7 Cara Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah Dosen Lengkap Beserta Indikatornya!

cara-meningkatkan-kualitas-publikasi-ilmiah
7 Cara Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah Dosen Lengkap Beserta Indikatornya!

Kualitas publikasi ilmiah seorang dosen, tentu menjadi gambaran kualitas publikasi dan kinerja tri dharma perguruan tinggi yang menaungi. Hanya saja, ada banyak tantangan yang dihadapi oleh dosen. Mulai dari keterbatasan pendanaan, kesulitan menembus media publikasi bereputasi, dan sebagainya. Berikut informasinya. 

Kenapa Kualitas Publikasi Ilmiah Dosen Harus Terus Ditingkatkan?

Publikasi ilmiah dalam bentuk prosiding, jurnal, sampai buku ilmiah dan karya ilmiah populer menjadi agenda rutin semua dosen di Indonesia. Selain dianjurkan rutin mengurus publikasi, kualitas dan kuantitasnya juga perlu terus dikembangkan. Berikut alasannya:  

1. Menunjukan Kinerja Akademik yang Optimal 

Dari kegiatan tri dharma yang berkualitas, maka akan menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas juga. Optimasi kualitas ini menunjukan dosen memiliki kinerja akademik yang baik dan juga optimal. 

Artinya, selain menjalankan kewajiban akademik secara rutin dan kontinyu. Dosen tersebut juga mampu melaksanakan kegiatan akademik yang menarik dan berkualitas. Baik untuk pendidikan, penelitian, sampai pengabdian kepada masyarakat (PkM). 

Baca juga: 7 Hal yang Menunjukan Pentingnya Publikasi Jurnal bagi Dosen 

2. Meningkatkan Reputasi Akademik Dosen dan Institusi 

Sejalan dengan alasan di poin pertama, maka alasan kedua publikasi ilmiah perlu terus ditingkatkan kualitasnya adalah untuk meningkatkan reputasi akademik. Baik dosen sendiri maupun perguruan tinggi tempatnya mengabdi. 

Memiliki kuantitas dan kualitas dari publikasi ilmiah yang optimal diakui tidak mudah. Jika berhasil dicapai maka tentu menunjukan kompetensi dosen yang mumpuni. Serta dukungan perguruan tinggi sebagai homebase dosen yang optimal. Dampaknya, reputasi akademik keduanya menguat. 

3. Akselerasi Pemenuhan BKD 

Jika dicermati, semakin tinggi kualitasnya maka semakin besar bobot SKS publikasi ilmiah tersebut. Misalnya mengacu pada PO BKD 2021, publikasi di jurnal internasional bereputasi punya bobot 10 SKS. Sementara pada jurnal nasional terakreditasi, maksimal di 6,25 SKS. 

Dengan mengoptimalkan kualitas maka dosen bisa lebih mudah dan lebih cepat memenuhi target BKD. Semakin cepat dipenuhi, semakin mendukung dosen beralih fokus ke agenda akademik lain. 

Baca juga: Publikasi Karya Ilmiah Menjadi Syarat Naik Jabatan di Setiap Jenjang

4. Optimasi Perolehan Angka Kredit 

Tingkat kualitas publikasi ilmiah dosen juga mempengaruhi poin angka kredit yang didapatkan. Mengacu pada Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, publikasi di jurnal internasional bereputasi peringkat Q1 memberi dosen 40 poin angka kredit. Jika di peringkat Q2 maka memberi 38 poin. Jadi, optimasi kualitas dalam publikasi ilmiah membantu dosen mengoptimalkan AK Kumulatif. Sehingga dosen bisa segera mengembangkan jenjang jabatan fungsional.

Baca juga: Ketentuan dan Cara Pemenuhan Angka Kredit Penelitian (AK Prestasi) 

5. Meningkatkan Peluang Meraih Hibah 

Alasan kelima, publikasi ilmiah dosen yang punya mutu tinggi dan diakui semua pihak. Maka akan menguatkan reputasi, kinerja, dan juga portofolio akademik dosen. Salah satu dampak positifnya adalah dosen lebih mudah mengakses hibah dan meraih hibah tersebut. 

6. Kemudahan Membangun Jaringan dan Berkolaborasi 

Dosen dengan rekam jejak publikasi ilmiah berkualitas tinggi, tentunya lebih mudah dikenal oleh dosen lain. Termasuk juga peneliti profesional dan kalangan mahasiswa. Sebab semakin berkualitas publikasi yang dihasilkan, visibilitasnya tinggi. 

Dosen pun dengan mudah memiliki jaringan yang luas. Sehingga berpeluang rutin melakukan kolaborasi. Baik menawarkan kolaborasi maupun menerima tawaran kolaborasi. Semakin sering berkolaborasi, semakin meningkat pula kualitas publikasi yang dihasilkan. Sebab tri dharma dan publikasi dikerjakan bersama-sama. 

7. Menunjang Penilaian Akreditasi, Klasterisasi, dan Pemeringkatan Institusi 

Alasan lainnya, lewat optimasi publikasi ilmiah maka dosen bisa berkontribusi dalam mengembangkan perguruan tinggi tempatnya bernaung. Sebab kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah dosen juga menjadi kinerja akademik perguruan tinggi. 

Semakin optimal kualitas dan kuantitasnya, maka penilaian akreditasi perguruan tinggi juga ikut optimal. Begitu juga dalam penilaian klasterisasi dari Kemdiktisaintek. Serta pemeringkatan institusi, baik dalam tingkat nasional maupun global. 

Faktor yang Menentukan Kualitas Publikasi Ilmiah 

Kualitas dari publikasi ilmiah yang dihasilkan dosen tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi dosen itu sendiri. Ada cukup banyak faktor yang ikut mempengaruhi kualitas tersebut. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Kualitas Kegiatan Tri Dharma 

Faktor yang pertama datang dari pihak dosen sendiri. Yakni kualitas dari kegiatan tri dharma yang dijalankan oleh dosen. Semakin dosen kompeten, semakin berkualitas kegiatan tri dharma saat dijalankan. 

Jika pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan PkM sudah optimal kualitasnya. Maka hasil publikasi ilmiahnya juga cenderung optimal. Begitu juga sebaliknya, kualitas tri dharma yang kurang optimal bisa mempengaruhi penurunan kualitas publikasi. 

2. Fasilitas yang Mendukung Pelaksanaan Tri Dharma 

Ketersediaan fasilitas dalam kuantitas dan kualitas yang memadai ikut andil dalam menentukan kualitas tri dharma. Sehingga ikut mempengaruhi kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan dosen. 

Sebagai contoh, dosen mendapat dukungan dari perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan industri dalam penelitian. Sehingga kualitas penelitian optimal, dan kualitas luaran berbentuk publikasi ilmiah juga ikut memuaskan. 

3. Keterampilan Dosen dalam Menulis KTI 

Karya tulis ilmiah (KTI) yang berkualitas, cenderung lebih mudah diterima oleh publisher kredibel dan bereputasi tinggi. Sebab keterbacaan dan kualitas substansi naskah KTI yang mudah dipahami akan menjadi pertimbangan. Jika dosen tidak punya kemampuan menuangkannya dalam KTI. Maka akan sulit menembus media publikasi bereputasi tinggi.

Layanan Konversi KTI: Konversikan KTI Menjadi Buku & Dapatkan Angka Kredit!

4. Kemampuan Bahasa 

Kemampuan bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing seperti bahasa Inggris ikut berperan. Jika menargetkan jurnal internasional bereputasi, maka manuskrip akan disusun dalam bahasa PBB terutama bahasa Inggris. Jadi, jika bahasa Inggris dosen kurang optimal maka kualitas gaya bahasa dalam manuskrip juga tidak optimal.

5. Kebijakan Institusi dan Pemerintah 

Dalam optimasi kinerja akademik dan kualitas dari publikasi ilmiah, dosen tidak bisa mengusahakannya sendiri. Butuh dukungan dari semua pihak. Termasuk kebijakan perguruan tinggi sampai pemerintah. Jika dosen dimudahkan mengakses fasilitas penelitian, pendanaan, dan sebagainya. Maka optimasi publikasi lebih mudah. 

6. Ketersediaan Pendanaan 

Faktor berikutnya adalah ketersediaan pendanaan. Harus diakui, semakin tinggi kredibilitas media publikasi ilmiah. Maka semakin tinggi biaya publikasi yang ditanggung dosen. Jika pendanaan terbatas, dosen akan sulit memenuhi biaya publikasi tersebut. Sehingga kualitas publikasi tidak bisa dioptimalkan. 

7. Kemampuan Menggunakan Teknologi 

Penggunaan teknologi yang tepat bisa membantu dosen mengoptimalkan kualitas naskah KTI dan berujung pada optimasi kualitas publikasi ilmiah. Jadi, mengenal dan mampu menggunakan teknologi terkini sangat penting agar menunjang optimasi kualitas publikasi yang dihasilkan. 

8. Kemampuan dalam Berkolaborasi 

Faktor berikutnya adalah kemampuan dan kesempatan dosen dalam berkolaborasi. Kolaborasi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan mutu tri dharma dan publikasi ilmiah yang dihasilkan. 

9. Kualitas Tata Kelola Publisher atau Penerbit 

Faktor lainnya adalah kualitas tata kelola dari pihak publisher. Seperti pengelola prosiding, jurnal, dan perusahaan penerbit buku. Jika suatu jurnal sudah terindeks Scopus dan kemudian menurunkan kualitas tata kelola. 

Misalnya dengan menerbitkan semua artikel yang diterima. Maka tentu ada indikasi terjadi praktek jurnal predator. Jurnal tersebut awalnya bereputasi, oleh Scopus bisa masuk daftar jurnal discontinued. Publikasi ilmiah dosen di dalamnya tidak lagi disebut kualitas tinggi. 

Indikator Publikasi Ilmiah Bisa Disebut Berkualitas 

Dalam optimasi kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh para dosen, tidak hanya memperhatikan faktor apa saja yang mempengaruhinya. Akan tetapi juga memperhatikan indikator suatu publikasi ilmiah dikatakan berkualitas. Secara umum, terdapat 4 indikator. Berikut penjelasannya: 

1. Orisinil 

Indikator yang pertama adalah orisinil. Baik dalam kegiatan tri dharma maupun naskah KTI yang akan dipublikasikan sebagai luarannya. Misalnya, jika penelitian orisinil maka akan menghasilkan naskah KTI orisinil juga. Sehingga berdampak lebih nyata dan mudah menembus media publikasi bereputasi tinggi. 

2. Metode Penelitian Kuat 

Masih dalam penelitian, salah satu indikator publikasi ilmiah yang dihasilkan berkualitas adalah memiliki metode penelitian yang kuat. Jadi, metode penelitian yang dipilih tepat dan bisa dijelaskan dengan baik. Sehingga pembaca bisa mengetahui bagaimana penelitian tersebut dilakukan dan seperti apa hasilnya. 

3. Relevan dengan Perkembangan Jaman 

Indikator yang ketiga, relevan dengan perkembangan jaman. Kualitas dari publikasi ilmiah bisa maksimal ketika urgensi tinggi. Sebab isi publikasi tersebut adalah solusi dan jawaban dari masalah yang dihadapi masyarakat saat ini. Bukan membahas masalah di masa lalu dan masalah yang sudah berhasil diselesaikan. 

4. Struktur dan Gaya Penulisan Baik 

Indikator terakhir adalah struktur dan gaya penulisan KTI sudah baik. Keterbacaan naskah KTI sudah optimal, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami. Oleh sebab itu, kemampuan bahasa dosen perlu ditingkatkan. Sehingga keterbacaan naskah KTI yang disusun bisa optimal dan dinilai layak terbit oleh publisher. 

Tata Cara Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah 

Meraih kualitas publikasi ilmiah yang tinggi tidak bisa instan. Dosen butuh waktu untuk bisa terus mengembangkan kualitas tersebut. Sehingga perlu menyusun strategi agar optimasi kualitas bisa maksimal dan bisa dicapai. Berikut beberapa tata caranya: 

1. Meningkatkan Kompetensi Melaksanakan Tri Dharma 

Kompetensi bisa ditingkatkan dengan ikut program pelatihan, studi lanjut, dan rutin melaksanakan tri dharma. Sebab ketika dosen rutin menjalankan pengajaran, maka akan semakin terampil dalam proses transfer ilmu. Hal ini juga berlaku untuk pelaksanaan penelitian maupun kegiatan PkM. 

2. Meningkatkan Kemampuan Menulis KTI 

Kualitas KTI bisa optimal selama keterampilan dosen dalam menulis juga sudah optimal. Dosen bisa rutin mengikuti pelatihan maupun workshop kepenulisan. Kemudian aktif menulis, dimulai dari KTI yang sederhana dan mudah diterbitkan.

3. Menyusun Roadmap Penelitian 

Dalam roadmap ada rencana kegiatan penelitian dalam 5 sampai 25 tahun ke depan. Sehingga ada target luaran berbentuk publikasi ilmiah di dalamnya. Kemudian bisa diatur bertahap agar berurutan dari publikasi termudah sampai yang tersulit.

Roadmap ini memandu dosen untuk mengurus publikasi ilmiah secara sistematis, realistis, dan tentunya mudah untuk dicapai. Sejalan dengan pelaksanaan penelitian, maka kualitas dari publikasi yang dihasilkan juga ikut berkembang. 

Baca juga: Cara Membuat Roadmap Penelitian dan Contohnya

4. Teliti dan Bijak dalam Memilih Media Publikasi 

Kualitas KTI bisa saja optimal, akan tetapi jika diterbitkan ke jurnal yang tidak melakukan peer review, maka tentu kualitas publikasi menjadi di bawah standar. Oleh sebab itu, memahami tata cara memilih media publikasi yang benar sangat penting. Kemudian lebih bijak dalam memilih, usahakan tidak sekedar ikut rekan sejawat. Akan tetapi sudah meriset media publikasi tujuan agar bisa dipastikan kredibel. 

5. Meningkatkan Kemampuan Bahasa 

Kemampuan bahasa perlu ditingkatkan. Khususnya bahasa asing yang diakui PBB untuk menunjang publikasi ilmiah berkualitas di tingkat global. Dosen bisa mengutamakan bahasa Inggris, karena publikasi dalam bahasa ini cenderung punya visibilitas lebih tinggi. Ikut kursus bahasa Inggris sangat dianjurkan. 

6. Aktif Meraih Hibah 

Kualitas publikasi ilmiah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pendanaan. Sebab biaya APC di jurnal internasional bereputasi Q1 bisa setara dengan harga satu unit mobil. Jadi, akses ke program hibah secara rutin dan dari berbagai pihak bisa menunjang optimasi kualitas publikasi yang dihasilkan. 

7. Rajin Berkolaborasi 

Dengan kolaborasi inilah dosen bisa meningkatkan kualitas kegiatan tri dharma. Sekaligus kualitas luaran dalam bentuk publikasi ilmiah. Sebab saling bertukar kepakaran, fasilitas akademik, dan sebagainya. 

Dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah para dosen perlu menyusun strategi dan menguatkan ketekunan serta kesabaran. Sebab publikasi ilmiah yang berkualitas seringnya butuh proses panjang, sulit, dan rumit. Oleh sebab itu, menerapkan beberapa cara yang dijelaskan di atas bisa membantu meningkatkan kualitas secara pelan tapi pasti.

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer