H-Index: Pengertian, Hitung, Faktor yang Mempengaruhi, dan Cara Cek

h-index-cara-menghitung-dan-cara-cek
H-Index: Pengertian, Cara Hitung, Faktor yang Mempengaruhi, dan Cara Cek

Bagi beberapa dosen, terutama dosen pemula istilah ini mungkin asing di telinga. Akan tetapi sering disebut dalam berbagai percakapan akademik. Lalu, apa itu skor h-index dan kenapa penting untuk diketahui oleh dosen? Berikut informasinya. 

Mengenal Istilah H-Index dalam Publikasi Ilmiah 

H-index adalah sistem penilaian atau pengukuran dampak hasil penelitian yang dipublikasikan secara ilmiah sesuai dengan bidang keahlian dari peneliti. Melalui skor inilah seorang peneliti dan institusi atau lembaga penelitian yang menaungi bisa mengukur dampak. 

Dampak publikasi hasil penelitian dilihat dari kuantitas publikasi ilmiah yang dihasilkan dan jumlah sitasi atas seluruh publikasi ilmiah tersebut. Keduanya menjadi faktor atau unsur yang ikut dalam proses perhitungan skor h-index. 

Istilah ini sendiri lebih umum digunakan pada database Scopus dan mesin pencari literatur ilmiah Google Scholar. Namun, masing-masing indeksasi punya istilah tersendiri dan sistem perhitungan dampak publikasi ilmiah. Misalnya saja pada laman SINTA Kemdiktisaintek yang menggunakan istilah SINTA Score (Skor SINTA). 

Cara Umum Menghitung Skor H-Index 

Secara mendasar, setiap indeksasi jurnal dan publikasi ilmiah punya sistem perhitungan tersendiri. Sebagai contoh, pada Google Scholar skor index yang ditampilkan adalah jumlah sitasi tertinggi pada publikasi ilmiah peneliti dalam 5 tahun terakhir. 

Google Scholar menghitung jumlah sitasi tertinggi pada publikasi ilmiah dalam 5 tahun terakhir tersebut. Misalnya dosen A dalam publikasi dari tahun 2021 sampai 2025 menghasilkan 5 publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal, prosiding, dan buku ilmiah

Baca juga:

Dari 5 publikasi ilmiah tersebut, masing-masing sitasi yang didapatkan adalah sebagai berikut: 

  • Publikasi 1: 5 sitasi 
  • Publikasi 2: 4 sitasi 
  • Publikasi 3: 3 sitasi 
  • Publikasi 4: 4 sitasi 
  • Publikasi 5: 1 sitasi 

Melalui data publikasi ilmiah tersebut, maka skor h-index dosen A adalah 3. Skor h-index 3 karena dari 5 publikasi ilmiah, jumlah sitasi tertinggi adalah 5 sitasi. Kemudian ada 3 publikasi yang mendapat sitasi 5, 4, dan 4 sitasi. Sedangkan publikasi ke-3 dan publikasi ke-5 di bawah 4 sitasi. Sehingga h-index dari publikasi dengan jumlah 4-5 sitasi. 

Semakin banyak sitasi yang didapatkan maka semakin besar kemungkinan skor h-index yang diraih. Begitu juga dengan kuantitas publikasinya, karena mempengaruhi proses perhitungan. 

Baca juga: Mengenal Seputar Indeks Jurnal dan Manfaat Publikasinya

Mengapa Dosen Perlu Memperhatikan Skor H-Index? 

Skor h-index pada dasarnya tidak dihitung manual oleh dosen maupun peneliti. Sebab mayoritas indeksasi publikasi ilmiah sudah menampilkan hasil perhitungan. Bagi dosen, mengecek rutin skor ini terbilang sangat penting. Berikut beberapa alasannya: 

1. Menjadi Salah Satu Alat Ukur Penilaian Kinerja Akademik Dosen 

Jumlah publikasi ini menjadi gambaran dari kinerja akademik dosen seperti apa. Semakin tinggi jumlahnya, semakin menunjukan kinerja akademik dosen juga baik. Maka skor h-index bisa menjadi bagian dari penilaian kinerja akademik dosen

Khususnya bagi dosen pribadi. Sehingga bisa mengecek sudah berapa banyak publikasi dihasilkan? Informasi ini bisa menjadi motivasi bagi dosen untuk meningkatkan produktivitas kinerja akademik. 

2. Memberikan Informasi Dampak Publikasi Ilmiah Dosen 

Skor h-index membantu dosen mengetahui dampak publikasi ilmiah yang dimiliki. Meski bukan satu-satunya indikator untuk menilai dampak. Namun, skor h-index bisa memberi gambaran secara tidak langsung. 

Sebab semakin banyak pembaca publikasi ilmiah, maka semakin menunjukan dampak isi dari publikasi tersebut. Dosen pun bisa mengetahui apakah tri dharma yang dijalankan berdampak dan publikasinya banyak dibaca atau tidak. 

Baca selengkapnya: Dampak dan Manfaat Pelaksanaan Kewajiban Publikasi Dosen

3. Meningkatkan Peluang Kolaborasi 

Skor h-index yang tinggi di Scopus maupun Google Scholar bisa menguatkan reputasi akademik dosen. Dosen dan peneliti lain bisa tertarik melakukan kolaborasi dalam tri dharma maupun publikasi ilmiah. 

Kolaborasi secara kontinyu membantu dosen meningkatkan produktivitas akademik. Sehingga bisa membantu mengoptimalkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah. Kemudian berdampak positif pada perkembangan skor h-index yang dimiliki.

Baca juga: 50 Daftar Jurnal Indonesia Terindeks Scopus Terbaru!

4. Memperbesar Potensi Meraih Program Hibah 

Beberapa penyelenggara hibah memperhatikan skor h-index yang dimiliki pengusul. Misalnya pada program hibah Kemdiktisaintek bertajuk Kosabangsa 2026. Baik ketua pengusul maupun anggota diwajibkan punya SINTA Score Overall minimal. 

Sementara SINTA Score tersebut juga dipengaruhi oleh skor h-index. Jadi, semakin tinggi skor h-index yang dimiliki dosen. Maka semakin tinggi pula SINTA Score yang diraih dan memperbesar peluang memenuhi syarat menjadi pengusul hibah Kosabangsa 2026. 

5. Sarana untuk Evaluasi Kinerja Akademik Dosen 

Skor h-index bisa menjadi sarana bagi dosen untuk melakukan evaluasi kinerja. Skor ini bisa dioptimalkan oleh dosen dengan banyak cara. Mulai dari meraih hibah untuk aktif mengurus publikasi ilmiah baru, berkolaborasi, mempromosikan publikasi di media sosial, dll. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Skor H-Index 

Berhubung dalam perhitungan skor h-index memperhatikan kuantitas publikasi dan jumlah sitasi yang didapatkan. Maka tentu ada cukup banyak faktor yang ikut mempengaruhi skor h-index yang diraih oleh dosen. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Kolaborasi dalam Publikasi Ilmiah 

Dalam kolaborasi publikasi ilmiah, skor h-index ada 10 sitasi. Maka seluruh penulis terdata punya publikasi dengan jumlah sitasi di 10. Sehingga kolaborasi tersebut membuat publikasi ilmiah yang dikerjakan bersama-sama saling memberi skor sama rata. 

2. Distribusi Sitasi pada Setiap Publikasi 

Jika dosen memiliki 5 publikasi ilmiah, dan jumlah sitasi tidak sama banyaknya. Maka skor sitasi bisa saja stagnan. Kecuali jika sama banyaknya atau merata, maka skor h-index bisa lebih tinggi dan terus naik. 

3. Disiplin Ilmu yang Ditekuni Dosen 

Harus diakui bahwa publikasi ilmiah pada bidang ilmu eksakta atau science punya potensi dikutip lebih besar dibanding bidang sosial humaniora. Padahal, aktualnya bisa saja publikasi di bidang sosial humaniora punya mutu sama baiknya. 

4. Lama Karir Akademik Dosen 

Faktor lainnya yang mempengaruhi adalah lama karir akademik dosen. Semakin lama masa pengabdian dosen, semakin banyak publikasi ilmiah yang dihasilkan. Maka potensi meraih h-index tinggi dan stabil lebih besar dibanding dosen pemula. 

Baca juga: 15 Hal yang Kerap Menghambat Karir Dosen, Harus Dihindari!

Cara Cek H-Index Dosen 

Seperti yang dijelaskan sekilas sebelumnya, skor h-index tidak perlu dihitung sendiri oleh para dosen. Namun bisa mengecek skornya di sejumlah indeksasi publikasi ilmiah. Ada 3 cara yang bisa dilakukan dosen untuk mengecek h-index, berikut penjelasannya: 

1. Cek Skor H-Index Google Scholar 

Google Scholar menjadi salah satu mesin pencari literatur ilmiah yang menginformasikan skor h-index. Kuncinya, dosen wajib punya akun di Google Scholar dan publikasi ilmiah yang dimiliki sudah terindeks di dalamnya. Langkah-langkah cek skor h-index adalah sebagai berikut: 

  • Buka browser pada perangkat elektronik yang digunakan dan masuk ke situs Google Scholar.
  • Pada halaman utama, silahkan ketik nama lengkap dosen di kolom pencarian. Opsional lain, bisa mengetik judul publikasi ilmiah yang telah dihasilkan. Maka Google Scholar akan menampilkan judul tersebut, di bawahnya ada nama penulis dengan garis di bawah (menandakan penulis sudah punya akun Google Scholar). 
  • Setelah ketik nama, Google Scholar akan menampilkan tautan ke profil dan daftar publikasi ilmiah yang dihasilkan pemilik nama tersebut. Jika ada beberapa profil dengan nama yang sama, cek nama afiliasi (perguruan tinggi atau lembaga penelitian) dan klik nama peneliti yang sesuai. 
  • Klik nama profil yang sesuai, maka Google Scholar akan menampilkan data riwayat publikasi  akun tersebut. Cek skor h-index di sisi sebelah kanan atas. 
  • Selesai. 

Baca juga: 2 Pilihan Cara Menambahkan Artikel pada Google Scholar

2. Cek Skor H-Index Scopus 

Skor h-index juga ditampilkan Scopus untuk menginformasikan dampak publikasi ilmiah para peneliti. Kuncinya, para dosen atau peneliti sudah memiliki akun di Scopus dan ada publikasi ilmiah yang terindeks di dalamnya. Berikut tata cara pengecekan h-indexnya: 

  • Buka browser pada perangkat elektronik dan masuk ke website resmi Scopus.
  • Pada halaman utama, silahkan klik menu “Author Search” di bagian kanan atas.
  • Scopus akan menampilkan dua kolom pencarian, silahkan isi dengan nama belakang dan nama depan penulis tersebut. 
  • Klik tombol Search atau tekan tombol Enter pada keyboard perangkat. 
  • Maka Scopus akan menampilkan data dari pemilik akun tersebut dan informasi skor h-index ada di kolom paling kanan. 
  • Selesai. 

Baca juga: Cara Mencari Jurnal Open Access di Scopus dalam 5 Menit!

3. Cek Skor H-Index Melalui SINTA 

Cara ketiga adalah mengecek h-index lewat laman SINTA. Melalui cara ini, informasi h-index dari Google Scholar sekaligus Scopus bisa diketahui. Berikut tata caranya: 

  • Buka browser pada perangkat elektronik yang digunakan dan masuk ke website resmi SINTA Kemdiktisaintek.
  • Pada halaman utama, silahkan klik menu “Author” yang ada di bagian paling atas. 
  • SINTA akan menampilkan data seluruh penulis yang publikasinya terindeks di dalamnya. Supaya pencarian lebih cepat, pada kolom “Search Author” bisa mengetik nama dosen yang dicari. 
  • Kemudian klik ikon Search atau tombol Enter pada keyboard perangkat. 
  • SINTA akan menampilkan data profil dan riwayat publikasi ilmiah dari dosen yang dicari tersebut. Skor h-index akan ditampilkan di sisi paling kanan sebelah nama akun. 
  • Selesai. 

Baca juga: Publikasi Jurnal SINTA 4: Manfaat, Syarat, dan Cara Submit

More Posts

Kelas E-Course

Ebook Gratis

Tag Populer