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, pengetahuan yang diberikan kepada seorang mahasiswa dapat terus berkembang ketika mahasiswa tersebut menerapkannya dalam pekerjaan, membagikannya kepada orang lain, atau menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Dengan demikian, manfaat pendidikan tidak berhenti ketika kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan.
Pemikiran tersebut juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab dosen tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi di ruang kelas.
Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dosen memiliki kesempatan untuk menciptakan perubahan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.
Kisah Hidup yang Diabadikan dalam Buku Jurus “Bandel” Sang Jenderal

Perjalanan panjang Dr. Sutrisno kemudian diabadikan melalui buku biografi Jurus “Bandel” Sang Jenderal.
Buku tersebut tidak hanya memuat pencapaian karier seorang dokter dan perwira tinggi TNI, tetapi juga mengulas pengalaman hidup yang membentuk karakter, pola pikir, dan prinsip kepemimpinannya.
Pembaca diajak mengenal berbagai fase kehidupan Dr. Sutrisno, mulai dari masa kecil, perjalanan pendidikan, pengabdian dalam dunia militer, hingga keterlibatannya dalam kepemimpinan perguruan tinggi.
Istilah “bandel” yang menjadi bagian dari judul buku memiliki makna tersendiri. Karakter tersebut digambarkan sebagai keberanian untuk menghadapi tantangan, kemauan mencoba hal baru, dan keteguhan untuk tidak menyerah pada keadaan.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berlangsung sesuai rencana. Berbagai tantangan justru dapat menjadi pengalaman berharga yang membentuk kemampuan seseorang dalam menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.
Bagi kalangan dosen dan akademisi, perjalanan Dr. Sutrisno juga memberikan pembelajaran mengenai pentingnya mengembangkan kompetensi lintas bidang, menjaga semangat belajar, serta menempatkan keberhasilan mahasiswa sebagai salah satu ukuran keberhasilan seorang pendidik.
Pada akhirnya, kisah Dr. Sutrisno menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh gelar atau jabatan. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses panjang untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus menghadirkan manfaat bagi orang lain.














