Publikasi di jurnal ilmiah sering menjadi prioritas para dosen. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Hanya saja menembus editorial jurnal ternyata tidak mudah dan butuh waktu yang panjang. Lalu, kenapa dosen harus memiliki riwayat publikasi jurnal? Berikut informasinya.
Daftar Isi
ToggleKenapa Dosen Harus Memiliki Publikasi di Jurnal Ilmiah?
Jurnal ilmiah merupakan salah satu media publikasi artikel ilmiah secara periodik. Setiap jurnal memiliki scope spesifik dan mempengaruhi seluruh topik artikel yang diterbitkan. Proses publikasi di jurnal melewati proses panjang. Mulai dari pemeriksaan editor jurnal, peer review oleh 2 pakar di bidangnya, dan disusul proses revisi sesuai catatan reviewer.
Selain itu, biaya publikasi di berbagai jenis jurnal juga lumayan. Terlebih untuk jurnal internasional bereputasi. Namun, kenapa dosen tetap harus punya dan bahkan memprioritaskan publikasi di jurnal ilmiah? Berikut beberapa alasannya:
1. Menyebarluaskan Hasil dan Optimasi Dampak PenelitianÂ
Publikasi di jurnal membantu dosen memastikan substansi sudah memenuhi standar keilmuan dan standar publikasi ilmiah. Sebab jurnal melewati proses peer review. Sehingga hasil penelitian disampaikan apa adanya dan objektif.Â
Hal ini akan mendorong pemanfaatan secara tepat dan optimal. Sekaligus mendorong penelitian lebih lanjut. Terlebih, pembaca jurnal didominasi oleh masyarakat ilmiah yang tentunya aktif meneliti.
2. Menyediakan Referensi dan Pegangan PembelajaranÂ
Alasan kedua, menjadi bentuk kontribusi dosen dalam menyediakan referensi. Sehingga mendukung dosen, mahasiswa, dan peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Selain itu, publikasi di berbagai jenis jurnal juga bagian dari kontribusi dosen menyediakan bahan penunjang pembelajaran. Bisa dijadikan pegangan dan referensi dosen menyusun materi pembelajaran. Begitu juga dengan mahasiswa.Â
3. Mendukung Pemenuhan BKD dan Kenaikan Jabatan AkademikÂ
Dengan publikasi di jurnal maka dosen bisa terbantu dalam memenuhi target BKD. Publikasi di jurnal juga dapat membantu dosen mendapat tambahan poin angka kredit. Tepatnya pada penilaian AK Prestasi.Â
Dalam karir akademik dosen, publikasi di jurnal juga membantu memenuhi syarat khusus. Sehingga selain membantu memenuhi AK Kumulatif, juga mendukung pemenuhan syarat khusus. Kenaikan jabatan akademik dosen pun bisa lebih lancar.
Ketahui juga: Kesalahan Dosen dalam Pemenuhan Angka Kredit untuk Kenaikan Jabatan AkademikÂ
4. Mendorong Perkembangan IptekÂ
Hasil penelitian dosen aan berisi teori baru, temuan baru yang tentu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Publikasinya di jurnal mempercepat update iptek. Sehingga materi yang disampaikan guru dan dosen juga mengikuti hasil penelitian terbaru tersebut. Begitu juga dengan proses pengembangan produk di berbagai perusahaan. Sehingga teknologi bisa terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.Â
5. Menciptakan Kolaborasi AkademikÂ
Publikasi di berbagai jenis jurnal, membantu dosen yang mengurus publikasi tersebut terhubung dengan dosen lain. Kemudian dengan mahasiswa dan peneliti dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah maupun swasta. Hal ini bisa membuka peluang untuk saling terhubung dan berkolaborasi di kemudian hari. Dosen pun bisa lebih produktif meneliti dan mengurus publikasi terbaru.Â
6. Membuka Akses ke Program HibahÂ
Melalui publikasi, membuktikan bahwa dosen sudah aktif melakukan penelitian dan fokus di satu topik sesuai kepakaran. Pada saat mengajukan proposal usulan di program hibah dan kebetulan asesor menilai riwayat penelitian pengusul. Maka hasil verifikasi tersebut cenderung positif, sehingga peluang proposal usulan disetujui lebih besar.Â
Baca juga: Jangan Sampai Terlewat! Daftar Program Hibah Penelitian Tahun 2026 Ini Wajib Diikuti Dosen!
7. Ikut Berkontribusi pada Perumusan Kebijakan dan Praktek di LapanganÂ
Hasil penelitian dosen bisa menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan di perguruan tinggi, perusahaan, sampai pemerintah. Hasil penelitian dosen juga mendorong penerapannya di lapangan.
Jenis-Jenis Jurnal dalam Publikasi Ilmiah Dosen di Indonesia
Mengacu pada Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 terdapat 4 jenis publikasi jurnal yang bisa dikejar oleh para dosen untuk BKD dan pengembangan karir akademik. Yaitu:
1. Jurnal Internasional Bereputasi SJR di atas 0,1 atau IF di atas 0,05Â
Jenis jurnal ilmiah yang pertama untuk pemenuhan BKD dan kenaikan jabatan akademik dosen adalah jurnal internasional bereputasi dengan SJR di atas 0,1 atau IF di atas 0,05. Baik itu di Scopus maupun World of Science (WoS). Sehingga jurnal sudah masuk ke peringkat tertentu.Â
Dalam regulasi terbaru, semakin tinggi peringkat jurnal internasional bereputasi maka semakin tinggi poin angka kreditnya. Oleh sebab itu, adanya regulasi ini mendorong dosen di Indonesia untuk berusaha menembus jurnal dengan peringkat strategis. Misalnya Q2 dan Q2.
2. Jurnal Internasional Terindeks pada Basis Data Internasional Bereputasi SJR ≤ 0,1 atau IF ≤ 0,05Â
Dalam regulasi terbaru publikasi di jurnal internasional harus bereputasi atau terindeks di database bereputasi seperti Scopus dan WoS. Hanya saja, untuk jurnal baru yang belum masuk pemeringkatan tetap diakui.Â
Namun, jurnal tersebut harus memiliki skor ≤ 0,1 atau IF ≤ 0,05. Jika berhasil ditembus oleh dosen, maka dalam penilaian AK Prestasi akan memberi tambahan poin angka kredit sebesar 30 poin.
Ketahui juga: 50 Daftar Jurnal Indonesia Terindeks Scopus Terbaru!
3. Jurnal Nasional Terakreditasi KemdiktisaintekÂ
Semua jurnal nasional yang sudah terakreditasi otomatis terindeks di laman SINTA. Nilai akreditasi menunjukan peringkat jurnal tersebut. Peringkat paling rendah di SINTA 6, dan tertinggi di SINTA 1.
Semua diakui dalam pemenuhan BKD sampai penilaian AK Prestasi untuk kenaikan jenjang jabatan akademik. Masing-masing peringkat punya poin angka kredit berbeda. Berikut rinciannya:
- Jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 1 atau SINTA 2: 25 poinÂ
- Jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 3 atau SINTA 4: 20 poin
- Jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 5 atau SINTA 6: 15 poin
Baca juga: Publikasi Jurnal SINTA 4: Manfaat, Syarat, dan Cara Submit
4. Jurnal Nasional yang Tidak Terakreditasi Memenuhi Kriteria Jurnal Ilmiah Ber-ISSNÂ
Publikasi dosen di jurnal nasional yang belum terakreditasi tetap diakui. Selama pengelola jurnal tersebut resmi dan kredibel yang ditunjukan melalui kepemilikan ISSN. Biasanya jurnal masih baru dan belum memenuhi syarat untuk proses penilaian akreditasi oleh ARJUNA. Jurnal jenis ini memiliki bobot 10 poin angka kredit.
Tips Produktif Menghasilkan Publikasi Jurnal Ilmiah bagi Dosen
Publikasi ilmiah di berbagai jenis jurnal sering diprioritaskan, karena bisa membantu dosen memenuhi BKD dan memaksimalkan AK Kumulatif melalui AK Prestasi. Supaya para dosen bisa terus produktif dan konsisten menghasilkan publikasi di jurnal ilmiah. Maka berikut beberapa tipsnya:Â
1. Menyusun Roadmap Penelitian dan Merealisasikannya BertahapÂ
Melalui roadmap, dosen dari jauh-jauh hari sudah menyusun rencana kegiatan penelitian untuk minimal 5 tahun kedepan. Jadi, dosen bisa rutin melaksanakan penelitian dan hasil penelitian tersebut dipublikasikan ke jurnal. Dosen juga bisa mengatur tahapan target jurnal tujuan. Dimulai dulu dari jurnal nasional terakreditasi, baru kemudian ke jurnal internasional bereputasi.Â
Baca selengkapnya: Cara Membuat Roadmap Penelitian dan Contohnya
2. Memastikan Topik Disukai, Relevan, dan AktualÂ
Tips kedua, untuk bisa rutin mengurus publikasi di berbagai jenis jurnal maka dosen perlu menentukan topik yang tepat. Selain itu, topik tersebut relevan dengan bidang keilmuan dan kepakaran dosen. Disusul, topik tersebut harus aktual. Misalnya sesuai permasalahan terkini di masyarakat agar hasil penelitian bisa langsung berdampak.Â
Jangan sampai dianggap usang karena masalah yang diteliti sudah berhasil dipecahkan dengan penelitian sebelumnya. Topik usang seperti ini akan sulit diterima jurnal kredibel, terlebih di jurnal internasional bereputasi.
3. Mengakses Program HibahÂ
Dalam menjalankan penelitian dan mengurus publikasi hasilnya di berbagai jenis jurnal, tentunya dosen butuh dukungan pendanaan. Mengakses program hibah menjadi solusi yang paling direkomendasikan.
Mulai dulu dari hibah internal perguruan tinggi. Berlanjut ke program hibah dari pemerintah daerah, baru ke pemerintah pusat seperti dari Kemdiktisiantek dan BRIN. Berlanjut lagi ke hibah penelitian internasional.Â
Baca juga: 4 Program Hibah Riset Internasional yang Dapat Diikuti Dosen
4. Berkolaborasi Secara AktifÂ
Kolaborasi dalam penelitian sekaligus publikasi ilmiah, atau salah satunya saja. Kolaborasi membantu menggabungkan kemampuan dan kompetensi, serta sumber daya yang mendukung penelitian maupun publikasi tersebut.
Sehingga penelitian dan penyusunan artikel ilmiah bisa segera diselesaikan serta kualitasnya mumpuni. Hal ini akan meningkatkan peluang menembus jurnal kredibel dengan peringkat tinggi.Â
5. Mengasah Keterampilan Menulis Artikel JurnalÂ
Penting bagi dosen untuk mengasah keterampilan menulis. Mulai dari aktif ikut pelatihan, rajin membaca, dan rajin menyusun karya tulis. Mulai dari artikel opini dan diterbitkan ke surat kabar.
Kemudian berlanjut sampai bisa meningkatkan mutu artikel jurnal. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi kemungkinan dinilai editor dan reviewer untuk layak diterbitkan.Â
Baca juga: Cara Menulis Artikel Jurnal untuk Dosen agar Lebih Terarah
6. Terbuka pada Pemanfaatan TeknologiÂ
Memanfaatkan teknologi tentunya menjadi langkah yang harus dpertimbangkan. Dosen harus update dengan aplikasi olah kata agar fitur lebih kaya dan bermanfaat, serta memanfaatkan platform AI. Pastikan bijak dan tidak melanggar etika. Sehingga menunjang kelancaran publikasi di jurnal ilmiah tanpa ada resiko terjadi pelanggaran etika di kemudian hari.Â
Kendala yang Harus Siap Dihadapi Dosen dalam Publikasi Jurnal
Dalam membangun riwayat publikasi ilmiah di berbagai jenis jurnal yang diakui Kemdiktisaintek. Tentunya tidak selalu berjalan mulus. Maka dari itu, dosen perlu mengetahui apa saja kendala dan tantangan tersebut. Kemudian mencari strategi untuk mengantisipasinya. Adapun kendala dan tantangan yang dimaksud adalah:Â
1. Keterbatasan Fasilitas Penelitian dan Penyusunan Artikel JurnalÂ
Sebagai contoh, penelitian di lapangan perlu fasilitas moda transportasi sampai biaya transportasi. Penelitian di laboratorium, butuh peralatan memadai di dalamnya. Saat menyusun artikel jurnal, butuh referensi dari database Scopus yang berbayar. Maka penelitian dan publikasi di jurnal semakin sulit karena keterbatasan akses fasilitas yang memadai.Â
2. Keterbatasan PendanaanÂ
Keterbatasan pendanaan bisa berdampak pada pelaksanaan dan kelancaran penelitian. Jika penelitian berhasil diselesaikan, maka ada resiko tidak bisa membayar APC yang ditetapkan jurnal tujuan. Maka dosen dari awal perlu memastikan mendapat dukungan pendanaan yang memadai.
Baca juga: Ingin Mendapat Hibah BRIN 2026? Terapkan Strategi Ini Agara Lolos Pendanaan!
3. Kesulitan dalam Memilih JurnalÂ
Memilih jurnal tujuan tidak selalu mudah, apalagi untuk dosen pemula. Ada banyak pilihan jurnal sekalipun, belum tentu semakin mudah menentukan pilihan. Jadi, memilih jurnal harus tepat agar publikasi lancar. Sayangnya, memilih jurnal itu sendiri juga tidak selalu mudah.
4. Kendala dalam Peer Review dan RevisiÂ
Kendala dan tantangan berikutnya ada pada proses peer review dan berujung revisi. Dosen dengan keterbatasan waktu dan sumber daya lain. Tentunya bisa mendapat tekanan lebih untuk menyelesaikan proses revisi tersebut. Publikasi pun terasa semakin sulit.














