6 Sumber Pendanaan Penelitian Dosen yang Wajib Diketahui
Kegiatan penelitian menjadi salah satu dari 3 tugas pokok dosen di Indonesia. Penelitian diketahui membutuhkan dana yang tidak sedikit. Baik untuk mendanai kegiatan penelitian tersebut, maupun publikasi hasilnya sebagai luaran. Lalu, darimana sumber pendanaan penelitian yang dilakukan dosen? Berikut informasinya.
Mengutip dari salah satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal Indian dermatology online journal, menjelaskan bahwa penelitian sangat mungkin dijalankan tanpa pendanaan. Artinya, ada beberapa penelitian yang tidak butuh dana sama sekali atau butuh tapi relatif kecil.
Penelitian seperti ini biasanya penelitian skala kecil. Misalnya penelitian yang data bersumber dari perpustakaan kampus, wawancara dengan dosen di kampus, dll. Kemudian tidak perlu akses ke laboratorium, kunjungan ke suatu lokasi, observasi di suatu tempat, dan luaran dalam bentuk laporan penelitian tanpa biaya publikasi ilmiah.
Hanya saja, tidak semua penelitian memiliki karakteristik seperti ini. Sehingga banyak penelitian yang membutuhkan dana dalam jumlah besar. Berikut beberapa kondisi yang dimaksud:
Dalam beberapa kondisi tersebut, menggunakan dana pribadi dosen. Maupun menggunakan insentif penelitian dari perguruan tinggi yang menaungi. Bisa jadi jauh dari kata cukup.
Sehingga, mau tidak mau dosen harus mencari sumber pendanaan penelitian eksternal (dari luar perguruan tinggi). Ketersediaan dana yang memadai, membantu kelancaran kegiatan penelitian yang memang memiliki banyak kebutuhan dan biaya.
Sumber pendanaan penelitian dosen tidak hanya dari dana internal perguruan tinggi yang menaungi. Sebab pendanaan ini bisa bersumber dari pihak-pihak eksternal. Berikut detail seluruh sumber pendanaan untuk penelitian dosen:
Jenis sumber pendanaan yang pertama untuk penelitian dosen adalah insentif dari perguruan tinggi yang menaungi. Biasanya juga diselenggarakan secara kompetitif oleh perguruan tinggi tersebut.
Setiap dosen yang tertarik dan memenuhi persyaratan bisa mengajukan proposal usulan dan akan diseleksi. Jika lolos, maka akan menerima pendanaan yang besarannya sesuai kebijakan perguruan tinggi penyelenggara.
Sumber pendanaan ini yang paling banyak dimanfaatkan oleh dosen. Sebab besaran pendanaan terbilang tinggi, cakupan penggunaan dana lebih luas (termasuk gaji peneliti), dan diselenggarakan rutin setiap tahun. Program hibah dari pemerintah biasanya diselenggarakan melalui BRIN dan sejumlah kementerian.
Sejumlah pemda dan pemkot secara rutin menggelar program hibah penelitian. Selain bisa diakses kalangan dosen, juga peneliti profesional dari berbagai lembaga penelitian. Sebagai contoh, ada program hibah penelitian dari pemkot Yogyakarta. Yakni dalam program CALL FOR RESEARCH PROPOSAL 2026 Tema Pembangunan 2027: “Akselerasi Pembangunan Prioritas untuk Kesejahteraan Masyarakat Kota Yogyakarta”.
Jenis keempat dari sumber pendanaan penelitian dosen berikutnya adalah hibah yang diselenggarakan luar negeri. Baik oleh pemerintah luar negeri melalui sejumlah kementerian yang bekerjasama dengan BRIN atau kementerian tertentu di Indonesia.
Baca juga: 4 Program Hibah Riset Internasional yang Dapat Diikuti Dosen
Sumber pendanaan berikutnya untuk penelitian dosen adalah dari mitra kolaborasi. Seringkali dosen berkolaborasi dalam penelitian dengan mitra dari industri. Baik skala UMKM sampai perusahaan manufaktur skala besar. Dalam kolaborasi tersebut, para mitra biasanya ikut memberikan bantuan pendanaan.
Sumber pendanaan juga bisa dari hibah penelitian yang diselenggarakan sejumlah yayasan maupun organisasi nonprofit. Baik itu yayasan dan organisasi di Indonesia maupun dari luar negeri. Contohnya The Sumitomo Foundation (Jepang), Daewoong Foundation (Korea Selatan), dll.
Melalui penjelasan sebelumnya, maka bisa dipahami ada banyak sekali jenis sumber pendanaan penelitian. Ada banyak pihak yang secara rutin maupun sesekali membuka program hibah penelitian dan bisa diakses oleh dosen di Indonesia.
Berikut adalah beberapa contoh daftar program hibah penelitian yang resmi dibuka di tahun 2026 dan bisa diakses kalangan dosen:
Program hibah penelitian dan PkM dari Kemdiktisaintek tahun anggaran 2026 sudah resmi dibuka. Penawaran sudah mulai dilakukan lewat kegiatan sosialisasi setiap menjelang akhir tahun. Jika tahun 2026 belum sempat ikut atau tidak lolos seleksi. Maka bisa mencoba lagi di tahun anggaran 2027.
Melalui hibah ini, Kemdiktisaintek mendukung penelitian dalam bentuk konsorsium. Sehingga kolaborasi sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan penelitian lintas bidang. Detail lebih rinci program RIKUB bisa membaca buku panduan yang bisa diunduh di website BIMA Kemdiktisaintek.
BRIN secara rutin menyelenggarakan hibah penelitian dan bisa diakses siapa saja, termasuk dosen yang memenuhi persyaratan. Ada banyak program hibah yang diselenggarakan BRIN. Mulai dari program bertajuk RIIM Kompetisi, RIIM Kolaborasi, Program Riset Inovasi Strategis, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dapatkan informasi lengkap Hibah BRIN RIIM: Ingin Daftar Hibah BRIN RIIM Kompetisi 2026? Ini Syarat dan Mekanismenya
Bank Indonesia juga terbilang sering menyelenggarakan program hibah penelitian dan bisa diakses kalangan dosen. Salah satu program hibah yang diselenggarakan di tahun 2026 adalah program Research Grant Bank Indonesia (RGBI).
Program hibah Open Ocean Research Grant Program 2026 bisa diakses mahasiswa S3 sampai peneliti atau dosen pemula. Program ini masih dibuka pendaftarannya sampai 10 Mei 2026. Informasi lebih rinci bisa ke https://www.its.ac.id/drpm/open-ocean-research-grant-program-2026/.
Banyaknya sumber pendanaan penelitian dalam bentuk program hibah kompetitif. Tentunya ikut serta dengan mengajukan proposal usulan tidak menjamin langsung diterima. Bisa jadi proposal ditolak atau gagal menerima hibah.
Salah satu strategi meningkatkan peluang lolos seleksi hibah adalah memilih program hibah dengan tepat. Berikut beberapa caranya:
Pertimbangan pertama, adalah skala dan kompleksitas penelitian yang dimiliki. Jika skala penelitian belum terlalu besar dan kompleksitasnya masih rendah. Hibah dari insentif perguruan tinggi bisa diutamakan. Begitu juga sebaliknya, bisa mengakses hibah nasional sampai internasional yang pendanaan lebih besar.
Jika masih belum punya pengalaman meraih hibah penelitian dan belum ada rekam jejak publikasi di jurnal nasional maupun internasional. Hibah internal perguruan tinggi bisa diprioritaskan.
Setelah punya pengalaman meraih hibah dan ada rekam jejak publikasi ilmiah. Barulah mengakses hibah berskala nasional sampai internasional. Tahapan ini penting, karena peluang lolos bisa lebih tinggi berkat rekam jejak yang dimiliki dan pertimbangan substansi proposal usulan.
Baca juga: Ingin Lolos Hibah? Ini 11 Cara Membuat Proposal Hibah Penelitian Supaya Lebih Kuat
Pertimbangan ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Mulai dari sumber daya dalam bentuk waktu, jumlah SDM atau tim peneliti, dan lain sebagainya. Jika punya waktu terbatas, hibah internal perguruan tinggi lebih ideal.
Sebaliknya, jika urgensi penelitian tidak tinggi sehingga bisa dijalankan tahun depan. Maka hibah nasional dan internasional bisa dicoba. Sebab dari proses pengajuan proposal, seleksi, sampai pelaksanaan penelitian butuh jeda waktu lumayan lama. Misalnya sampai beberapa bulan.
Pastikan selain memenuhi persyaratan, sudah membaca buku panduan program hibah yang dituju. Kemudian menyusun proposal usulan menyesuaikan ketentuan yang dijelaskan dalam buku panduan. Perhatikan juga pemilihan topik, selain harus relevan juga menarik perhatian asesor hibah.
Memiliki rekam jejak publikasi jurnal SINTA merupakan hal penting bagi dosen. Hanya saja, menembus jurnal…
Penolakan artikel ilmiah bisa terjadi karena berbagai sebab dan tentunya berkaitan dengan kesalahan penulisan jurnal…
Topik mengenai kebijakan Kemdiktisaintek melakukan penutupan prodi (program studi) di perguruan tinggi menjadi perbincangan hangat.…
Menjalankan tri dharma dan mengembangkan karir akademik. Tentunya membuat dosen berhadapan dengan berbagai tantangan. Meningkatkan…
Mengembangkan jenjang karir akademik dosen tentunya bukan hal yang mudah. Tidak sedikit dosen butuh waktu…
Setiap dosen di Indonesia tentunya ingin karir akademiknya terus berkembang. Kemudian memiliki keinginan untuk menjadi…