Sebelum mulai menyusun dan menerbitkan naskah buku referensi. Para dosen tentunya perlu memastikan sudah memahami dan memenuhi ciri buku referensi tersebut. Ciri ini menjadi karakteristik khas sekaligus standar yang harus dimiliki buku referensi.
Jika tidak terpenuhi, maka akan sulit menentukan apakah naskah yang disusun termasuk buku referensi atau tidak. Dampaknya bagi dosen akan lebih luas lagi. Sebab ikut mempengaruhi pelaporan BKD di SISTER, penilaian angka kredit saat kenaikan jabatan akademik, dll. Jadi, apa saja ciri khasnya? Berikut informasinya.
Daftar Isi
ToggleApa Saja Ciri-Ciri Buku Referensi yang Sesuai Standar Kemdiktisaintek?
Salah satu tahapan penting dalam menyusun buku referensi di kalangan dosen Indonesia, adalah mempelajari definisi dan ciri-cirinya. Adapun untuk ciri buku referensi, secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Disusun Berdasarkan Hasil Penelitian DosenÂ
Naskah buku referensi disusun dosen dari hasil kegiatan penelitian yang sudah dijalankan dan diselesaikan. Inilah yang membuat buku referensi bagian dari luaran penelitian. Pada masa sekarang, lebih umum menjadi luaran tambahan.
Sebab buku referensi berisi hasil penelitian, sehingga menjadi media penyebarluasan hasil penelitian ke masyarakat luas. Melalui langkah ini, hasil penelitian bisa diakses lebih banyak pembaca. Kemudian memperbesar dampaknya juga.
Baca juga artikel berikut: Buku Referensi dan Buku Ajar, Apa Saja Perbedaannya?
2. Substansi Pembahasan di Satu Bidang KeilmuanÂ
Meskipun ada dua topik atau lebih yang diangkat dosen di dalam naskah buku referensi. Namun, topik-topik tersebut masih di satu ruang lingkup bidang keilmuan yang sama.
Ciri ini juga yang membuat buku referensi ideal disusun dan diterbitkan para dosen secara kolaboratif. Selain itu, diperbolehkan juga untuk terbit dalam seri. Misalnya terbit menjadi dua buku, baik terbit bersamaan maupun ada jeda waktu.
3. Disajikan dalam Gaya Formal
Sesuai dengan ketentuan, gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa formal. Sehingga mengedepankan kalimat efektif, ragam kata baku, dan memenuhi ketentuan EYD lainnya.
Berhubung buku referensi tidak hanya dibaca oleh kalangan dosen dan peneliti. Maka lebih mengedepankan gaya bahasa formal yang populer. Artinya, pilihan kata (diksi) mengutamakan yang paling umum digunakan dalam percakapan.
4. Ditujukan untuk DosenÂ
Dosen menyusun buku referensi untuk dibaca dosen lain. Baik sebagai pegangan saat mengisi perkuliahan pada mata kuliah yang relevan. Maupun dijadikan referensi.Â
Misalnya dijadikan referensi saat menyusun proposal penelitian, artikel ilmiah untuk prosiding, modul pembelajaran, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, buku referensi yang bisa diakses masyarakat luas. Tentunya tidak tertutup kemungkinan untuk dibaca siapa saja yang membutuhkan informasi di dalamnya.
Baca juga artikel berikut: Seberapa Penting Menyusun Kerangka Proposal Penelitian? Berikut Penjelasan RincinyaÂ
5. Dipublikasikan dengan ISBNÂ
Ciri dan standar Kemdiktisaintek ini sejalan dengan peran buku referensi sebagai media penyebarluasan hasil penelitian. Oleh sebab itu, pasca disusun maka naskahnya wajib diterbitkan oleh dosen melalui jasa penerbit resmi.
Sebab ada standar penerbitan lain yang harus dipenuhi, yaitu terbit dengan ISBN. Jika tidak diterbitkan penerbit resmi, tentunya akan sulit mengajukan ISBN ke Perpusnas RI.
Baca juga: Cara Mendapatkan ISBN untuk Karya Ilmiah Book Chapter Nasional
6. Jumlah Halaman Minimal 125 LembarÂ
Ciri umum berikutnya dari buku referensi adalah jumlah halaman minimal 125 lembar. Secara umum, ciri ini merupakan standar baru dari Kemdiktisaintek sejalan dengan penerbitan Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 di tahun 2026.
Bagi beberapa dosen, memenuhi standar 125 halaman mungkin bukan hal yang mudah. Selain diatasi dengan memperluas dan memperdalam kajian pustaka. Juga bisa dengan berkolaborasi, sehingga ada pembagian bab yang disusun setiap anggota tim penulis.
7. Dicetak dalam Kertas Ukuran UNESCOÂ
Ciri ini wajib dipenuhi untuk dosen yang menerbitkan buku referensi dalam bentuk cetak. Buku referensi diperbolehkan terbit dalam versi elektronik. Selama memenuhi ciri buku referensi lain yang menjadi standar Kemdiktisaintek. Maka tentunya tetap diakui dalam BKD hingga kenaikan jenjang jabatan akademik.Â
Jadi, jika Anda seorang dosen dan berencana menerbitkan buku referensi dalam versi cetak. Pastikan sudah dikomunikasikan dengan penerbit untuk memakai ukuran UNESCO. Paling aman, memilih penerbit yang sudah berpengalaman menerbitkan buku referensi.Â
Arti Penting Memahami dan Memenuhi Ciri Buku Referensi bagi Dosen
Bagi dosen, memahami dan mematuhi seluruh ciri buku referensi bukan sekadar formalitas. Artinya, pemahaman dan kepatuhan tersebut memiliki arti penting. Sehingga menjadi kewajiban yang sekaligus kebutuhan untuk dipenuhi setiap kali ingin menerbitkan buku referensi. Arti penting yang dimaksud antara lain:
1. Membantu Dosen Membedakan Buku Referensi dengan Buku Ilmiah LainÂ
Arti penting yang pertama, adalah membantu dosen untuk membedakan setiap buku ilmiah. Khususnya perbedaan antara buku referensi dengan monograf. Sebab kedua jenis ini punya beberapa kesamaan, sehingga sering dianggap sama.
Ciri dari buku referensi yang dipahami membantu dosen menyusun naskah yang tepat. Sehingga bisa dibedakan dengan buku monograf maupun buku ilmiah lain. Jika tidak, ada risiko tertukar. Padahal rencana awal ingin menerbitkan buku referensi dan bisa gagal karena kesalahpahaman tersebut.
Baca juga artikel berikut: Perbedaan Buku Ajar, Buku Monograf, dan Buku Referensi
2. Lebih Tepat dalam Menentukan Buku Ilmiah yang Sebaiknya DisusunÂ
Arti penting yang kedua, adalah bisa lebih memudahkan dosen dalam menentukan buku ilmiah apa yang sebaiknya disusun dan diterbitkan. Misalnya saja, jika dosen memiliki modul pembelajaran maka lebih ideal dikonversi menjadi buku ajar.
Apabila seorang dosen belum memahami ciri buku referensi. Maka akan lebih sulit menentukan harus menulis buku ilmiah yang mana. Hal ini tentu menjadi kendala dan bisa membuat produktivitas penerbitan buku ilmiah stagnan terlalu lama atau rendah.
Baca juga: Cara Memenuhi Angka Kredit Dosen melalui Publikasi Buku Referensi dan Monograf
3. Menunjang Proses PenerbitanÂ
Dosen yang memahami dan memenuhi standar ciri khas tersebut bisa memilih penerbit yang tepat. Misalnya, meski ada penerbit yang fokus menerbitkan buku ilmiah. Belum tentu menerima penerbitan naskah buku referensi.
Kedua, penerbit yang memang menerima penerbitan buku referensi bisa memastikan naskah sudah sesuai standar. Sehingga risiko ditolak penerbit, maupun ada permintaan revisi total atau direkomendasikan konversi KTI.
4. Memudahkan saat Klaim di Laporan BKDÂ
Menerbitkan buku referensi tidak bisa dilakukan spontan atau mendadak oleh dosen. Karena harus didahului oleh kegiatan penelitian dan sudah didapatkan hasilnya (sudah selesai).Â
Tak hanya itu, penerbitannya juga harus mempertimbangkan berbagai aspek akademik. Salah satunya terkait BKD (Beban Kerja Dosen). Buku referensi ideal untuk memenuhi kekurangan SKS yang lumayan tinggi. Yakni mencapai 10 SKS per judul dengan batas kepatutan satu buku per tahun.Â
Jika dosen butuh SKS tinggi untuk memenuhi BKD, maka buku referensi bisa diandalkan. Pertimbangan lainnya, untuk memenuhi proporsi BKD, dimana 9 SKS dari kegiatan pendidikan dan penelitian. Jadi, buku referensi bisa diprioritaskan untuk memenuhinya.
5. Relevan dengan Strategi Pengembangan Karir AkademikÂ
Dosen juga harus memastikan proporsi penelitian terpenuhi sesuai ketentuan Kemdiktisaintek. Misalnya, dosen ingin naik ke jenjang Lektor Kepala maka ada proporsi penelitian di minimal 40% terhadap AK Kumulatif jenjang tujuan.Â
Jika proporsi sudah terpenuhi, akan tetapi jumlah AK Kumulatif belum. Dosen tidak perlu menerbitkan buku di kegiatan penelitian (buku referensi, monograf, maupun book chapter). Namun bisa diubah ke buku pada kegiatan pendidikan. Misalnya fokus menerbitkan buku ajar saja.
Baca juga artikel berikut: Ketentuan dan Cara Pemenuhan Angka Kredit Penelitian (AK Prestasi)Â
Apa yang Perlu Dilakukan Jika Naskah Buku Referensi Belum Memenuhi Ketentuan?
Secara garis besar, ada 2 kemungkinan kenapa naskah yang disusun tidak memenuhi ciri dari buku referensi. Pertama, karena naskah tersebut memang idealnya tidak disusun dan diterbitkan menjadi buku referensi. Akan tetapi buku ilmiah lain, misalnya buku ajar atau monograf.
Kedua, naskah sudah ideal disusun menjadi buku referensi. Hanya saja perlu pengembangan struktur atau aspek lain agar memenuhi ciri-ciri buku referensi. Dalam kedua kondisi ini, solusi yang ditempuh tentu berbeda.
Baca juga: Cara Menulis dan Menerbitkan Buku Monograf Sesuai Standar KemdiktisaintekÂ
Jika dalam kondisi yang pertama, maka dianjurkan untuk fokus menyusun naskah buku ilmiah lain yang sesuai. Misalnya, naskah buku disusun dari satu kegiatan penelitian yang sudah diselesaikan oleh dosen. Sehingga hanya ada satu topik, maka bisa fokus dijadikan buku monograf dengan pembahasan diperdalam.
Jika dalam kondisi kedua, maka bisa melakukan penyempurnaan naskah. Misalnya, jika ciri buku referensi yang belum terpenuhi adalah substansi pembahasan di beberapa topik. Maka bisa menambahkan topik di satu bidang keilmuan yang sama. Baik dari hasil penelitian sendiri maupun berkolaborasi dengan dosen lain yang kepakaran di bidang yang sama.
Pentingnya Memilih Penerbit Buku Referensi yang Tepat
Membahas mengenai apa dan bagaimana dosen memenuhi ciri buku referensi. Maka tidak terlepas dari pemilihan penerbit buku ilmiah yang tepat. Peran penerbit sangat krusial untuk membantu dosen memenuhi ciri dari buku referensi. Peran tersebut, misalnya:
1. Menerapkan Editorial untuk Bisa Dipastikan Memenuhi Ciri Buku ReferensiÂ
Penerbit resmi dan kredibel bisa membantu dosen memastikan memenuhi ciri atau standar buku referensi. Jika sembarangan, maka editorial tidak berjalan. Naskah buku yang tidak sesuai standar Kemdiktisaintek tetap terbit. Dampaknya, bisa tidak diakui asesor BKD maupun asesor penilaian angka kredit.Â
2. Memberikan Layanan Konsultasi dan Evaluasi Naskah
Pada saat ciri dari buku referensi ditemukan belum terpenuhi. Pihak penerbit, melalui editor bisa menyampaikan hal tersebut kepada dosen (selaku penulis naskah).Â
Editor bisa mengarahkan ke layanan konsultasi untuk membantu dosen mendapat pendampingan mencari solusi terbaik. Sekaligus rekomendasi layanan lain dari penerbit yang relevan untuk membantu perbaikan naskah, jika memang memungkinkan.
3. Memfasilitasi Proses Revisi dan Penulisan UlangÂ
Penerbit juga berperan penting dalam memfasilitasi proses revisi hingga risiko penulisan ulang. Editor penerbit pasca melakukan editing dan penyuntingan, bisa memberi catatan bagian mana saja yang bisa direvisi agar ciri buku referensi bisa dipenuhi. Begitu juga bagian-bagian yang perlu ditulis ulang oleh dosen.
Memahami peran atau andil yang sangat besar dari penerbit buku. Maka menjadi sumber pemahaman baru bagi para dosen untuk lebih teliti memilih penerbit. Sekaligus tidak hanya fokus pada satu aspek saja saat memilih. Misalnya hanya fokus pada berapa biaya penerbitan buku referensi yang harus dibayarkan.
Biaya penerbitan tidak menjamin bisa membantu memastikan ciri buku referensi sudah terpenuhi atau belum. Jadi, pastikan memilih penerbit kredibel dan memang sudah berpengalaman menerbitkan buku referensi. Sehingga lebih terjamin adanya proses editorial yang ketat dan profesional.Â
Bagi Anda yang saat ini terkendala untuk terhubung ke jasa penerbit buku kredibel. Sebab kesulitan memenuhi ciri buku referensi sesuai standar Kemdiktisaintek. Maka bisa beralih ke layanan penerbitan dari Deepublish. Termasuk kemungkinan mengakses layanan Konversi KTI yang disediakan.
sumber:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/KEP/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktis
- Zulfikar, R. (2021). Menulis Buku Monograf dan Referensi. Webinar Pelatihan Penulisan Buku Referensi & Monograph UPT Publikasi Uniska MAB Banjarmasin. https://ppj.uniska-bjm.ac.id/wp-content/uploads/2021/11/Materi-Menulis-Buku-Referensi-dan-Monograph_Rizka-Zulfikar.pdf
- Bagaimana Memilih Penerbit Buku yang Profesional dan Terpercaya? (2026). Penerbit Enigma. Diakses pada 2 November 2026 dari https://publishing.enigmagroupindonesia.co.id/bagaimana-memilih-penerbit-buku-yang-profesional-dan-terpercaya/














