Pengertian, Isi, dan Contoh Latar Belakang Proposal Penelitian

latar-belakang-proposal-penelitian
Pengertian, Isi, dan Contoh Latar Belakang Proposal Penelitian

Sama seperti karya tulis ilmiah (KTI) jenis lainnya, pada proposal penelitian juga terdapat bagian latar belakang. Bagian ini sifatnya wajib untuk ada di dalam proposal penelitian. Sehingga memahami apa dan bagaimana menyusun latar belakang proposal penelitian sangat penting. 

Latar belakang dipahami juga sebagai bagian dari proposal penelitian yang punya fungsi tersendiri. Maka tidak heran wajib ada dan menjadi struktur umum dari proposal dan bahkan struktur dari KTI jenis apapun. Lalu, bagaimana cara menyusunnya? Berikut informasinya. 

Pengertian Latar Belakang pada Proposal Penelitian 

Secara umum, latar belakang proposal penelitian adalah salah satu isi atau bagian dari bab pendahuluan pada proposal penelitian yang menjelaskan latar belakang atau alasan pemilihan topik penelitian. 

Berhubung latar belakang menjadi salah satu isi dari bab pendahuluan. Maka cukup banyak yang menganggap latar belakang memiliki definisi yang sama dari pendahuluan. Padahal sebenarnya berbeda, meski saling terkait. 

Bab pendahuluan di dalam proposal penelitian dan KTI jenis lainnya memiliki beberapa subbab. Umumnya mencakup latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Sehingga latar belakang adalah bagian atau isi dari bab pendahuluan. 

Tanpa latar belakang, maka struktur penulisan dan substansi pembahasan di bab pendahuluan dinilai belum lengkap serta belum memenuhi standar. Sehingga latar belakang wajib menjadi isi dari bab pendahuluan. Begitu juga dengan 2 substansi lain yang sudah disebutkan. 

Komponen atau Isi Bagian Latar Belakang Proposal Penelitian 

Secara bentuk penyajian, latar belakang berisi teks yang tersusun menjadi beberapa paragraf. Pada proposal penelitian, umumnya terdiri antara 2-3 paragraf. Meskipun bisa lebih, tergantung ketentuan pihak yang berwenang memberi persetujuan. Adapun isi atau komponen yang ada di bagian latar belakang, umumnya adalah sebagai berikut: 

1. Identifikasi Fenomena atau Masalah di Lapangan 

Secara umum, latar belakang dibuka dengan menjelaskan topik penelitian. Topik penelitian bisa berbentuk fenomena, sehingga penelitian bertujuan memahami fenomena tersebut. 

Bisa juga dalam bentuk masalah, yang dalam penelitian bertujuan mencari solusinya. Maka penyusunan latar belakang dipastikan mencakup informasi mengenai identifikasi fenomena atau masalah. Kemudian diputuskan peneliti untuk diteliti. 

2. Data dan Fakta Pendukung 

Komponen kedua yang umum menjadi isi dari latar belakang adalah data dan fakta pendukung identifikasi fenomena atau masalah penelitian. Artinya, ada pemaparan data yang menjelaskan fenomena atau masalah yang diteliti. 

MIsalnya, pada penelitian mengenai tingkat kepuasan produk A. Maka ada data penjualan produk tersebut dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Sehingga angka penjualan ini menjadi data dan fakta yang menjelaskan fenomena yang diteliti. 

3. State of the Art (SOTA) 

Pda penelitian lanjutan, maka di bagian latar belakang juga perlu memaparkan State of the Art (SOTA). SOTA dipahami sebagai penjelasan mengenai perkembangan penelitian dari beberapa tahun terakhir hingga penelitian paling terkini (terbaru). Sehingga ada pemetaan posisi penelitian yang akan dilakukan atau diusulkan pada proposal. 

4. Research Gap dan Kebaruan (Novelty) 

Isi berikutnya dari latar belakang proposal penelitian adalah research gap dan disusul dengan kebaruan (novelty). Research gap adalah segala bentuk kesenjangan, celah, maupun inkonsistensi yang mendorong dilakukan penelitian lanjutan. 

Sementara novelty menjadi bentuk keunikan dan inovasi dari penelitian, sehingga bisa memberi kontribusi baru bagi iptek. SOTA yang dicantumkan memberi kemudahan bagi peneliti mengidentifikasi research gap dan merumuskan novelty. Ketiganya menjadi isi dari latar belakang. 

Baca juga: Research Gap – Fungsi, Jenis, Contoh di Proposal Penelitian

5. Urgensi Penelitian yang Diusulkan 

Isi berikutnya adalah urgensi dari penelitian yang diusulkan untuk segera disetujui dan dilaksanakan. Artinya, latar belakang memuat alasan yang membuat penelitian perlu segera dilakukan. Misalnya, masalah yang diteliti semakin berdampak besar, ada keresahan dari masyarakat, menjadi isu yang hangat diperbincangkan, dll. 

Baca juga: Apa Itu Penelitian Dosen? Ini Pengertian, Tahapan, dan Manfaatnya

6. Alur Proses Penelitian 

Latar belakang juga sering diminta mencantumkan alur proses kegiatan penelitian dalam versi ringkas. Pada tahap ini, peneliti bisa menjelaskan metode penelitian yang digunakan. Disusul dengan populasi atau sampel penelitian hingga instrumen untuk pengumpulan data. 

7. Hipotesis (Penelitian Kuantitatif)

Hipotesis juga umum diminta untuk dicantumkan di bagian latar belakang. Secara sederhana, hipotesis merupakan dugaan sementara yang perlu dijawab atau dibuktikan melalui temuan penelitian. Hipotesis bersifat wajib ada untuk penelitian kuantitatif. Namun, hipotesis juga boleh dirumuskan untuk penelitian kualitatif. 

Sebagai catatan tambahan, isi latar belakang yang dijelaskan di atas bersifat umum. Pada aktual di lapangan, peneliti perlu menyesuaikan isi dengan ketentuan dari pihak yang berwenang menyetujui usulan penelitian. 

Misalnya bagi mahasiswa yang akan melaksanakan penelitian untuk penyusunan skripsi. Maka akan disediakan buku panduan penyusunan skripsi. Termuat juga informasi mengenai isi dari bagian latar belakang untuk bab pendahuluan di proposal penelitian. Sehingga menyesuaikan ketentuan perguruan tinggi. 

Baca juga artikel berikut: Etika Penelitian, Pahami Sebelum Menyusun Proposal Penelitian

Tata Cara Menyusun Latar Belakang 

Lalu, bagaimana cara menyusun bagian latar belakang proposal penelitian? Memahami proposal penelitian masuk kategori KTI. Maka tentu akan lebih mudah menyusun seluruh bagian di dalamnya, termasuk latar belakang secara sistematis. Berikut langkah-langkah menyusun bagian latar belakang: 

1. Identifikasi Fenomena atau Masalah yang Menjadi Topik Penelitian

Latar belakang dibuka dengan menjelaskan suatu fenomena atau masalah yang dirasa menarik untuk diteliti. Oleh sebab itu, tahap awal menyusun latar belakang dimulai dari identifikasi fenomena atau masalah tersebut. 

Baca juga: Seberapa Penting Menyusun Kerangka Proposal Penelitian? Berikut Penjelasan Rincinya 

2. Mengumpulkan Data dan Fakta Pendukung 

Setelah menentukan fenomena mana dan masalah apa yang akan diteliti. Maka menyusun latar belakang diikuti dengan mengumpulkan data dan fakta pendukung. Misalnya ada fenomena kebakaran hutan di Pulau Kalimantan. Peneliti kemudian mengumpulkan data laporan terkait kasus tersebut dalam 5 tahun terakhir. 

Baca juga: Contoh Kata Pengantar Proposal Penelitian dan Aturan Penulisan

3. Menentukan Konteks pada Topik yang Diteliti 

Tahap berikutnya adalah menjelaskan konteks dari fenomena atau masalah yang diteliti. Artinya, peneliti perlu memberikan gambaran lebih jelas mengenai fenomena atau masalah tersebut. Misalnya ada penjelasan mengenai fenomena terjadi dimana, sesuai lokasi penelitian. 

4. Memaparkan SOTA, Research Gap, dan Novelty 

Tahap selanjutnya, adalah proses memaparkan SOTA dari hasil kajian pustaka. Diikuti dengan menjelaskan hasil identifikasi research gap dan memaparkan novelty penelitian yang diusulkan. 

SOTA akan menjelaskan perkembangan penelitian pada topik yang diteliti, kemudian disusul menjelaskan celah penelitian terdahulu, dan ditutup dengan menjelaskan novelty dari penelitian yang diusulkan. 

Baca juga: Memahami Apa Itu Novelty pada Penelitian dan Cara Menentukannya

5. Menjelaskan Urgensi Penelitian yang Diusulkan 

Tahap selanjutnya dalam menyusun latar belakang adalah menjelaskan urgensi dari penelitian yang diusulkan di proposal. Meskipun pemaparan data dan fata topik yang diteliti sudah bisa menunjukan urgensi. 

Namun, perlu dipertegas di bagian akhir dari latar belakang. Peneliti bisa menyusun 1-2 kalimat untuk menjelaskan alasan kenapa penelitian yang diusulkan perlu disetujui. Cantumkan juga judul penelitian untuk memperjelas urgensi sesuai topik dan batasan penelitian yang sudah ditetapkan. 

6. Editing dan Penyuntingan 

Latar belakang yang sudah disusun dan memuat sejumlah komponen yang dijelaskan sebelumnya. Tentunya perlu diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada kesalahan konteks, substansi, maupun teknis penulisan. Sehingga dianjurkan untuk dibaca langsung, kemudian dilakukan koreksi. 

Namun, tahap editing dan penyuntingan bisa dilakukan setelah seluruh proposal penelitian selesai disusun. Sehingga tidak harus melakukan editing per bab atau per bagian yang menjadi isi setiap bab. Para peneliti bisa memilih kapan waktu terbaik melakukan editing dan penyuntingan. 

Baca juga artikel berikut: Pendahuluan Proposal Penelitian: Isi, Contoh, Cara Menyusunnya

Contoh Latar Belakang Proposal Penelitian 

Latar belakang proposal penelitian merupakan bagian kecil dari seluruh proposal penelitian. Sebab masih ada bagian lain di bab pendahuluan. Disusul dengan bab lain yang menyusun seluruh isi dari proposal penelitian. 

Bagi Anda yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun bagian latar belakang, bingung mulai darimana, dan kendala lainnya. Maka mempelajari beberapa contoh latar belakang bisa dilakukan. Berikut beberapa contoh yang bisa dijadikan referensi: 

Judul Proposal Penelitian: Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, proses pembelajaran perlu dirancang secara efektif dengan memperhatikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran adalah motivasi belajar siswa. Motivasi belajar merupakan dorongan yang membuat siswa bersemangat untuk mengikuti pembelajaran, menyelesaikan tugas, dan mencapai tujuan belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sebaliknya, motivasi belajar yang rendah dapat membuat siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, mudah merasa bosan, dan kurang bersemangat dalam menyelesaikan tugas.

Namun, dalam praktik pembelajaran, menjaga motivasi belajar siswa bukanlah hal yang mudah. Pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa dapat membuat kegiatan belajar terasa monoton. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penggunaan metode dan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian siswa serta mendorong keterlibatan mereka selama proses pembelajaran.

Seiring dengan perkembangan teknologi, media pembelajaran digital semakin banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Media pembelajaran digital dapat berupa video pembelajaran, presentasi interaktif, kuis daring, dan aplikasi pembelajaran. Penggunaan media tersebut berpotensi membuat materi lebih menarik, mempermudah pemahaman konsep, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran.

Meskipun demikian, penggunaan media pembelajaran digital tidak selalu menjamin peningkatan motivasi belajar siswa. Efektivitasnya dapat dipengaruhi oleh kesesuaian media dengan materi, kemampuan guru dalam menggunakannya, serta ketersediaan fasilitas teknologi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui apakah penggunaan media pembelajaran digital benar-benar berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Penelitian ini penting dilakukan karena hasilnya dapat memberikan informasi empiris mengenai hubungan antara penggunaan media pembelajaran digital dan motivasi belajar siswa. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi sekolah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih menarik dan efektif.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas.”

sumber: 

  1. Savitri, D. (2023). Latar Belakang Karya Tulis Ilmiah: Fungsi, Aspek hingga Contohnya. Diakses pada 15 Oktober 2026 dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6738315/latar-belakang-karya-tulis-ilmiah-fungsi-aspek-hingga-contohnya
  2. Septiady, E. (2024). Latar Belakang Penelitian: Pengertian, Cara Membuat, dan Contohnya. Diakses pada 15 Oktober 2026 dari https://tsurvey.id/portal/latar-belakang-penelitian-pengertian-cara-membuat-dan-contohnya
  3. Panduan Proposal Penelitian. (n.d). Institut Teknologi Indonesia. https://www.tekim.iti.ac.id/wp-content/uploads/2022/01/lab-basah-format-proposal-penelitian-iti-compressed.pdf

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer