Menulis dan menerbitkan buku ajar, tentunya tidak bisa dilakukan sembarangan oleh dosen. Terdapat sejumlah aturan dan ketentuan yang perlu dipahami dan kemudian dipatuhi. Salah satunya ketentuan mengenai format penulisan buku ajar Dikti. Lalu, seperti apa format penulisannya? Berikut informasinya.
Daftar Isi
ToggleFormat Penulisan Buku Ajar Sesuai Standar Dikti
Format penulisan suatu karya tulis biasanya berkaitan dengan aturan atau ketentuan mengenai jenis font, ukuran font, pengaturan spasi di lembar ketik, pengaturan margin di lembar ketik, dan sejenisnya.
Dalam konteks penulisan buku ilmiah seperti buku ajar. Para dosen yang berkewajiban menjadi penulis perlu memahami format penulisan buku ajar Dikti. Apa saja? Secara umum, ketentuan format penulisan buku ajar dari Ditjen Dikti adalah sebagai berikut:
1. Ukuran Kertas
Format penulisan buku ajar sesuai standar Ditjen Dikti atau Kemdiktisaintek dimulai dari ukuran kertas. Secara umum, buku ajar dan buku ilmiah jenis lain yang ditulis oleh dosen menggunakan kertas ukuran A4. Pada saat terbit, dicetak menggunakan kertas ukuran UNESCO.
2. Pengaturan Spasi dan Margin
Format kedua adalah terkait pengaturan spasi dan margin di lembar kerja atau lembar ketik. Secara umum, spasi untuk penulisan buku ajar di 1,5. Sedangkan untuk margin, umumnya menggunakan margin 3 cm untuk kanan, kiri, atas, dan bawah.
3. Jenis dan Ukuran Huruf
Format penulisan buku ajar Dikti juga mencakup ketentuan jenis font atau jenis huruf yang digunakan. Secara umum menggunakan jenis font Time New Roman pada ukuran 12. Detail ukuran font adalah 12 untuk teks utama dan ukuran 14 untuk judul bab.
4. Jumlah Halaman
Ketentuan format penulisan selanjutnya adalah terkait jumlah halaman. Masing-masing buku ilmiah punya standar jumlah halaman minimal berbeda-beda. Khusus untuk buku ajar, minimal di 49 halaman sesuai syarat untuk bisa terbit dengan ISBN. Namun, untuk hibah penerbitan buku ajar biasanya diminta minimal 200 halaman.
Baca juga: Pedoman Penulisan Buku Ajar dan Buku Monograf Sesuai Standar Ditjen Dikti
Struktur Penulisan Buku Ajar Sesuai Standar Dikti
Secara umum, buku ajar memiliki struktur yang terbagi dalam 3 bagian. Yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Sehingga sama persis dengan struktur umum buku ilmiah lain. Hanya saja, perbedaan signifikan buku ajar dengan buku ilmiah lain terletak pada struktur umum di bagian isi. Berikut detail strukturnya:
1. Bagian Awal
Bagian awal menjadi bagian pembuka sebelum ke bagian isi yang terdiri dari beberapa bab yang menjelaskan materi perkuliahan sesuai RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Bagian awal di dalam naskah buku ajar, biasanya berisi halaman-halaman berikut:
a. Prakata atau Kata Pengantar
Prakata atau kata pengantar adalah bagian awal dari suatu karya tulis yang berisi gambaran umum isi dari karya tulis, ucapan terima kasih pada pihak-pihak yang memberi dukungan, dan harapan manfaat positif dari karya tulis tersebut kepada pembaca.
b. Daftar isi
Bagian awal buku ajar juga mencakup halaman daftar isi. Pada halaman ini menampilkan daftar seluruh isi buku dalam bab dan subbab beserta nomor halaman lokasinya dalam naskah.
c. Daftar Pendukung
Berikutnya adalah daftar pendukung. Yakni daftar konten jenis lain di dalam naskah buku ajar yang dilengkapi nomor halaman lokasinya. Misalnya konten dalam bentuk tabel, maka ada daftar tabel. Kemudian, konten berbentuk gambar maka ada daftar gambar.
2. Bagian Isi
Bagian isi merupakan inti dari naskah buku ajar. Bagian ini memaparkan materi perkuliahan sesuai RPS. Setiap materi disusun menjadi beberapa bab. Setiap bab di dalam buku ajar biasanya disusun dengan struktur umum di bawah ini:
a. Pendahuluan
Bagian isi dibuka dengan pendahuluan. Pada bagian ini biasanya memaparkan tujuan instruksional dari penulisan buku ajar. Misalnya informasi mengenai sasaran pembelajaran, capaian pembelajaran yang ingin dicapai, manfaat pembelajaran, dan petunjuk belajar bagi mahasiswa.
b. Penyajian Materi
Bagian isi berikutnya adalah penyajian materi. Penyajian materi di dalam buku ajar berisi susunan bab dan turunannya (subbab, subsubbab, dan seterusnya).
Pada bagian ini, materi dijelaskan secara rinci mengacu pada RPS dan data dari referensi yang kredibel. Materi wajib dijelaskan dengan bahasa formal populer, dilengkapi elemen visual, dan runtut atau sistematika sesuai alur logika keilmuan.
c. Rangkuman
Rangkuman adalah bagian dari isi buku ajar yang berisi ringkasan dari seluruh materi yang sudah disajikan atau dijelaskan. Sebagai ringkasan, maka penyajian dibuat ringkas dan tetap sistematis.
d. Latihan Soal/Tugas/Praktikum
Bagian isi juga mencakup latihan soal, latihan tugas, maupun eksperimen atau praktikum. Dalam kurikulum OBE, buku ajar di bagian ini biasanya diisi dengan latihan tugas maupun praktikum. Sebab sejalan dengan tujuan atau capaian pembelajaran berupa penguasaan kompetensi pada mahasiswa.
e. Daftar Pustaka
Daftar pustaka berisi daftar referensi yang digunakan dosen dalam mengembangkan materi sebagai isi utama dari buku ajar. Susunan daftar pustaka menggunakan gaya sitasi yang sudah ditetapkan perguruan tinggi.
Baca juga: Bagaimana Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar? Berikut Detail Langkah-Langkahnya
3. Bagian Akhir
Bagian akhir juga menjadi bagian dari struktur umum naskah buku ajar, sehingga wajib ada. Bagian akhir pada naskah buku ajar, umumnya berisi beberapa halaman berikut:
a. Lampiran
Lampiran merupakan halaman di bagian akhir buku ajar yang berisi dokumen dan informasi-informasi lain yang dinilai penting untuk dicantumkan pada naskah buku ajar. Misalnya RPS, kontrak perkuliahan, studi kasus, data tambahan, dll.
b. Indeks
Indeks merupakan halaman di bagian akhir buku ajar yang berisi daftar kata atau istilah yang dianggap penting dan dilengkapi nomor halaman yang menjadi lokasi kata atau istilah tersebut.
c. Glosarium
Glosarium merupakan halaman di bagian akhir buku ajar yang berisi daftar kata atau istilah yang dilengkapi definisi atau informasi penjelas maupun terjemahan (jika berupa kata dari bahasa asing).
Baca juga: Panduan Menulis Buku Ajar sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis
Kesalahan Penulisan Buku Ajar yang Sering Dilakukan Dosen
Dalam menulis buku ajar, masih banyak dosen yang melakukan kesalahan. Termasuk kesalahan dalam pengaturan format penulisan buku ajar Dikti. Kesalahan umum ini tentunya lebih mudah dihindari dosen, jika diketahui lebih dini. Apa saja? Berikut beberapa diantaranya:
1. Mulai Menulis Tanpa Membaca Panduan Penulisan Buku Ajar
Kesalahan dalam format, struktur, dan detail lain saat menulis buku ajar biasa dimulai dari langkah keliru. Salah satunya menulis naskah tanpa membaca panduan penulisan.
Ada banyak aturan terkait format, struktur penulisan, proses penerbitan, dan pelaporan buku ajar. Jadi, sebelum menulis sebaiknya membaca buku panduan untuk meminimalkan kesalahan. Sehingga dosen tidak perlu menulis dua kali.
2. Melakukan Konversi Bahan Ajar dengan Cara yang Salah
Buku ajar memang ideal disusun berdasarkan hasil konversi bahan ajar lain. Misalnya konversi modul pembelajaran menjadi buku ajar. Namun, konversi KTI tidak dipahami sebagai proses menyalin isi satu KTI ke naskah KTI lain.
Akan tetap ada proses penyesuaian struktur, format penulisan, gaya bahasa, dan aspek lain dari satu KTI ke KTI lain. Konversi bahan ajar menjadi buku ajar bisa menjadi kesalahan jika hanya menyalin alias copy paste. Jadi, bahan ajar apapun jangan hanya disalin ke lembar ketik naskah buku ajar.
3. Tidak Disusun Berdasarkan RPS
Buku ajar sebaiknya disusun berdasarkan RPS pada mata kuliah yang memang diampu dosen. Mata kuliah ini juga wajib relevan dengan bidang keilmuan atau kepakaran dosen sendiri.
Sehingga bisa digunakan untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan akademik, misalnya lewat poin angka kredit di AK Konversi. Sayangnya, masih banyak dosen yang tidak menjadikan RPS sebagai acuan. Selain itu, beberapa dosen mungkin menerima penugasan yang tidak sesuai kualifikasi akademik.
Baca juga: Memahami Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar dan Cara Mengatasinya
4. Struktur Tidak Sesuai
Buku ajar ditargetkan untuk dibaca mahasiswa dan dijadikan pegangan mengikuti perkuliahan. Sehingga di dalamnya berisi penjelasan materi disusul latihan tugas atau praktikum. Jadi, bukan sekadar memaparkan materi.
Pada struktur bagian isi inilah yang membuat buku ajar lebih khas dan mudah dibedakan dengan buku ilmiah lain. Sebab di buku referensi dan monograf, bagian isi terdiri dari beberapa bab yang membahas topik buku tersebut. Tidak ada materi perkuliahan maupun latihan tugas.
5. Pembahasan atau Penyajian Materi Tidak Sistematis
Salah satu ciri dari buku ilmiah adalah memaparkan topik secara runtut sesuai alur logika keilmuan. Hal ini tentunya berlaku juga untuk buku ajar. Materi yang disajikan atau dijabarkan di dalamnya tentu harus runtut. Misalnya materi mengenai jurnal umum di mata kuliah dasar akuntansi.
Maka penjelasan diawali dengan definisi jurnal umum, disusul fungsi, dan seterusnya. Pemaparan materi tidak bisa langsung ke cara menyusun jurnal umum. Sebab, tidak semua mahasiswa tahu apa itu jurnal umum.
Baca selengkapnya disini: 10 Kesalahan Umum Menyusun Buku Ajar dan Cara Menghindarinya
Bagaimana Memastikan Naskah Buku Ajar Siap Terbit?
Buku ajar yang disusun oleh dosen memang wajib untuk diterbitkan. Setelah terbit, barulah bisa diklaim dalam laporan BKD dan penilaian angka kredit. Namun, dosen perlu memastikan naskah buku ajar memang sudah siap terbit. Berikut beberapa cara memastikannya:
1. Disusun Sesuai RPS
Hal pertama untuk memastikan naskah buku ajar siap terbit adalah memastikan dulu sudah disusun berdasarkan RPS. Sebelum dikirim ke penerbit, isi naskah buku ajar perlu diperiksa untuk memastikan isinya juga materinya. Sehingga menunjukan naskah buku ajar sudah disusun dengan benar, yakni menyesuaikan RPS sebagai acuannya.
Jika aktualnya isi naskah tidak sesuai daftar materi di RPS. Maka tentunya menjadi tanda naskah disusun tidak berdasarkan RPS. Pada tahap ini, dosen perlu melakukan revisi. Sebab meski bisa diterbitkan, ketidaksesuaian ini membuat buku ajar tidak diakui sebagai sumber angka kredit. Termasuk tidak diakui dalam BKD.
Baca juga: Mengenal Pilihan Metode Pembelajaran Dosen yang Sesuai dengan RPS OBE
2. Format dan Struktur Penulisan Sesuai Standar Dikti
Selanjutnya dosen perlu memeriksa dan memastikan kembali sudah mengikuti struktur dan format penulisan buku ajar Dikti. Sehingga secara teknis penulisan tidak ada kendala, sebab sudah sesuai standar dari Kemdiktisaintek.
Pengecekan ulang tetap diperlukan untuk menghindari ada kesalahan. Misalnya saja ada proses membuat kutipan langsung dan disusun dengan copy paste. Jika tekniknya keliru, format penulisan masih mengikuti dokumen aslinya.
3. Materi Dijelaskan Rinci dan Sumbernya Jelas
Langkah ketiga, adalah memastikan penyajian materi sudah benar. Pertama, materi dijelaskan dengan rinci dan runtut. Kemudian sumber yang digunakan untuk penyajian dan pengembangan materi jelas sekaligus kredibel.
4. Sudah Dilakukan Editing dan Penyuntingan
Naskah sudah diperiksa dan dikoreksi jika dijumpai kesalahan. Kemudian naskah secara tampilan juga sudah dirapikan, sehingga tampil profesional.
Tanpa editing dan penyuntingan, besar kemungkinan kesalahan pada naskah sampai di tangan editor. Masih beruntung jika naskah diterima dengan revisi skala besar. Bagaimana jika ditolak editor karena terlalu banyak kesalahan?
5. Naskah Buku Ajar Sudah Selesai Disusun
Terakhir, naskah siap terbit jika sudah selesai disusun. Hindari mengirimkan naskah dalam kondisi masih proses penulisan. Pihak penerbit mungkin hanya meminta bab pertama saja di awal. Namun, jika baru selesai bab pertama sudah dikirim. Penerbit belum tentu bersedia menunggu beberapa bulan kedepan sampai naskah selesai.
Baca selengkapnya: Panduan Cara Menulis Buku Ajar
Format Buku Ajar Sudah Sesuai Tapi Naskah Belum Siap Diterbitkan, Apa Solusinya?
Naskah yang disusun, mungkin secara struktur dan format penulisan buku ajar Dikti sudah terpenuhi. Hanya saja, dosen belum siap untuk menerbitkannya. Bisa karena penjelasan materi belum lengkap, kurang mendalam, latihan tugas belum menyeluruh di semua bab, dan bisa juga karena kendala lainnya.
Seperti keterbatasan akses ke referensi yang memadai, keterbatasan waktu untuk melanjutkan penulisan buku ajar, keterbatasan pendanaan untuk biaya penerbitan, dan lain sebagainya.
Dalam kondisi ini, ada baiknya terhubung dengan Penerbit Deepublish. Jika dosen mendaftar sebagai penulis, maka akan diberikan layanan pendampingan oleh tim Deepublish. Sehingga akan dibantu untuk mencari solusi maupun membantu proses penerbitan sesuai standar Ditjen Dikti.
Naskah Buku Ajar Belum Siap Terbit? Konsultasikan dengan Penerbit Deepublish!
Sudah menyusun buku ajar sesuai format, tetapi masih terkendala dalam proses penyelesaian hingga penerbitan? Penerbit Deepublish menyediakan layanan penerbitan buku bagi dosen yang ingin mempersiapkan naskahnya menjadi buku terbit. Dapatkan informasi mengenai alur penerbitan dan layanan pendampingan yang tersedia untuk membantu proses publikasi karya akademik Anda.
sumber:
- Format Penulisan Buku Ajar. (2022). Pusat Hak Kekayaan Intelektual Universitas Medan Area. https://phki.uma.ac.id/wp-content/uploads/2022/01/FORMAT-BUKU-AJAR-pdf.pdf
- Nisa, K. (2026). Memahami Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar dan Cara Mengatasinya. Diakses pada 3 November 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/menulis-buku-ajar-dan-akademik/memahami-daftar-kesalahan-menyusun-buku-ajar-dan-cara-mengatasinya/
- Adji, W. (2026). Format dan Gaya Bahasa Penulisan Buku Ilmiah yang Diakui Dikti. Diakses pada 3 November 2026 dari https://jakarta.penerbitdeepublish.com/panduan/monograf-referensi/format-dan-gaya-bahasa-penulisan-buku-ilmiah-yang-diakui-dikti/














