Dosen Wajib Tahu! Jenis Luaran Hibah Penelitian & Strategi Mencapainya
Menentukan luaran dalam penelitian yang didanai suatu program hibah tidak bisa asal-asalan. Selain harus menyesuaikan ketentuan hibah tersebut. Dosen pengusul juga harus memastikan bisa dicapai. Mengenal jenis luaran dalam program hibah tentu menjadi hal penting. Berikut informasinya.
Dalam program hibah penelitian, tentunya akan mengatur atau menetapkan luaran yang harus dicapai penerima hibah tersebut. Sebelum memahami bagaimana menentukan target luaran hibah yang tepat. Penting untuk mengenal jenis-jenis luaran tersebut. Yaitu:
Secara umum, jenis publikasi ilmiah yang menjadi luaran ditentukan penyelenggara hibah. Jenis publikasi ilmiah tersebut bisa salah satu atau beberapa sekaligus dari jenis-jenis di bawah ini:
Karya tulis ilmiah pertama sebagai luaran program hibah dalam bentuk publikasi ilmiah adalah artikel ilmiah pada jurnal. Artinya, dosen penerima hibah menyusun artikel ilmiah yang dipublikasikan ke sebuah jurnal.
Jurnal disini bisa jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, maupun jurnal internasional bereputasi. Pada beberapa hibah, juga ditetapkan minimal jurnal tersebut di peringkat berapa.
Baca juga: Format Penulisan Artikel Jurnal Terindeks SINTA
Jenis luaran hibah kedua dalam bentuk publikasi ilmiah adalah artikel prosiding. Artinya, dosen penerima hibah akan menyusun artikel ilmiah berisi hasil penelitian. Kemudian dipresentasikan dalam seminar atau konferensi ilmiah.
Pihak penyelenggara kemudian menerbitkan artikel tersebut melalui prosiding yang dikelola. Prosiding dalam luaran program hibah bisa prosiding nasional atau prosiding internasional.
Baca juga: Pedoman Penulisan Daftar Pustaka Jika Sumber dari Prosiding dalam Berbagai Gaya Sitasi
Jenis luaran program hibah berikutnya dalam bentuk publikasi ilmiah adalah menerbitkan buku ilmiah. Secara umum, buku ilmiah berisi hasil penelitian mencakup 3 jenis. Yakni buku monograf, referensi, dan bunga rampai (book chapter).
Baca juga: Pedoman Penulisan Buku Ajar dan Buku Monograf Sesuai Standar Ditjen Dikti
Seperti yang diketahui, Kekayaan Intelektual (KI) atau disebut juga dengan istilah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) memiliki jenis yang beragam. Berikut jenis-jenis HKI yang sering dijadikan luaran wajib dalam hibah penelitian:
Hak Cipta dipahami sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap suatu ciptaan atau karya. Luaran dalam bentuk Hak Cipta biasanya untuk hasil penelitian dalam bentuk karya. Baik itu karya tulis ilmiah seperti buku, karya seni, dan lain sebagainya.
Hasil penelitian dosen yang didanai sebuah program hibah bisa dalam bentuk rancangan maupun karya teknologi. Sehingga luaran wajib yang ditetapkan penyelenggara biasanya salah satu dari Hak Kekayaan Industri.
Entah menetapkan HKI harus berbentuk paten, merek dagang, rahasia dagang, desain industri, varietas tanaman, dan lain sebagainya. Jenis Hak Kekayaan Industri sebagai luaran juga akan ditentukan dan dicantumkan di buku panduan hibah.
Jenis luaran hibah penelitian berikutnya adalah dalam bentuk prototipe sampai dalam bentuk produk. Prototipe dipahami sebagai desain produk awal atau model awal untuk menguji suatu konsep atau teknologi. Sementara produk adalah hasil akhir dari pengembangan prototipe sehingga cenderung lebih siap untuk digunakan.
Teknologi ini bisa dalam bentuk perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware). Sehingga bisa digunakan atau dimanfaatkan sebagai solusi dalam menghadapi permasalahan maupun tantangan. Baik di kegiatan industri maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat luas.
Setelah mengenal berbagai jenis luaran hibah penelitian. Maka hal penting berikutnya adalah memahami bagaimana menentukan target luaran yang akan dicapai. Penentuan luaran dilakukan di tahap paling awal. Yakni sebelum menyusun proposal usulan. Berikut kiat-kiat yang dapat diaplikasikan:
Dalam hibah, secara sederhana dosen mengajukan permohonan pendanaan. Maka harus mengikuti ketentuan dari penyedia dana (penyelenggara hibah) tersebut. Luaran wajib biasanya sudah ditentukan.
Jika hibah dihadirkan dalam beberapa skema, maka luaran wajib masing-masing skema juga akan ditentukan. Dosen yang tertarik dengan hibah ini maka harus menyesuaikan. Jangan melakukan inisatif sendiri, misalnya merasa luaran yang dipilih lebih baik levelnya dibanding yang ditentukan penyelenggara.
Baca juga: 6 Sumber Pendanaan Penelitian Dosen yang Wajib Diketahui
Secara umum, penelitian dengan durasi panjang misalnya di atas 3 tahun. Memiliki kemungkinan mencapai luaran dalam bentuk prototipe, produk, dan sejenisnya. Namun, jika durasinya di bawah 2 tahun misalnya 1 tahun. Maka rata-rata target luaran wajib berbentuk karya tulis ilmiah atau publikasi ilmiah.
Jadi, menentukan target luaran di proposal usulan bisa memperhatikan durasi penelitian yang diusulkan. Kemudian, memperhatikan pula besaran pendanaan yang diajukan atau yang disetujui. Sebab mencapai luaran biasanya butuh biaya.
Kiat ketiga dalam menetapkan target luaran hibah adalah memperhatikan atau menggunakan roadmap penelitian. Setiap dosen tentunya menyusun roadmap penelitian. Dalam roadmap tersebut juga tercantum target luaran yang ingin dicapai.
Jika program hibah yang dituju relevan dengan isi roadmap penelitian. Maka memudahkan dosen menentukan target luaran. Yakni mengikuti yang ditentukan saat menyusun roadmap. Tentunya dengan catatan tambahan, ada kesesuaian dengan ketentuan program hibah.
Dalam program hibah, penelitian yang diajukan biasanya dalam bentuk tim pengusul. Jadi, menentukan target luaran harus melibatkan seluruh tim. Jangan sampai ditentukan sendiri dan menjadi masalah di kemudian hari. Sangat mungkin ada anggota yang memiliki pandangan lebih teliti. Jadi, luaran yang dipilih juga tepat.
Kiat lain yang bisa dicoba adalah meminta masukan dari mentor. Misalnya dosen memiliki mentor dari dosen lebih senior di perguruan tinggi. Masukan dari mentor yang sudah lebih berpengalaman meraih hibah penelitian tentunya penting. Sehingga tidak keliru saat menetapkan target luaran.
Setelah menentukan target luaran hibah dengan tepat, setidaknya setelah melakukan berbagai pertimbangan dengan tim pengusul. Maka luaran tersebut tentunya perlu diusahakan untuk dioptimalkan. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:
Mencapai luaran program hibah secara optimal perlu mendayagunakan seluruh aset dan atau fasilitas penelitian yang bisa diakses. Sehingga menunjang kebutuhan data yang lebih valid dan minim atau bahkan bebas bias.
Kemudian fasilitas tertentu juga memungkinkan penelitian lebih lancar dan bisa diselesaikan tepat waktu. Semakin cepat selesai suatu penelitian, semakin cepat pula luaran yang dijanjikan dalam proposal usulan bisa dicapai.
Dalam proposal usulan, biasanya tidak hanya menjelaskan metode penelitian dan keseluruhan rencana penelitian. Namun juga mencakup RAB dan disusul dengan jadwal kegiatan penelitian tersebut.
Sebagai upaya untuk segera menyelesaikan penelitian dan mencapai luaran yang dijanjikan. Maka dosen pengusul perlu disiplin mengikuti jadwal penelitian yang sudah dirancang. Sehingga memiliki waktu yang memadai untuk mencapai luaran yang dijanjikan.
Khusus untuk luaran hibah dalam bentuk publikasi ilmiah. Maka jurnal, prosiding, dan penerbit buku perlu ditentukan dari jauh-jauh hari. Sebab penentuannya harus diakui butuh waktu tidak sebentar.
Jika baru ditentukan di tengah penelitian, maka dikhawatirkan ada kekeliruan. Misalnya tidak memenuhi ketentuan dari penyelenggara hibah seperti belum terakreditasi, bukan di peringkat yang sesuai, dan sebagainya.
Optimasi luaran dalam program hibah akan lebih mudah jika berkolaborasi. Jika phibah hanya mendanai penelitian tunggal bukan kolaborasi. Maka setidaknya membentuk tim yang solid. Misalnya salah satu anggota punya pengalaman menjadi penulis korespondensi jurnal Scopus. Sehingga bisa membagi tugas dengan tepat.
Baca juga: Apa Itu Bukti Korespondensi Jurnal dan Cara Mendapatkannya
Optimasi berikutnya adalah dengan meraih luaran tambahan. Supaya efektif dan efisien, luaran tambahan dicapai dengan proses konversi. Misalnya artikel jurnal dikonversi menjadi buku monograf.
Menyelesaikan penelitian hibah sering kali menyisakan tantangan krusial pada tahap publikasi luaran di jurnal berkualitas. Kekhawatiran akan proses penelaahan (review) yang panjang serta risiko penolakan sering menjadi beban bagi para dosen, mengingat hal tersebut berdampak langsung pada kelancaran pelaporan hibah penelitian.
Kondisi ini dapat diatasi dengan penguasaan strategi yang tepat, sebagaimana keberhasilan rekan sejawat yang mampu mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA maupun bereputasi internasional (Scopus) secara efisien. Publikasi yang tepat waktu tidak hanya menggugurkan kewajiban hibah, tetapi juga meningkatkan rekognisi akademik Anda di tingkat internasional tanpa harus terjebak dalam siklus revisi yang melelahkan.
Guna mencapai efektivitas tersebut, Dunia Dosen menghadirkan e-course Strategi Publikasi Sukses Tembus Jurnal SINTA & Scopus. Melalui program ini, Anda akan dipandu langsung oleh narasumber berpengalaman untuk membedah metodologi publikasi secara komprehensif. Materi kelas ini dapat diakses secara lifetime sebagai referensi berkelanjutan dalam karier akademik Anda.
Dapatkan materi lengkap dan akses selamanya, serta panduan lengkap oleh narasumber berpengalaman!
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara rutin menyelenggarakan program hibah penelitian dan terbuka untuk…
RIIM Kompetisi yang diselenggarakan BRIN tahun 2026, pendaftaran dibukan dalam bentuk per batch atau per…
Dosen tentunya perlu memahami bahwa program hibah tidak hanya disediakan oleh Kemdiktisaintek. Ada banyak pihak…
Program hibah penelitian tentu diminati semua dosen. Jika bisa diakses siapa saja, bukan hanya dosen…
Kegiatan penelitian menjadi salah satu dari 3 tugas pokok dosen di Indonesia. Penelitian diketahui membutuhkan…
Mempertimbangkan penggunaan tools AI untuk menyusun proposal hibah tentunya bisa dilakukan para dosen. Melalui langkah…