Memahami Prinsip dan Karakteristik Kurikulum OBE, serta Implementasinya Melalui RPS

prinsip-dan-karakteristik-kurikulum-obe
Memahami Prinsip dan Karakteristik Kurikulum OBE, serta Implementasinya Melalui RPS

Memahami pengertian hingga prinsip dan karakteristik kurikulum OBE tentunya menjadi hal penting bagi para dosen. Sebab pemahaman ini nantinya juga mempengaruhi pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajaran. Termasuk menyusun RPS berbasis OBE. 

Menyusun RPS berbasis OBE menjadi bagian dari proses implementasi atau penerapan kurikulum OBE tersebut. Menyusunnya tentu tidak mudah, apalagi terdapat perbedaan signifikan dengan RPS kurikulum lama. Berikut informasinya. 

Apa Itu Kurikulum OBE? 

Membahas prinsip dan karakteristik kurikulum OBE, tentunya dimulai dari definisi kurikulum OBE itu sendiri. Kurikulum OBE adalah kurikulum yang berfokus pada hasil belajar (learning outcomes) yang harus dicapai peserta didik (mahasiswa) setelah menyelesaikan studi. 

Outcome atau hasil belajar tersebut dinilai tercapai tidaknya dari tingkat mata kuliah. Misalnya dalam satu semester, mahasiswa mengambil 6 mata kuliah. Masing-masing mata kuliah memiliki target hasil belajar tersendiri. Sekaligus wajib dicapai mahasiswa. 

Disusul dinilai dari masa akhir studi atau ketika mahasiswa tersebut lulus dari suatu program studi (jurusan). Jadi, mahasiswa setelah menyelesaikan studi diharapkan bisa menguasai ilmu pengetahuan sesuai prodi yang diambil. Sekaligus menguasai kompetensi sesuai prodi tersebut yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau industri. 

Baca juga: Tahapan Menyusun RPS OBE dengan Backward Design Beserta Contohnya

Prinsip dan Karakteristik Kurikulum OBE 

Dalam memahami dan menerapkan kurikulum OBE, maka tentunya para dosen perlu memahami prinsip dan karakteristik kurikulum OBE tersebut. Prinsipnya sendiri secara umum ada 4, yaitu: 

1. Clarity of Focus (Fokus yang Jelas)

Prinsip yang pertama dalam kurikulum OBE adalah memiliki fokus yang jelas. Mencakup Profil Lulusan dan penetapan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Sehingga seluruh kegiatan implementasinya berfokus pada dua hal tersebut. 

Mulai dari kegiatan pembelajaran sesuai RPS OBE, kebijakan perguruan tinggi, dan lain sebagainya. Inilah alasan kenapa kurikulum OBE disebut menggunakan pendekatan yang fokus pada outcomes (hasil pembelajaran). 

2. Designing Backwards (Rancangan Mundur)

Prinsip kedua, kurikulum OBE diterapkan dengan Rancangan Mundur atau Designing Backwards. Sebab dimulai dari menentukan CPL, kemudian baru ke aspek di bawahnya. 

Dalam RPS misalnya, dosen menganalisis CPL mana saja yang bisa dicapai oleh materi pada mata kuliah yang diampu. Sehingga dari CPL dirumuskan menjadi CPMK dan Sub-CPMK. Bukan sebaliknya, yang menggunakan Rancangan Maju (Forward Design). 

Baca juga: Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Perbedaannya dengan Sub-CPMK

3. High Expectations (Ekspektasi yang Tinggi)

Prinsip ketiga dalam kurikulum OBE adalah memiliki ekspektasi tinggi. Kurikulum ini menganggap semua peserta didik atau mahasiswa bisa meraih pencapaian yang sama dan untuk capaian level tinggi (bukan level dasar). 

Meskipun masing-masing butuh proses dan waktu pencapaian berbeda, hal ini dipandang lumrah dalam kurikulum OBE. Para dosen diminta untuk memberi dukungan atau memfasilitasi mahasiswa meraih capaian tersebut. 

3. Expanded Opportunities (Kesempatan yang Luas)

Prinsip terakhir atau yang keempat adalah memberi kesempatan yang luas. Artinya, dalam kurikulum ini dipahami setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan kebutuhan waktu tersendiri untuk meraih capaian di tingkat yang sama. 

Sehingga kurikulum OBE memberi ruang gerak yang leluasa bagi mahasiswa untuk mendapat fasilitas dan dukungan lebih. Supaya bisa meraih capaian belajar (outcomes) yang ditargetkan. 

Sedangkan karakteristik kurikulum OBE sendiri jika dibandingkan dengan kurikulum terdahulu di pendidikan tinggi Indonesia. Maka ada 4 poin yang menjadi karakteristik khasnya, yaitu: 

a. Memiliki Tujuan Pembelajaran yang Jelas 

Karakteristik khas yang pertama dari kurikulum OBE adalah memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Secara mendasar, kurikulum ini mendorong mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan secara teori dan kompetensi (keterampilan praktis). Sehingga keterampilan yang dikuasai mahasiswa harus jelas, spesifik, dan terukur. 

b. Kurikulum Selaras dengan Tujuan Perguruan Tinggi 

Karakteristik yang kedua, kurikulum OBE memiliki tujuan yang selaras dengan tujuan atau visi dan misi perguruan tinggi. Artinya, kurikulum OBE fleksibel dan bisa disesuaikan dengan visi misi setiap perguruan tinggi di Indonesia. 

Misalnya, perguruan tinggi membuka prodi pendidikan. Maka setiap lulusan diharapkan menguasai kompetensi sebagai pendidik dan terserap di berbagai institusi pendidikan. Kurikulum OBE diimplementasikan sejalan dengan visi misi tersebut. 

c. Menggunakan Pendekatan yang Berpusat pada Mahasiswa

Karakteristik ketiga, kurikulum OBE menjadikan kegiatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Mulai dari metode pembelajaran yang ditetapkan dosen, selalu menjadikan mahasiswa sebagai pusat dan lebih aktif dibanding dosen. 

Disusul dengan tujuan pembelajaran, yakni mahasiswa mengusap kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga kurikulum OBE berfokus pada mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran sampai terserap dunia kerja dengan mudah setelah menyelesaikan studi. 

d. Penilaian Berdasarkan Hasil Pembelajaran 

Karakteristik keempat, kurikulum OBE melakukan asesmen atau penilaian berdasarkan hasil pembelajaran. Hasil disini berbentuk kompetensi yang dikuasai mahasiswa. Sehingga bentuk penilaian berbasis proyek, portofolio, dan sejenisnya. Bukan lagi mengukur pemahaman mahasiswa pada materi pembelajaran. 

Baca juga: Mengenal Pilihan Metode Pembelajaran Dosen yang Sesuai dengan RPS OBE

Hubungan Kurikulum OBE dengan RPS OBE 

Selain membahas prinsip dan karakteristik kurikulum OBE, tentunya akan membahas juga mengenai RPS berbasis OBE. Sebab salah satu bagian dari implementasi atau penerapan kurikulum OBE tersebut adalah menyusun RPS OBE yang dilakukan para dosen. 

Meskipun RPS OBE bukan satu-satunya bentuk implementasi kurikulum OBE. Namun, tanpa RPS Yang disusun dosen pengampu mata kuliah maka implementasi kurikulum OBE bisa tersendat. 

RPS berbasis OBE memiliki fungsi menerjemahkan rancangan kurikulum OBE ke dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum OBE mendorong mahasiswa menguasai kompetensi. Kompetensi ini bisa diasah melalui kegiatan pembelajaran bersama dampingan dosen. 

Dalam satu program studi atau jurusan, mahasiswa akan mengambil beberapa mata kuliah. Rata-rata dalam satu semester ada sekitar 6-8 mata kuliah. Masing-masing mata kuliah tersebut mendorong mahasiswa menguasai sejumlah kompetensi. Pada semester akhir, seluruh kompetensi tersebut merupakan cermin dari CPL yang dicapai oleh mahasiswa. 

Perbedaan RPS OBE dengan RPS Kurikulum Lama 

Prinsip dan karakteristik kurikulum OBE tentunya berbeda dengan kurikulum lain yang pernah diterapkan di Indonesia. Salah satunya, jika dibandingkan dengan kurikulum berbasis KKNI maka akan dijumpai perbedaan signifikan. 

Perbedaan ini kemudian ikut mempengaruhi susunan RPS. RPS berbasis OBE memiliki sejumlah perbedaan dengan RPS berbasis KKNI. Berikut beberapa perbedaan tersebut: 

1. Tujuan Pembelajaran 

Perbedaan yang pertama antara RPS berbasis OBE dengan berbasis KKNI adalah pada tujuan pembelajaran. Pada kurikulum KKNI, tujuan pembelajaran adalah mendorong mahasiswa mencapai keterampilan sesuai jenjang pendidikan tinggi yang ditempuh. 

Capaian tersebut mengacu pada Perpres No. 8 Tahun 2012 dan juga Permendikbud No. 73 Tahun 2013. Sementara tujuan pembelajaran pada RPS OBE adalah memastikan mahasiswa menguasai kompetensi sebagai outcomes atau hasil pembelajaran. 

2. Desain Pendekatan Pembelajaran 

Poin kedua yang membedakan RPS OBE dengan RPS KKNI adalah desain pendekatan pembelajaran. Pada RPS KKNI menggunakan forward design sehingga kegiatan pembelajaran dimulai dari penentuan materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan hasil pemahaman materi pembelajaran tersebut. 

Berbeda halnya dengan desain pendekatan pembelajaran di RPS OBE yang memakai  backward design. Sehingga dalam merancang kegiatan pembelajaran dosen mengecek dulu target CPL. 

Kemudian menganalisis mata kuliah yang diampu bisa berkontribusi mendorong mahasiswa mencapai CPL yang mana. Selanjutnya baru menentukan materi pembelajaran, metode pembelajaran, asesmen berbasis outcome, dll. 

Baca juga: Mengenal Definisi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Kriterianya dalam SN-Dikti 

3. Metode Pembelajaran 

Berikutnya adalah perbedaan pada metode pembelajaran di dalam RPS yang berbeda. Pada RPS berbasis KKNI, metode pembelajaran menjadikan dosen sebagai pusat. Sedangkan pada RPS OBE sebaliknya, mahasiswa menjadi pusat kegiatan pembelajaran. 

4. Asesmen atau Penilaian 

Perbedaan lainnya adalah pada bentuk dan tujuan penilaian. Pada RPS KKNI, penilaian melalui ujian tertulis dengan tujuan menilai tingkat pemahaman mahasiswa pada materi pembelajaran. 

Sedangkan pada RPS OBE, penilaian fokus pada seberapa baik kompetensi dikuasai mahasiswa. Sehingga penilaian menggunakan rubrik khusus dan berbasis pada proyek, portofolio, dll. 

Manfaat Penyusunan RPS Berbasis OBE 

Menyusun RPS berbasis OBE tentunya harus relevan dengan prinsip dan karakteristik kurikulum OBE itu sendiri. Sehingga ada kesesuaian atau keselarasan antara CPL  dengan CPMK. CPL ditetapkan perguruan tinggi, sedangkan CMPK dan turunannya seperti Sub-CPMK ditetapkan atau dirumuskan dosen pengampu mata kuliah. 

Menyusun RPS berbasis OBE tentunya bukan sekedar agenda akademik yang rutin dilakukan dosen. Menyusunnya memberikan manfaat bagi banyak pihak. Diantaranya adalah: 

1. Membantu Dosen Melaksanakan Pengajaran 

RPS yang disusun oleh dosen, tentunya memberi manfaat bagi dosen itu sendiri. Salah satunya membantu dosen dalam melaksanakan tugas pokok pendidikan dan pengajaran. Sifatnya wajib dan menjadi bagian dari target BKD yang harus dipenuhi. 

Selain itu, menjalankan pengajaran bukan hal yang mudah. Dosen harus menentukan materi yang akan disampaikan, metode pembelajarannya, bentuk pembelajarannya, dll. RPS membantu merancang rencana pembelajaran dari jauh-jauh hari. 

2. Meningkatkan Mutu Pembelajaran yang Diakses Mahasiswa 

Manfaat RPS berbasis OBE berikutnya dirasakan oleh kalangan mahasiswa. Mahasiswa masuk ke perguruan tinggi untuk mengakses pendidikan bermutu. RPS OBE membantu mahasiswa mendapatkan akses tersebut. 

Sebab dosen bisa menyiapkan perkuliahan sebaik mungkin dan mendorong mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. RPS pun bisa disebut sebagai media dan sarana yang mendorong peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran di perguruan tinggi. 

Baca juga: Langkah-Langkah Menyusun RPS dengan Benar

3. Memastikan Materi Perkuliahan Tersampaikan Secara Tuntas 

Manfaat berikutnya adalah untuk dosen dan mahasiswa. RPS OBE yang disusun dosen, membantu memastikan seluruh materi pada mata kuliah yang diampu bisa tersampaikan. 

Sehingga tuntas dan mendorong mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan dan kompetensi yang sesuai target awal. Mahasiswa pun bisa memastikan sudah mendapatkan materi secara keseluruhan, sebab bisa mengecek di daftar materi pada RPS. 

4. Mahasiswa Memahami Proses Perkuliahan 

Manfaat RPS OBE berikutnya adalah membantu mahasiswa memahami proses perkuliahan. RPS yang disusun dosen bisa diakses mahasiswa dari awal semester. Sehingga mahasiswa bisa mengetahui per semester besok ada berapa pertemuan, setiap pertemuan membahas apa, asesmen bagaimana, dll. 

Baca juga: E-Course RPS OBE Dunia Dosen: Solusi Praktis Menguasai Penyusunan RPS Berbasis OBE

5. Mahasiswa Mendapat Rekomendasi Pegangan Pembelajaran 

Manfaat lainnya, mahasiswa melalui RPS OBE bisa mendapat rekomendasi pegangan pembelajaran. Misalnya dari daftar pustaka yang digunakan dosen. Bisa juga dengan melihat materi pada RPS kemudian mencari referensi yang sesuai dari berbagai sumber. 

Menyusun RPS OBE yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik kurikulum OBE adalah hal penting bagi dosen. RPS ini bermanfaat untuk dosen sendiri, mahasiswa, maupun perguruan tinggi. Sehingga menyusunnya menjadi kebutuhan sekaligus juga kewajiban bagi dosen. 

Jika ada kesulitan, konsultasi dengan pimpinan dan aktif ikut pelatihan terkait RPS berbasis OBE sangat disarankan. Sebab komponen dalam RPS OBE lebih kompleks dan butuh waktu lebih untuk menyusunnya sesuai ketentuan.

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer