Pengertian, Fungsi, Langkah-Langkah Menulis Abstrak Jurnal, dan Contohnya

abstrak-jurnal
Pengertian, Fungsi, Langkah-Langkah Menulis Abstrak Jurnal, dan Contohnya

Pada saat menyusun karya tulis ilmiah yang berisi hasil penelitian, maka biasanya akan terdapat abstrak. Sebab abstrak menjadi bagian dari struktur atau sistematika penulisan KTI tersebut. Termasuk abstrak jurnal atau abstrak pada artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal. 

Bagi akademisi, baik dosen maupun mahasiswa tentunya penting untuk memahami apa dan bagaimana cara menyusun abstrak. Sebab familiar dengan KTI yang isinya menjelaskan hasil penelitian. Berikut informasinya. 

Pengertian dan Substansi Abstrak Artikel Ilmiah 

Kata abstrak sendiri merupakan salah satu jenis kata serapan dari bahasa Inggris, yakni dari kata “abstract”. Dalam KBBI, abstrak adalah ikhtisar dari karangan, laporan, atau karya ilmiah lainnya. 

Dalam konteks karya tulis ilmiah (KTI), abstrak adalah ringkasan atau intisari dari karya tulis ilmiah. Abstrak kemudian menjadi bagian dari struktur umum penulisan KTI, khususnya yang berisi hasil penelitian. Seperti tugas akhir (skripsi, tesis, dan disertasi), artikel prosiding, abstrak jurnal (artikel jurnal), dan laporan penelitian. Adapun isi atau substansinya adalah: 

1. Latar Belakang 

Isi atau substansi abstrak pada artikel jurnal yang pertama adalah menjelaskan latar belakang penelitian yang dilakukan penulis. Biasanya mencantumkan informasi topik penelitian dan alasan memilih topik tersebut secara sekilas. 

2. Tujuan Penelitian 

Isi kedua dari abstrak adalah menjelaskan tujuan penelitian. Setelah menjelaskan topik dan alasan memilihnya. Maka penelitian yang dilakukan tentunya harus punya tujuan. Misalnya mencari solusi atas masalah yang menjadi topik yang diteliti. Tujuan ini dijelaskan secara ringkas pada abstrak.

3. Metode Penelitian 

Isi selanjutnya, penulis artikel jurnal ilmiah juga harus menjelaskan metode penelitian yang digunakan. Apakah penelitian kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran keduanya. Kemudian menjelaskan sekilas alasan pemilihan metode tersebut, data sumbernya dari mana, instrumen penelitian, dll. 

4. Hasil Penelitian 

Abstrak juga harus memuat hasil dari penelitian yang telah dilakukan secara sekilas. Penjelasan ini disampaikan setelah menjelaskan secara rinci tapi ringkas mengenai metode penelitian yang digunakan. Pada abstrak jurnal, hasil penelitian menjadi substansi inti. Sehingga wajib ada dan jangan sampai terlewat. 

5. Simpulan 

Abstrak umumnya juga mencantumkan kesimpulan, yaitu rangkuman sekilas dari penelitian yang telah dilakukan. Namun, karena abstrak ada ketentuan batas jumlah kata. Biasanya substansi ini diisi penulis dengan informasi saran atau rekomendasi atas pemanfaatan hasil penelitian. 

Abstrak pada KTI berisi hasil penelitian biasanya ditutup dengan kata kunci (keyword). Selain itu, meski ada 5 substansi di atas. Namun, abstrak perlu disusun ringkas dan padat. Sebab ada batasan jumlah kata, rata-rata antara 150 kata sampai maksimal di 300 kata. 

Baca juga: 4 Perbedaan Abstrak dan Kesimpulan pada Jurnal

Fungsi Abstrak pada Artikel Jurnal Ilmiah 

Abstrak jurnal ilmiah dan pada KTI jenis lainnya tentu bukan sekedar pemanis dalam struktur penulisan. Abstrak memiliki sejumlah fungsi khusus yang membuatnya penting dan wajib ada. Fungsi tersebut antara lain: 

1. Menyempurnakan Struktur Penulisan Artikel Jurnal 

Fungsi yang pertama dari abstrak pada artikel ilmiah, tentu saja untuk menyempurnakan struktur penulisan. Artikel ilmiah yang akan diterbitkan pada jurnal, terikat dengan ketentuan yang beragam. Salah satunya struktur penulisan. 

Artikel ilmiah wajib berisi judul, abstrak, pendahuluan, metode penelitian, hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, kesimpulan, dan ditutup dengan daftar pustaka. Jika tidak ada abstrak, maka artinya artikel ilmiah belum selesai disusun dan tidak bisa dipublikasikan pengelola jurnal manapun. 

Baca juga: Bagaimana Aturan Penulisan Jurnal Ilmiah Agar Mudah Diterima?

2. Menyajikan Gambaran Umum Keseluruhan Isi Artikel Jurnal 

Fungsi kedua, abstrak jurnal berperan penting dalam menyajikan informasi gambaran umum keseluruhan isi artikel. Bisa juga diartikan, abstrak berperan dalam menyajikan gambaran umum hasil penelitian yang dipaparkan pada manuskrip. 

3. Membantu Pembaca Memilih Referensi 

Publikasi ilmiah berbentuk jurnal menjadi prioritas referensi kredibel bagi akademisi dan peneliti. Ada banyak artikel yang terbit di satu jurnal. Disusul dengan jurnal lainnya. Tidak semua artikel tersebut bisa dijadikan referensi, sehingga peneliti perlu memilih yang paling tepat. Relevan, kredibel, dan terbitan terkini. 

Abstrak pada artikel jurnal membantu peneliti untuk menentukan referensi yang tepat dan memenuhi 3 kriteria dasar tersebut. Sebab di dalamnya ada penjelasan mengenai topik, tujuan, hasil penelitian, sampai kesimpulan. 

4. Menunjang Proses Publikasi Artikel Ilmiah 

Abstrak pada artikel ilmiah juga berfungsi sebagai penunjang kelancaran publikasinya di jurnal. Editor dan mitra bestari (reviewer) terbantu memahami isi artikel ilmiah lewat abstrak. Pada editor, hal ini memberi efisiensi untuk menilai kesesuaian manuskrip dengan scope jurnal

Sehingga memudahkan pengambilan keputusan apakah artikel ilmiah bisa diterima dan dipublikasikan atau sebaliknya. Pada mitra bestari, abstrak bisa memberi informasi isi artikel. Sehingga memudahkan dalam proses pemeriksaan naskah secara substansi keilmuan.  

Baca juga: Masih Keliru? Ini 6 Kesalahan Umum Dosen dalam Publikasi Jurnal Ilmiah

Tata Cara Menyusun Abstrak Artikel Jurnal 

Setelah memahami substansi pembahasan dan fungsi abstrak jurnal ilmiah. Tentunya perlu memahami juga bagaimana cara menyusunnya. Secara umum, tahapannya sebagai berikut: 

1. Baca Author Guide dari Pengelola Jurnal 

Langkah yang pertama dalam menyusun abstrak artikel ilmiah yang akan dipublikasikan ke sebuah jurnal, adalah membaca author guide atau panduan penulis. Biasanya disediakan pengelola jurnal dan bisa dibaca di website atau dalam format PDF yang bisa diunduh melalui website resmi jurnal tujuan. 

Kenapa harus membaca panduan penulis? Sebab didalamnya mencantumkan informasi mengenai ketentuan penyusunan abstrak. Penulis tentunya wajib menyesuaikan dengan ketentuan tersebut agar lolos administrasi. 

Baca jugal: Gagal Publikasi? Hindari Kesalahan Ini dalam Penulisan Jurnal

2. Memahami Isi Keseluruhan Artikel Jurnal 

Langkah kedua dalam menyusun abstrak jurnal adalah memahami keseluruhan isi artikel ilmiah. Pasalnya, abstrak berisi rangkuman dari isi keseluruhan artikel ilmiah tersebut. Selesai disusun, kadang penulis lupa beberapa informasi penting di dalamnya. Maka perlu dan disarankan untuk dibaca ulang. 

Inilah alasan kenapa abstrak pada artikel jurnal disarankan disusun paling akhir. Penulis perlu menyelesaikan manuskrip artikel, baru kemudian menyusun abstrak. Jika dibalik, maka ada kekhawatiran isi abstrak tidak berisi rangkuman keseluruhan artikel. 

3. Menyusun Abstrak Sesuai Urutan Standar Substansi 

Langkah yang ketiga adalah memulai proses penyusunan abstrak jurnal itu sendiri. Pada tahap ini, penulis bisa menyusun dengan mengikuti urutan standar substansi abstrak yang dijelaskan sebelumnya. 

Mulai dulu dengan menjelaskan topik atau mencantumkan judul penelitian. Kemudian disusul dengan menjelaskan latar belakang pemilihan topik penelitian tersebut. Begitu seterusnya hingga bagian kesimpulan. 

Selama proses penulisan, pastikan tetap memperhatikan batasan jumlah kata. Sehingga tidak melebihi batas maksimal yang sudah ditetapkan oleh pengelola jurnal. 

4. Merumuskan Kata Kunci 

Langkah berikutnya dalam menyusun abstrak jurnal adalah merumuskan kata kunci. Secara umum, kata kunci berbentuk frasa maupun kata bukan berbentuk kalimat. Dalam kata kunci abstrak tidak mengenal istilah long tail keyword. 

Selain itu, pihak pengelola jurnal menentukan batas maksimal jumlah kata kunci. Rata-rata antara 3-5 kata kunci. Namun, di beberapa jurnal bisa menetapkan maksimal 7 kata kunci. Detail informasi ini bisa dibaca di author guide. 

5. Baca Ulang dan Koreksi Kesalahan 

Tahap berikutnya dalam menyusun abstrak jurnal adalah dibaca ulang. Kemudian melakukan editing dan penyuntingan. Jadi, ketika dibaca ulang dan dijumpai ada kesalahan pada abstrak maka bisa dikoreksi atau diperbaiki. 

Baca selengkapnya: Tata Cara Penulisan Abstrak Jurnal yang Benar dan Efektif

Kesalahan Umum Penulis saat Menyusun Abstrak Jurnal 

Sekilas, menyusun abstrak jurnal terlihat lebih mudah. Sebab dari segi jumlah kata, tentu terpaut jauh dengan jumlah kata isi dari artikel jurnal. Namun, siapa sangka dengan beberapa ciri khasnya justru  penyusunan abstrak rentan ada kesalahan. Berikut beberapa kesalahan umum yang sering terjadi: 

1. Penjelasan Masih Terlalu Umum 

Kesalahan umum yang pertama dalam menyusun abstrak artikel jurnal adalah penjelasan yang masih terlalu umum. Idealnya sudah dibuat spesifik, fokus membahas hasil penelitian yang telah dilakukan. Jadi, setiap kalimat buat spesifik dan menunjukan aspek-aspek pada penelitian yang dilakukan. 

2. Memaparkan Terlalu Banyak Informasi 

Abstrak merupakan ringkasan artikel ilmiah, hanya saja ada batasan jumlah kata. Rata-rata menetapkan maksimal di 300 kata. Sayangnya, karena belum terbiasa dan terampil menulis artikel ilmiah. Abstrak biasanya melebihi batas tersebut karena penulis mencantumkan terlalu banyak informasi. 

Baca juga: Masih Keliru? Ini 6 Kesalahan Umum Dosen dalam Publikasi Jurnal Ilmiah

3. Mengabaikan Ketentuan Pengelola Jurnal 

Kesalahan umum berikutnya, penulis masih melanggar ketentuan penulisan abstrak yang ditetapkan pengelola jurnal. Mulai dari format penulisan, batas maksimal jumlah kata, ketentuan kata kunci, dan lain sebagainya. 

4. Terlalu Banyak Singkatan dan Akronim 

Dalam abstrak sangat disarankan hanya menggunakan singkatan dan akronim di dalamnya. Mengenai kepanjangan akan tercantum di isi artikel ilmiah. Tujuannya agar tidak boros kata atau terlalu cepat memenuhi batas maksimal.

Sayangnya, masih banyak penulis yang merasa perlu mencantumkan kepanjangan singkatan atau akronim. Sehingga terkesan bertele-tele dan informasi inti tidak tersampaikan dengan jelas. 

Contoh Abstrak Jurnal Ilmiah 

Salah satu strategi untuk memudahkan penyusunan abstrak jurnal. Maka bisa mempelajari contoh abstrak dari berbagai artikel ilmiah yang terbit di berbagai jurnal. Berikut beberapa contoh untuk dipelajari: 

1. Contoh Abstrak Jurnal 1 

Judul: Pelatihan Penulisan Abstrak Bagi Guru-Guru MGMP Bahasa Indonesia Kota Semarang

Abstrak 

Guru sebagai salah satu bagian dari unsur pendidikan harus memiliki keterampilan menulis karya ilmiah dan salah satu bagian tulisan ilmiah adalah abstrak. Paparan ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian, fungsi, struktur abstrak dan penjelasannya dan juga contoh-contoh abstrak. Metode yang digunakan dalam paparan ini adalah metode observasi berupa pencarian sumber-sumber informasi kepustakaan yang dapat berupa pendapat para ahli di bidang penulisan karya ilmiah dan juga informasi yang diambil dari referensi yang berkaitan dengan penulisan abstrak. 

Kata Kunci: pengertian abstrak; fungsi abstrak; struktur abstrak 

2. Contoh Abstrak Jurnal 2 

Judul: Penyebab Dan Penanganan Plagiarisme Di Kalangan Mahasiswa Pendidikan Matematika

Abstrak 

This study aims to know the cause and prevent plagiarism for mathematics education students. The method in this study is qualitative with a literature study analysis technique approach. This study shows that the causes of plagiarism are the low self-confidence in writing works with their own thoughts, bad habits in learning, and think that doesn’t lead to learning process 

Keyword: Plagiarism, Literature Study, Mathematics Education Students 

Meski sekilas menyusun abstrak jurnal terasa mudah. Namun, masih banyak dosen dan mahasiswa yang bingung menyusunnya mulai darimana. Sekaligus masih jamak dijumpai kesalahan. Meningkatkan pemahaman apa itu abstrak menjadi strategi penting. Selain mempelajari contoh dan penjelasan buku panduan, ikut pelatihan bisa dipertimbangkan.

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer