Penulisan Buku Referensi dengan Layanan Konsultasi Menulis, Berikut Arti Pentingnya 

penulisan-buku-referensi
Penulisan Buku Referensi dengan Layanan Konsultasi Menulis, Berikut Arti Pentingnya

Penulisan naskah buku referensi tentunya menjadi hal penting untuk dipahami para dosen. Sebab proses penulisan ini akan menentukan mutu naskah, kelayakan terbitnya, dan baru bisa diklaim dosen untuk pemenuhan kewajiban meneliti serta menyebarluaskan hasilnya. Lalu, seperti apa tata cara penulisan naskahnya? Berikut informasinya. 

Tata Cara Penulisan Buku Referensi 

Buku referensi merupakan buku ilmiah yang disusun berdasarkan hasil penelitian dan membahas beberapa topik dari suatu bidang keilmuan. Inilah alasan kenapa penulisan buku referensi dan penerbitannya bisa dilakukan satu dosen sebagai penulis tunggal. Maupun secara kolaboratif dan terbit dalam bentuk seri. 

Sebagai salah satu buku ilmiah yang wajib disusun oleh dosen dan diterbitkan secara luas. Maka ada beberapa aturan dalam proses penulisan hingga penerbitan. Oleh sebab itu, penting sekali untuk memahami tata cara penulisan naskahnya. Secara umum, tahapannya adalah sebagai berikut: 

1. Melaksanakan Penelitian dan Menyelesaikannya 

Dasar acuan dari naskah buku referensi adalah hasil penelitian. Maka tahap paling awal adalah memastikan sudah melaksanakan penelitian. Penelitian yang sudah selesai akan didapatkan hasil atau temuan. Barulah bisa disebarluaskan menjadi buku referensi. 

2. Menyusun Laporan Penelitian dan KTI sebagai Luaran Berbentuk Publikasi Ilmiah

Secara umum, setiap penelitian bisa memiliki target luaran tersendiri. Baik itu publikasi ilmiah seperti di prosiding, jurnal, maupun penerbitan buku. Bisa juga HKI yang biasanya dalam bentuk paten. Selain itu, masih ada lagi bentuk luaran lainnya. 

Luaran dalam bentuk publikasi di jurnal ilmiah, biasanya sering menjadi luaran wajib. Luaran wajib ini perlu dicapai dulu sebelum mulai menulis buku referensi. Sehingga kegiatan penelitian benar-benar tuntas dan buku referensi yang diterbitkan bisa menjadi luaran tambahan. 

3. Menyusun Kerangka Buku Referensi 

Dalam penulisan buku referensi, supaya lebih efisien bisa melakukan konversi KTI. Baik itu konversi laporan penelitian jika luaran wajib dalam bentuk Paten. Dalam proses konversi ini, para dosen melakukan penyesuaian struktur penulisan. Supaya lebih mudah, maka diawali dari penyusunan kerangka (outline).

Pada tahap ini, dosen sekaligus mengatur urutannya. Bab pertama membaca apa, bab kedua, ketiga, dan seterusnya sampai di bab terakhir. Setiap bab juga bisa diturunkan lagi menjadi subbab, subsubbab, dan seterusnya sesuai kebutuhan. 

Baca juga: Memahami Sistematika Penulisan Buku Referensi

4. Mengembangkan Kerangka 

Tahap keempat adalah mulai penulisan buku referensi dengan mengembangkan kerangka yang sudah disusun sistematis. Dosen bisa mulai berurutan dari bab pertama dan turunannya. Jika sudah selesai, baru beralih ke pengembangan bab kedua, ketiga, dan seterusnya. 

Dalam tahap penulisan dosen membutuhkan referensi tambahan untuk mendapatkan data yang sesuai. Menggunakan referensi yang relevan, kredibel, dan terbitan terkini perlu dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih valid. 

Baca juga: Bentuk Kerangka Penulisan Karya Ilmiah dan Manfaatnya

5. Penyuntingan dan Editing Mandiri 

Setelah seluruh bab selesai disusun atau dikembangkan, maka berlanjut ke tahap editing dan penyuntingan. Secara sederhana, tahap ini adalah tahap koreksi mandiri oleh dosen selaku penulis naskah. Dimulai dengan membaca kembali naskah yang sudah disusun. Kemudian, saat menjumpai ada kesalahan maka dilakukan perbaikan.

Tahap akhir dari editing dan penyuntingan mandiri adalah merapikan naskah. Jadi, perlu dirapikan agar lebih enak dilihat dan nyaman dibaca. Mulai dengan menyelaraskan pengaturan perataan paragraf, spasi, memecah paragraf yang terlalu panjang, dan sebagainya. 

Baca juga artikel berikut: Cara Memenuhi Angka Kredit Dosen melalui Publikasi Buku Referensi dan Monograf

6. Memilih Penerbit 

Tahap berikutnya dalam penulisan buku referensi adalah penerbitan. Tahap awal penerbitan adalah memilih penerbit yang tepat. Penerbit buku referensi wajib penerbit resmi yang dikelola badan ilmiah, organisasi, perguruan tinggi, maupun penerbit resmi yang dikelola oleh pihak swasta.

Penerbit resmi memastikan proses penerbitan sesuai standar, salah satunya ada tahap editorial. Kemudian pengurusan ISBN hingga Hak Cipta. Dalam memilih penerbit, para dosen juga perlu mempertimbangkan aspek lain seperti kualitas pelayanan, biaya penerbitan, jaringan pemasaran, dan aspek penting lain yang sekiranya perlu diperhatikan. 

7. Mengurus dan Mengikuti Proses Penerbitan 

Tahap selanjutnya, tentu saja mengikuti seluruh proses penerbitan. Proses penerbitan bukan hanya berisi pengiriman naskah. Maka besoknya sudah naik ke proses cetak. Terdapat tahapan panjang dan keterlibatan dosen sebagai penulis ada di dalamnya. 

Mulai dari penetapan naskah diterima, ditolak, atau diterima dengan revisi. Kemudian masuk proses revisi. Disusul dengan desain cover dan layout, hasil desain juga akan diserahkan ke dosen (penulis) untuk disetujui atau permintaan perubahan. Baru ke proses cetak, jilid, pengajuan ISBN, Hak Cipta, dan distribusi serta promosi. 

Kesalahan Umum dalam Penulisan Buku Referensi 

Dalam penulisan buku referensi yang berhadapan dengan berbagai aturan dan ketentuan dari Kemdiktisaintek. Maka tentunya ada banyak dosen yang melakukan berbagai kesalahan. Menghindari hal serupa dialami, para dosen bisa mengantisipasi dengan mengenal berbagai kesalahan tersebut. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Tidak Menggunakan Buku Panduan Penulisan 

Bagi dosen senior, mungkin sudah hafal dan khatam aturan penulisan naskah buku referensi. Meskipun begitu, adanya kemungkinan perubahan regulasi perlu diperhatikan. Jadi, bagi dosen pemula maupun senior sangat dianjurkan untuk mengakses buku panduan penulisan.

Biasanya sudah disediakan perguruan tinggi yang menaungi dosen. Sehingga perlu dibaca dulu, dipahami, dan menjadi pegangan selama proses penulisan naskah untuk mengantisipasi kesalahan. 

Baca juga: Unsur Penting Menulis Buku Referensi yang Harus Diperhatikan

2. Belum Memahami Topik Secara Mendalam 

Dalam pengembangan topik, masih banyak dosen yang mengalami kesulitan. Pemahaman topik kurang maksimal dan bisa disebabkan banyak faktor. Hal ini bisa membuat pembahasan terlalu dangkal, sulit mencapai minimal 125 halaman, dan rentan naskah terbengkalai. 

3. Kajian Pustaka Kurang Optimal 

Dosen perlu mengakses berbagai sumber referensi, membaca berbagai publikasi ilmiah, memahami, dan memilih yang tepat sebagai referensi. 

Sayangnya, kajian pustaka bisa menjadi kurang optimal. Bisa karena referensi pada topik yang sesuai terbatas, akses ke referensi tidak optimal, dan sebab lainnya. Dampaknya, pemahaman topik masih kurang dan dosen kesulitan menyelesaikan naskah buku referensi. 

Baca juga artikel berikut: Cara Membuat Daftar Pustaka Vancouver Otomatis dengan Tools AI

4. Kesalahan dalam Memilih Referensi 

Pemilihan referensi dalam penyusunan buku referensi, tentunya tidak bisa sembarangan. Minimal ada 3 kriteria mendasar yang harus dipenuhi. Referensi tersebut relevan dengan topik, kredibel, dan merupakan terbitan terkini. Selain dari itu, para dosen bisa mempertimbangkan kriteria lainnya. 

Sayangnya, dalam pemilihan referensi bisa terjadi kesalahan. Misalnya tanpa disadari referensi yang digunakan tidak relevan dengan topik. Bisa karena pembahasan tidak sampai di data yang ada di referensi tersebut, bisa juga karena sebab lain.

5. Struktur Penulisan Belum Sistematis 

Buku referensi dan buku ilmiah lain, penting untuk disusun secara runtut atau sistematis. Sehingga penjelasan di dalamnya sesuai dengan alur logika keilmuan. Hanya saja, masih banyak dosen kesulitan untuk menentukan urutan tersebut. Sehingga masih dijumpai struktur yang tidak sistematis. 

Baca juga: 7 Tahapan Menyusun Naskah Publikasi Buku Referensi bagi Dosen 

6. Kutipan yang Berlebihan 

Dalam KTI, termasuk buku referensi, menambahkan kutipan sangat penting. Sebab bisa menjadi penguat argumen dan kesimpulan yang disampaikan ke pembaca. 

Hanya saja, kadang kala masih ada dosen yang menambahkan kutipan berlebihan. Hal ini bisa menurunkan kreativitas dosen dalam mengembangkan topik. Selain itu, jika kutipan tersebut kutipan langsung. Maka dampaknya skor similarity terlalu tinggi. 

7. Gaya Bahasa Tidak Konsisten 

Konsistensi pada gaya bahasa dan penggunaan diksi tertentu, terutama istilah teknis. Tentunya sangat penting dalam penulisan naskah buku, termasuk KTI jenis lainnya. 

Hanya saja, masih sering dijumpai inkonsistensi pada gaya bahasa dalam penulisan naskah buku referensi. Sehingga ada penggunaan 2 istilah atau penyebutan berbeda dan bahkan lebih. Hal ini tentu bisa membingungkan pembaca, dan ada kemungkinan beberapa sinonim menjadi keluar konteks pembahasan. 

8. Editing di Tengah Proses Penulisan 

Idealnya, dosen fokus menulis dulu. Setelah naskah selesai disusun, baru ke proses editing dan penyuntingan. Melakukan editing di tengah naskah yang belum selesai akan menjadi distraksi. Dosen bisa kehilangan fokus, arah pembahasan bisa berubah tanpa disadari, kesulitan mengatur waktu menulis kembali, dll. 

Arti Penting Konsultasi Menulis bagi Dosen dalam Penulisan Buku Referensi 

Selain beberapa kesalahan dalam penulisan buku referensi yang dijelaskan sebelumnya. Sangat mungkin, kalangan dosen menghadapi dan melakukan kesalahan lainnya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian agar lebih baik dalam mempersiapkan proses penulisan naskah. 

Tidak kalah penting adalah mempertimbangkan layanan konsultasi menulis dari pihak profesional. Berikut beberapa alasan dan arti penting dari mengakses layanan tersebut: 

1. Terbantu dalam Memahami Buku Referensi dan Ketentuan Penulisan 

Melalui konsultasi menulis, dosen mendapat bantuan dan dampingan dalam memahami buku referensi. Kemudian, memahami juga ketentuan penulisan yang menyertainya. Sehingga meminimalkan kesalahan dalam proses penulisan, dan tentunya pada tahap penerbitan. 

2. Memastikan Buku Referensi Memenuhi Karakteristik Khasnya 

Buku referensi tentunya harus bisa dibedakan dengan buku ilmiah lain. Terutama dengan buku monograf yang sama-sama disusun berdasarkan hasil penelitian. Dampingan dalam konsultasi menulis membantu mencapai hal tersebut. 

Sebab tim yang memberikan pendampingan bisa membantu dosen memahami apa saja karakteristik buku referensi. Kemudian membantu memastikan naskah disusun sesuai karakteristik tersebut dari awal sampai akhir. 

3. Membantu dalam Proses Kajian Pustaka 

Arti penting berikutnya, konsultasi menulis bisa membantu proses kajian pustaka. Pada saat dosen kesulitan mengakses referensi yang dibutuhkan, kendala dalam menentukan referensi yang tepat, kurang memahami referensi yang digunakan, dan sebagainya. Persoalan ini bisa dibantu diselesaikan bersama tim konsultan menulis. 

4. Lebih Mudah Mengatasi Kesulitan Menulis Buku Referensi 

Arti penting yang keempat, konsultasi menulis bisa membantu dosen mengatasi berbagai kesulitan dalam penulisan. Baik itu kehabisan ide atau writer’s block, kesulitan menyisihkan waktu untuk menulis, kesulitan mengutip, kendala dalam menggunakan aplikasi manajemen referensi, dll. 

5. Meningkatkan Kualitas Naskah 

Dampingan dari konsultan menulis tentunya lebih menyeluruh. Sehingga dari awal penulisan hingga naskah siap terbit, dampingan tersebut bisa diakses para dosen. Salah satu manfaatnya adalah membantu meningkatkan kualitas naskah. Sehingga kelayakan terbit tinggi dan lebih mudah diterima penerbit.

6. Naskah Lebih Cepat Diselesaikan 

Arti penting berikutnya, dampingan dalam konsultasi menulis bisa mempercepat penyusunan naskah buku referensi. Sebab dibantu dalam mengatasi kesulitan dan kendala. Sehingga naskah segera selesai, kemudian bisa segera diterbitkan. Dosen pun bisa fokus mengerjakan tugas akademik lain yang sudah menunggu. 

7. Didampingi dalam Proses Penerbitan 

Tak hanya didampingi dalam penulisan. Tim konsultasi menulis biasanya juga memberi dampingan dalam penerbitan. Seperti dipandu dalam memilih penerbit, didampingi saat proses revisi, dan sebagainya. 

Layanan konsultasi menulis tentunya penting bagi para dosen. Baik dosen pemula maupun senior, tentunya akan menghadapi berbagai kendala dalam penulisan buku referensi. Termasuk juga buku ilmiah jenis lainnya. 

Jika perguruan tinggi belum menyediakan layanan pendampingan tersebut. Maka penyedia layanan profesional bisa dipertimbangkan. Salah satunya adalah layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish. 

Bingung Mulai Menulis Buku? Mau Buku Diakui untuk Angka Kredit & Jabatan Fungsional? Konsultasikan Kendala Menulis Anda GRATIS Bersama Penerbit Deepublish!

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer