Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contoh Artikel Ilmiah Populer 

artikel-ilmiah-populer
Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contoh Artikel Ilmiah Populer

Artikel ilmiah yang terbit di media massa tersebut juga diakui dalam pemenuhan BKD. Sekaligus diakui dalam penilaian angka kredit untuk pengembangan karir akademik dosen. Namun, ada ketentuan yang harus dipenuhi agar diakui dalam 2 aspek akademik tersebut. Berikut informasinya. 

Pengertian Artikel Ilmiah Populer 

Artikel ilmiah populer adalah karya tulis ilmiah yang dipublikasikan di media massa. Misalnya pada media koran atau surat kabar, majalah, tabloid, dan media massa dalam jenis atau kategori lainnya. 

Dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, hasil penelitian dosen bisa dan boleh dipublikasikan di media massa dalam bentuk artikel ilmiah tersebut. Tentunya dengan memenuhi beberapa ketentuan tambahan yang ditetapkan Kemdiktisaintek. 

Perbedaan Artikel Ilmiah Populer dan Artikel Ilmiah Murni 

Artikel ilmiah populer dengan artikel ilmiah murni yang dipublikasikan di prosiding dan jurnal, memang memiliki sejumlah persamaan. Misalnya sama-sama berisi hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh kalangan dosen. 

Hanya saja, keduanya tetap karya tulis ilmiah yang berbeda. Ada beberapa hal dan poin yang membuat keduanya tidak bisa disebut sama persis. Perbedaan tersebut antara lain: 

1. Media Publikasi 

Poin pertama yang menjadi pembeda adalah media publikasi. Artikel ilmiah murni umumnya terpublikasi di prosiding dan jurnal ilmiah. Sementara untuk karya ilmiah populer terpublikasi di media massa. 

Baca juga: 9 Arti Penting Update dan Mengikuti Tren Publikasi Akademik 

2. Proses Publikasi 

Pada jurnal, artikel ilmiah melewati proses peer review oleh minimal 2 pakar di bidang yang relevan. Sementara karya ilmiah populer melewati proses editorial oleh redaksi media massa. Meskipun sama-sama ada proses pemeriksaan kualitas isi dan aspek lainnya. Namun, proses editorial maupun tahapan penerbitan berbeda satu sama lain. 

3. Tujuan Penulisan dan Target Pembaca 

Artikel ilmiah murni pada prosiding dan jurnal disusun dengan tujuan menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat ilmiah. Sementara itu, tujuan penulisan dan publikasi artikel ilmiah populer adalah menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat umum atau masyarakat awam. Inilah alasan publikasi artikel ilmiah murni dan populer disarankan dikombinasikan. 

Baca juga: Apa Itu Penelitian Dosen? Ini Pengertian, Tahapan, dan Manfaatnya

4. Gaya Penulisan 

Artikel ilmiah murni terikat aturan penulisan yang ketat. Gaya bahasa harus formal, penyajian data secara objektif, dan struktur menyesuaikan aturan yang berlaku. Misalnya format IMRaD. 

Berbeda halnya dengan karya ilmiah populer yang gaya penulisan lebih fleksibel. Meski sama-sama mengedepankan gaya bahasa formal dengan ragam kata baku. Namun tidak ada aturan ketat terkait struktur penulisan dan menambahkan opini diperbolehkan selama ada data pendukung. 

Baca juga artikel berikut: 9 Kesalahan Dosen dalam Melakukan Penulisan Jurnal dan Tips Menghindarinya

5. Referensi 

Perbedaan selanjutnya dari referensi atau lebih tepatnya ketentuan pencantuman referensi yang digunakan. Dalam artikel ilmiah murni, seluruh referensi wajib dicantumkan. Sementara di dalam karya ilmiah populer tidak dicantumkan secara eksplisit. Inilah alasan banyak yang sudah terpublikasi tidak ada daftar referensi. 

6. Struktur dan Panjang Tulisan 

Struktur penulisan artikel ilmiah murni lebih ketat, umumnya dengan format IMRaD. Sementara pada karya ilmiah populer lebih fleksibel. Sebab menyesuaikan dengan struktur umum artikel di media massa. Misalnya artikel berita, sehingga struktur penulisan mirip. 

Ciri-Ciri Artikel Ilmiah Populer 

Artikel ilmiah populer yang memiliki beberapa perbedaan dengan artikel ilmiah murni. Tentunya memiliki sejumlah karakteristik khas. Secara umum, berikut adalah karakteristik atau ciri-ciri dari artikel ilmiah di media massa tersebut: 

1. Memuat Data Ilmiah yang Disajikan Secara Populer (Umum) 

Artikel ilmiah di media massa juga wajib mencantumkan hasil penelitian, jika dosen ingin mengklaim di BKD dan penilaian angka kredit. Hanya saja, cara penyajiannya dilakukan secara populer atau lebih umum. 

Yakni disajikan dalam bentuk artikel yang relevan dimuat di media massa dan mirip dengan artikel lain di media massa tersebut. Data penelitian dipaparkan dalam bentuk teks sehingga membentuk susunan kalimat menjadi paragraf. 

2. Tulisan Dibuat Sederhana untuk Masyarakat Awam 

Artikel ilmiah populer pada jurnal cenderung formal dan kaku. Sehingga sulit dipahami oleh masyarakat awam. Oleh sebab itu, karya ilmiah populer mengedepankan tulisan sederhana. Sehingga isinya bisa dengan mudah dipahami setiap pembaca dengan berbagai latar belakang. 

Baca juga: Bentuk Kerangka Penulisan Karya Ilmiah dan Manfaatnya

3. Terbit pada Rubrik Khusus di Media Massa 

Ciri khas berikutnya, karya ilmiah populer terbit di rubrik khusus. MIsalnya pada koran, biasanya masuk di rubrik opini. Setiap media massa memiliki rubrik tersendiri dan nama masing-masing. Sehingga tidak selalu diberi tajuk karya ilmiah populer. 

4. Tulisan Murni Bersifat Informatif 

Karya ilmiah populer di media massa murni menyajikan data hasil penelitian dan data lain yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Sehingga tidak mengandung unsur lain. Seperti unsur ajakan atau persuasif, iklan atau promosi, dan sejenisnya. Murni menyajikan informasi. 

Baca juga: Pentingnya Kualitas Publikasi Ilmiah bagi Dosen, Berikut Strategi untuk Mencapainya 

5. Tidak Mencantumkan Referensi Secara Eksplisit 

Semua penjelasan sebelumnya, dosen saat menyusun karya ilmiah populer juga mengacu pada referensi. Namun umumnya daftar referensi tidak tercantum eksplisit pada tubuh artikel. 

6. Menyesuaikan Struktur dari Media Massa 

Ciri berikutnya, karya ilmiah populer memiliki struktur yang sesuai dengan ketentuan media massa. Begitu juga dengan aspek gaya penulisan lainnya. Inilah alasan secara tampilan karya ilmiah populer mirip dengan artikel lain yang terpublikasi di tanggal yang sama. 

Struktur Penulisan Artikel Ilmiah Populer di Media Massa 

Artikel ilmiah yang dimuat di media massa biasanya sudah mengikuti struktur penulisan yang ditetapkan media massa itu sendiri. Jadi, secara struktur pun dijumpai perbedaan yang signifikan. Berikut adalah struktur umum untuk artikel ilmiah di media massa: 

1. Judul Artikel Ilmiah dan Nama Penulis

Bagian pertama pada karya ilmiah populer adalah penulisan judul. Umumnya di bagian bawah judul tercantum nama penulis. Bagi dosen, ditambahkan informasi perguruan tinggi yang menjadi homebase. Khusus untuk judul, biasanya dibuat menarik tidak kaku seperti judul artikel ilmiah populer. 

2. Pembukaan 

Bagian kedua adalah pembukaan. Sebelum memaparkan hasil penelitian, biasanya dibuka dengan 2-3 paragraf yang memuat data terkait fenomena atau masalah yang menjadi topik utama. 

Baca juga artikel berikut: Cara Membuat Pendahuluan Artikel Jurnal Ilmiah dengan Efektif dan Efisien

3. Penjelasan Topik Penelitian 

Bagian ketiga, masuk ke pembahasan mengenai topik utama. Pada bagian ini, dosen yang menjadi penulis akan menjelaskan topik yang diteliti. Kemudian menjelaskan secara ringkas latar belakang meneliti topik tersebut. Umumnya juga mencakup penjelasan mengenai tujuan penelitian yang dilakukan. 

4. Penjelasan Temuan Penelitian dan Pembahasan 

Bagian berikutnya, dosen akan memaparkan hasil penelitian atau temuan dari penelitian yang dilakukan. Sehingga ada frasa “Berdasarkan hasil penelitian..” atau frasa dengan makna sejenis. Hasil penelitian umumnya disajikan dalam bentuk teks atau paragraf, jika ada visualisasi biasanya berbentuk ilustrasi dan grafik. 

Baca juga: Roadmap Penelitian untuk Membantu Memudahkan Publikasi Ilmiah

5. Implikasi dan Rekomendasi 

Bagian selanjutnya adalah implikasi dan rekomendasi. Pada bagian ini, dosen akan menjelaskan implikasi hasil penelitian di pihak-pihak relevan. Disusul dengan penjelasan mengenai rekomendasi penelitian lanjutan. 

6. Penutup

Bagian akhir adalah penutup. Biasanya antara 1-2 paragraf. Isinya menjelaskan kesimpulan secara ringkas. Seperti temuan penelitian dan bagaimana implikasinya. Bisa juga diisi kesimpulan penelitian yang disajikan ringkas tapi jelas. 

Contoh Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan 

Bagi para dosen yang ingin mempublikasikan hasil penelitian di media massa. Maka tentu bisa mulai mempelajari tata cara menyusun artikel ilmiah populer. Sebagai referensi, berikut salah satu contoh artikel ilmiah yang mengusung topik penelitian di bidang pendidikan: 

Penggunaan Gawai di Kelas: Membantu Siswa Belajar atau Justru Mengganggu Konsentrasi?

Oleh: Nama Penulis, Dosen Bidang Pendidikan

Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa era saat ini. Melalui telepon pintar, siswa dapat mengakses buku elektronik, menonton video pembelajaran, mencari referensi, hingga berdiskusi dengan teman. Namun, perangkat yang sama juga dapat membuka akses ke permainan, media sosial, dan berbagai hiburan yang mengalihkan perhatian dari kegiatan belajar.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi dunia pendidikan: apakah penggunaan gawai di kelas benar-benar membantu siswa belajar, atau justru mengganggu konsentrasi mereka?

Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut, sebuah penelitian dilakukan terhadap 120 siswa sekolah menengah atas di tiga sekolah. Penelitian menggunakan kuesioner untuk mengetahui pola penggunaan gawai selama pembelajaran dan kaitannya dengan konsentrasi belajar siswa.

Penggunaan Gawai Tidak Selalu Berdampak Sama

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78 dari 120 siswa atau 65% responden menggunakan gawai untuk mengakses materi pembelajaran ketika kegiatan belajar berlangsung. Aktivitas yang dilakukan antara lain mencari penjelasan tambahan, membaca materi digital, dan mengerjakan tugas melalui platform pembelajaran.

Kemudian di sisi lain terdapat 54 siswa atau 45% responden mengaku pernah membuka media sosial atau aplikasi hiburan ketika pembelajaran sedang berlangsung. Kedua kelompok ini tidak harus terpisah karena seorang siswa dapat menggunakan gawai untuk belajar sekaligus mengakses hiburan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa gawai memiliki dua sisi dalam lingkungan pendidikan. Perangkat ini dapat membantu siswa memperoleh informasi, tetapi juga berpotensi mengalihkan perhatian apabila digunakan di luar tujuan pembelajaran.

Oleh karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah siswa boleh menggunakan gawai, melainkan bagaimana penggunaan tersebut diarahkan. Artinya perlu pendampingan sekaligus pengawasan. 

Konsentrasi Belajar Perlu Mendapat Perhatian

Penelitian yang sama juga mengelompokkan siswa berdasarkan kebiasaan penggunaan gawai. Siswa yang lebih sering menggunakan gawai untuk aktivitas di luar pembelajaran cenderung melaporkan lebih banyak gangguan konsentrasi dibandingkan siswa yang menggunakannya terutama untuk kegiatan akademik.

Akan tetapi, hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati. Jika penelitian hanya menggunakan kuesioner pada satu periode, hubungan yang ditemukan belum membuktikan bahwa penggunaan gawai secara langsung menyebabkan penurunan konsentrasi. 

Faktor lain, seperti kebiasaan belajar, lingkungan kelas, kualitas pembelajaran, dan kemampuan mengatur waktu, juga mungkin berperan. Penjelasan ini penting agar temuan penelitian tidak disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa semua penggunaan gawai berdampak buruk bagi siswa.

Larangan Saja Belum Tentu Menjadi Solusi

Temuan tersebut memberikan bahan pertimbangan bagi guru dan sekolah dalam menyusun kebijakan penggunaan gawai. Larangan menyeluruh mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik, terutama ketika perangkat digital dibutuhkan untuk mengakses sumber belajar.

Alternatifnya, guru dapat menetapkan aturan penggunaan gawai sesuai tujuan kegiatan. Ketika siswa diminta mencari informasi, perangkat dapat digunakan untuk mengakses sumber yang relevan. Namun, ketika guru menjelaskan konsep yang memerlukan perhatian penuh, notifikasi dan aplikasi yang tidak berkaitan dengan pembelajaran dapat dinonaktifkan.

Guru juga dapat merancang tugas yang menuntut siswa mengevaluasi informasi, membandingkan sumber, dan menyusun kesimpulan sendiri. Dengan demikian, gawai berfungsi sebagai alat untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar sarana memperoleh jawaban dengan cepat.

Sekolah dan orang tua pun dapat bekerja sama membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.

Mengubah Teknologi Menjadi Sarana Belajar

Perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi benar-benar mendukung tujuan pembelajaran, bukan sekadar menjadi simbol modernisasi sekolah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan gawai untuk belajar dan penggunaan untuk hiburan perlu dibedakan ketika mengevaluasi pengalaman belajar siswa. Namun, untuk menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap konsentrasi dan prestasi akademik, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan pengukuran yang lebih terarah.

Pada akhirnya, teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik atau lebih buruk. Dampaknya bergantung pada tujuan penggunaan, kemampuan siswa mengelola perhatian, serta cara guru merancang kegiatan belajar. Tugas pendidikan bukan hanya mengenalkan teknologi kepada siswa, melainkan juga membekali mereka kemampuan untuk menggunakannya secara bijak.

Bagi para dosen yang ingin mengasah keterampilan menyusun karya tulis ilmiah, termasuk artikel ilmiah untuk dipublikasikan ke media massa. Maka bisa mengikuti program E-Course Smart Lecturer di Era Digital yang diselenggarakan Dunia Dosen. 

Melalui E-Course ini, para dosen akan mendapat akses materi secara lifetime yang fokus membahas era digital dan peran dosen menjadi smart lecturer. Sehingga bisa memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung mutu proses dan hasil kinerja tri dharma.

sumber: 

  1. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/KEP/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf
  2. Talia, A. K. (2024). Perbedaan Antara Artikel Ilmiah Dan Artikel Populer. Diakses pada 14 Oktober 2026 dari https://rri.co.id/fak-fak/berita-lain/774188/perbedaan-antara-artikel-ilmiah-dan-artikel-populer

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer