Dalam kegiatan penelitian, secara umum peneliti akan menentukan dulu topik penelitian. Baru kemudian ada tahap menganalisis dan merumuskan atau menyusun State of the Art (SOTA). Namun, hasil dari SOTA bisa mempengaruhi topik dan membuatnya diubah oleh peneliti.
Jadi, sangat lumrah topik penelitian berubah dibanding topik yang ditetapkan di awal. Topik yang dirumuskan setelah SOTA cenderung lebih kuat, research gap sudah dipastikan ada, dan mampu menunjukan kontribusi baru dari penelitian yang akan dilakukan. Jadi, seperti apa proses penentuan topik yang relevan dengan SOTA? Berikut informasinya.
Sekilas Tentang Topik Penelitian
Sebelum membahas penentuan topik penelitian yang relevan dengan State of the Art (SOTA). Maka perlu membahas apa itu topik penelitian dan pentingnya memilih topik yang menarik.
Dikutip dari Universitas Pertamina, topik penelitian adalah pokok dari rencana riset terkait dengan pembicaraan dalam penulisan artikel ilmiah atau penelitian. Secara sederhana, topik penelitian adalah apa yang akan diteliti.
Topik penelitian menjadi dasar dari kegiatan penelitian. Baik yang dilakukan mahasiswa, dosen, maupun peneliti profesional. Topik ini menentukan arah kajian literatur dan menyusun proposal penelitian yang tepat.
Namun, penentuan topik tidak selalu mudah karena harus memperhatikan beberapa hal. Mulai dari kesesuaian topik dengan bidang kepakaran yang ditekuni, memperhatikan ketersediaan referensi, memastikan topik dikuasai, memastikan topik tersebut memiliki research gap dengan penelitian terdahulu, dll.
Ciri-Ciri Topik Penelitian yang Menarik
Topik penelitian idealnya relevan dengan State of the Art (SOTA). Sekaligus, topik penelitian tersebut menarik. Lalu, seperti apa topik penelitian yang menarik? Yakni yang memenuhi sebagian atau seluruh ciri-ciri berikut:
1. Spesifik dan Fokus Utamanya Jelas
Ciri pertama, topik penelitian spesifik dan terfokus. Jika topik terlalu umum, maka berdampak pada penelitian yang melebar kemana-mana. Resikonya kebutuhan sumber daya penelitian tinggi dan sulit dijalankan. Maka harus spesifik dan terfokus.
2. Relevan dengan Isu Terkini
Topik penelitian jangan sampai usang digerus jaman. 20 Tahun yang lalu, topik tersebut mungkin menarik dan layak diteliti. Namun, di masa sekarang bisa terjadi sebaliknya.
Apalagi, salah satu tujuan penelitian adalah mencari solusi atas masalah di masyarakat. Maka topik harus relevan dengan isu terkini atau dengan masalah publik atau masyarakat luas.
3. Sesuai Kepakaran dan Minat Peneliti
Ciri ketiga, topik penelitian dikatakan menarik jika relevan dengan kepakaran dan minat peneliti. Hal ini penting, terutama bagi dosen dan peneliti profesional yang berkewajiban melaksanakan penelitian sampai memasuki masa pensiun.
Jadi, topik yang diteliti pastilah diteliti secara berkelanjutan. Mulai dari tahap penelitian dasar, penelitian terapan, sampai penelitian pengembangan. Supaya penelitian tidak menjadi mimpi buruk, perlu menentukan topik yang disukai dan dikuasai. Sehingga memudahkan penelitian dan menikmati prosesnya.
4. Memiliki Research Gap yang Jelas
Ciri keempat, topik penelitian yang menarik pasti memiliki research gap. Inilah alasan kenapa setelah dilakukan State of the Art (SOTA), topik penelitian dilakukan penyesuaian. Sebab bisa jadi, topik awal tidak ditemukan research gap pasca SOTA dilakukan. Sehingga peneliti harus beralih ke topik lain dengan research gap.
Baca Selengkapnya: Research Gap : Pengertian, Fungsi, dan Korelasinya dengan Novelty Penelitian
5. Memiliki Novelty (Kebaruan)
Topik penelitian yang menarik tidak hanya spesifik dan terfokus, akan tetapi juga memiliki novelty (kebaruan). Sehingga tidak akan sama persis dengan judul penelitian terdahulu. Jika dipublikasikan ke jurnal misalnya, maka judul artikel ilmiah tidak akan sama persis dengan artikel ilmiah lain.
Baca Selengkapnya: Memahami Apa Itu Novelty pada Penelitian dan Cara Menentukannya
6. Dapat Diteliti
Semenarik apapun topik penelitian, topik paling menarik adalah yang dapat diteliti. Tidak semua topik yang ditentukan di tahap awal penelitian bisa diteliti. Penyebabnya banyak. Misalnya data minim, tidak ada populasi yang memenuhi kriteria, data statistik tidak bisa diakses (bisa karena berbayar, sudah tidak update, dll), dll.
7. Topik yang Diteliti Memberi Kontribusi pada Iptek
Topik penelitian juga dikatakan menarik dan punya kelayakan tinggi diteliti, jika memiliki kontribusi jelas dan berdampak. Baik kontribusi secara teoritis, maupun secara praktis. Jadi, novelty pada topik penting untuk memastikan kontribusi nyata bisa diberikan. Sehingga penelitian tidak sia-sia dan berdampak.
Pentingnya Topik Penelitian yang Menarik
Salah satu strategi dalam menyusun atau menentukan topik penelitian yang menarik, adalah relevan dengan State of the Art (SOTA). Sebab dengan hasil SOTA, topik penelitian dijamin memiliki research gap. Sekaligus dijamin memiliki novelty da kontribusi baru.
Namun, seberapa penting sebenarnya memilih topik penelitian yang menarik? Jawabannya adalah sangat penting. Berikut beberapa alasannya:
1. Memastikan Penelitian Relevan dengan Kebutuhan Publik
Alasan pertama kenapa topik penelitian harus menarik, adalah agar penelitian tersebut tidak sia-sia. Kegiatan penelitian bukan sekedar kegiatan rutin bagi akademisi maupun peneliti. Melainkan ada tujuan besar mendapat temuan baru, memberi solusi baru, dan menunjang pengembangan iptek.
Jika topik yang diteliti tidak sesuai isu terkini dan tidak dibutuhkan masyarakat karena tidak relevan dengan masalah mereka. Maka penelitian menjadi sia-sia, tidak ada manfaatnya.
2. Hasil Penelitian Mudah Dipublikasikan
Jika topik yang diteliti terlalu umum, sudah sering diteliti, kontribusi baru tidak jelas, dan sejenisnya. Maka saat hasil penelitian dipublikasikan akan sulit menemukan publisher yang bersedia mempublikasikannya. Terutama publisher kredibel.
Standar publisher prosiding, jurnal, dan penerbit buku kredibel tentu tinggi. Pihak pengelola tidak akan mempublikasikan penelitian yang terlalu umum dan tidak berdampak. Sehingga topik harus menarik, agar hasilnya mudah dipublikasikan. Bahkan memperbesar potensi menembus jurnal SINTA, jurnal Scopus, dll.
3. Memastikan Research Gap dan Novelty Jelas
Arti penting yang ketiga, adalah memastikan research gap jelas. Begitu juga dengan novelty. Sesuai penjelasan sebelumnya, topik penelitian yang ditentukan di awal bisa jadi berubah. Terutama setelah State of the Art (SOTA) selesai dilakukan.
Hasil SOTA, salah satunya menemukan research gap dan novelty. Topik penelitian di awal, bisa jadi tidak ada research gap. Sehingga harus diubah ke topik penelitian lain menyesuaikan hasil SOTA. Tanpa research gap dan novelty, maka penelitian berpotensi mengulang penelitian terdahulu dan tentu tidak diperbolehkan.
4. Meningkatkan Dampak
Topik penelitian yang menarik, meningkatkan kualitas proses dan hasil penelitian. Sehingga saat hasil penelitian dipublikasikan, maka berpotensi punya visibilitas tinggi. Publikasi tersebut menarik minat banyak orang membaca, melakukan sitasi, dan dampaknya terus meluas.
5. Sumber Motivasi bagi Peneliti
Alasan berikutnya kenapa topik penelitian harus menarik, adalah agar menjadi salah satu sumber motivasi peneliti untuk melanjutkan kegiatan penelitian. Pasalnya, penelitian bukan kegiatan jangka pendek dan bisa selesai dalam sehari atau bahkan sebulan. Bisa berbulan-bulan sampai beberapa tahun.
Ada proses panjang yang dilalui peneliti dan ada banyak tahapan yang dilewati dalam penelitian. Jadi, jika topik penelitian tidak dianggap menarik dan dikuasai oleh peneliti. Maka bisa menghilangkan motivasi, malas meneliti, mudah jenuh, dan beresiko penelitian terbengkalai.
6. Memudahkan Akses ke Program Hibah
Alasan lainnya, topik penelitian harus menarik agar peluang meraih hibah penelitian menjadi tinggi. Program hibah penelitian, tentu memprioritaskan topik-topik yang menarik, punya urgensi tinggi, berdampak jelas,dan kontribusi baru nyata. Oleh sebab itu, tanpa topik yang menarik maka akan sulit meraih hibah.
Cara Menentukan Topik Penelitian yang Relevan dengan State of the Art (SOTA)
Topik penelitian yang baik dan menarik, salah satunya adalah relevan dengan hasil dari State of the Art (SOTA). Lalu, seperti apa tata cara menentukan topik penelitian yang relevan dengan SOTA? Berikut langkah-langkahnya:
1. Menentukan Topik Penelitian (Masih Tentatif)
Tahap pertama, tentu saja menentukan topik penelitian awal dan masih tentatif (bisa berubah). Sebab tanpa menentukan topik lebih dulu, maka kajian pustaka untuk proses SOTA tidak jelas. Jadi, meski topik harus relevan dengan SOTA bukan berarti SOTA dilakukan lebih dulu.
2. Melakukan Kajian Pustaka
Tahap kedua, adalah melakukan kajian pustaka. Bisa disebut sebagai proses menelusuri publikasi ilmiah terbaru yang relevan dengan topik penelitian yang ditentukan di tahap pertama.
Silahkan mulai mencari, mengumpulkan, dan memilih publikasi ilmiah mana saja yang relevan dan terbitan paling baru. Supaya tidak terlalu banyak dan memusingkan, maka utamakan publikasi ilmiah di 5 tahun terakhir.
Jika belum menemukan publikasi yang benar-benar relevan, kembangkan di 10 tahun terakhir. Sebab SOTA berbentuk teks yang menjelaskan rangkuman perkembangan penelitian dari topik yang dipilih. Maka kajian pustaka wajib dilakukan.
3. Melakukan Analisis State of the Art (SOTA)
Tahap selanjutnya, adalah mulai melakukan analisis terhadap State of the Art (SOTA). Analisis ini bertujuan untuk memahami perkembangan penelitian terdahulu, temuan dan kontribusi barunya apa, pendekatannya apa, dan kelebihan serta kelemahannya. Sehingga di tahap ini akan didapatkan juga research gap dan novelty.
4. Merumuskan Topik Penelitian Final
Setelah selesai melakukan analisis SOTA, maka akan ditemukan ada tidaknya research gap. Sesuai penjelasan sebelumnya, tidak semua topik penelitian yang ditentukan di awal memiliki research gap. Bisa jadi penelitian terdahulu tidak memiliki kesenjangan.
Jika hal ini terjadi atau dialami, maka peneliti perlu merumuskan topik penelitian baru dan disesuaikan dengan hasil analisis SOTA. Dalam analisis tersebut, mungkin menemukan research gap pada topik lain dengan pendekatan berbeda. Maka topik dirumuskan ulang dan relevan dengan SOTA.
5. Merumuskan Hasil SOTA
Tahap kelima, adalah merumuskan hasil SOTA. Sekali lagi, SOTA dalam bentukt teks dan menjadi bagian dari isi karya tulis ilmiah penelitian. Mulai dari proposal penelitian, laporan penelitian, sampai publikasi ilmiah sebagai luaran.
Dalam merumuskan atau menuliskan SOTA pada naskah, biasanya dimulai dengan menjelaskan perkembangan penelitian terdahulu pada topik yang dipilih. Kemudian menjelaskan pula pendekatan yang digunakan, dan kekurangannya.
Kekurangan ini yang dicoba diatasi dengan mengubah pendekatan berbeda. Pendekatan berbeda inilah yang disebut SOTA. Ciri khas perumusan SOTA dalam naskah adalah menggunakan kata hubung “namun”, “namun demikian”, “tetapi”, “however”, dan lain sebagainya. Berikut contohnya:
Beberapa penelitian menemukan bahwa pendekatan time blocking dan deep work efektif meningkatkan konsistensi penulisan akademik. Selain itu, penggunaan aplikasi digital seperti task management tools dan calendar planning terbukti membantu dosen dalam mengurangi distraksi dan meningkatkan fokus kerja.
Namun demikian, sebagian besar penelitian masih berfokus pada produktivitas artikel jurnal, bukan pada penulisan buku ajar. Selain itu, konteks penelitian lebih banyak dilakukan di negara maju, sementara studi pada perguruan tinggi di Indonesia masih terbatas. Dengan demikian, masih terdapat celah penelitian terkait model manajemen waktu yang efektif bagi dosen dalam menyelesaikan buku ajar secara terstruktur dalam jangka waktu tertentu.
6. Baca Ulang Rumusan SOTA dan Koreksi
SOTA yang sudah dirumuskan di dalam naskah, kemudian perlu dibaca ulang dan dilakukan koreksi jika diperlukan.
Melalui beberapa tahap atau langkah tersebut, maka peneliti bisa dengan mudah memastikan topik penelitian relevan dengan State of the Art (SOTA). Dampaknya, research dijamin ada dan jelas begitu juga dengan novelty penelitian.
Namun, ada kalanya topik yang ditetapkan di awal terdapat research gap. Sehingga secara otomatis tetap sesuai SOTA, meskipun tidak ada perubahan atau penyesuaian topik menjadi topik penelitian final.
Bangun Roadmap Riset untuk Akselerasi Publikasi
Menentukan topik penelitian yang relevan dengan state of the art bukan hanya membantu menemukan kebaruan, tetapi juga menjadi fondasi strategis dalam menyusun roadmap riset yang terarah dan berkelanjutan. Ketika analisis state of the art mampu memetakan gap penelitian dan tren mutakhir, dosen dapat merancang penguatan kepakaran secara sistematis sekaligus mempercepat publikasi ilmiah yang berdampak. Untuk membantu proses tersebut, Dunia Dosen menghadirkan Masterclass Roadmap Riset: Strategi Penguatan Kepakaran dan Akselerasi Publikasi, program yang membimbing Anda menyusun roadmap riset berbasis state of the art, memperjelas fokus keilmuan, serta merancang strategi publikasi yang tepat sasaran sehingga arah penelitian Anda tidak hanya relevan, tetapi juga progresif dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.














