fbpx

Mau menerbitkan buku lebih hemat? Yuk, ambil diskon cetak buku hingga 35%! Klik di sini.

RA Yayi Suryo Prabandari, Tekuni Psikologi Klinis Membawanya Jadi Guru Besar di FK UGM

psikologi klinis
Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D saat ditemui tim duniadosen.com di ruangan kerjanya di Gedung Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UGM, beberapa waktu lalu. (Foto: duniadosen.com/ta)

Semasa menjadi mahasiswi di S1 Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dra. RA Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D memang berangan-angan menjadi dosen. Menurutnya, menjadi dosen psikologi memiliki mobilitas tinggi tetapi masih bisa membagi waktu untuk keluarga. Namun, siapa sangka disaat menekuni Psikologi Klinis, Yayi justru masuk bidang kedokteran. Terperangkap di fakultas Kedokteran dan dihinggapi ragam tantangan. Ia pun merasa tertantang untuk berkarya serta berinovasi dalam bidang penelitian. Ternyata, ragam penelitiannya justru memperlancar jalan Yayi menjadi dosen hingga menjadi seorang Guru Besar di Departemen Ilmu Perilaku, Kesehatan Lingkungan dan Kedokteran Sosial FK UGM.

“Saya melihat pekerjaan dosen terlihat sangat fleksibel. Dosen Psikologi bisa fleksibel antar anak, bisa kerja sambil mengasuh anak, tidak seperti pegawai bank. Dari situ saya makin tertarik untuk menjadi dosen,” ujarnya kepada tim duniadosen.com.

Lulus dari Psikologi UGM 1986, Yayi pun melamar menjadi dosen di FPsi UGM, tapi ditolak. Ia tidak tahu alasan spesifik kenapa dirinya ditolak, namun ia berasumsi karena ia belum menikah waktu itu. Akhirnya Yayi ditawari sang ayah (Alm) Prof DR Dr KPH Soejono Prawirohadikusumo (Prof. Yono) untuk bekerja di rumah sakit jiwa miliknya.

“Saya tahu waktu itu ada dosen yang kemudian pindah dengan alasan menikah. Kemungkinan saya ditolak karena mereka tidak mau gambling dengan merekrut dosen yang belum menikah,” ucapnya.

Ditolak di Psikologi, Ditawari di Kedokteran

Ditolak di FPsi, Yayi mememilih menjadi psikolog di rumah sakit jiwa (RSJ) milik ayahnya (Alm) Prof DR Dr KPH Soejono Prawirohadikusumo (Prof. Yono). Sembari menunggu kesempatan lain untuk menjadi dosen, Yayi ingin melanjutkan pendidikan jenjang master di luar kota, namun tidak mendapat izin oleh orang tua karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarganya.

Karena tak boleh meninggalkan Yogyakarta, Yayi akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan master di Program Magister Psikologi Klinis UGM. Semasa menempuh pendidikan master tersebut, Yayi masih menjadi psikolog di RSJ ayahnya. Saat itu pula, Yayi dikenalkan dr. Rossi Sanusi, MPA., Ph.D., Ketua Program Pendidikan Kedokteran Komunitas di UGM yang dahulunya merupakan sebagai supervisor ayahnya saat S3. Dr. Rossi menawarkan Yayi untuk menjadi dosen di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (pada 2016 bagian ini dibagi menjadi 3 departemen, salah satunya menjadi Departemen Ilmu Perilaku, Kesehatan Lingkungan dan Kedokteran Sosial).

Meskipun keilmuan Yayi tentang Psikologi Klinis sangat relevan untuk bergabung satu bidang dengan sang ayah yaitu bidang Psikiatri, yang pada saat itu juga menjadi dosen. Namun Yayi tegas tidak mau jika bergabung dengan sang Ayah.

1990 Yayi menerima tawaran sebagai bawahan dr. Rossi yang saat itu sebagai Ketua Program Pendidikan Kedokteran Komunitas/ CCHC (Comprehensive Community Health Care) sekaligus sebagai kepala bagian IKM. Meski begitu, ia harus belajar banyak hal terkait bidang kedokteran. “Saya dikasih buku Clinical Epidemiology sama pak Rossi kemudian saya baca. Sesudah itu langsung diikutkan dalam diskusi jurnal. Saya benar-benar di-encourage untuk berkembang oleh beliau,” kata perempuan yang masih memiliki kekerabatan Pakualaman tersebut.

Seminggu di program tersebut, Yayi mengaku stres. Ia bahkan menderita diare karena tidak terlalu suka berada di program tersebut karena sedikit ada campur tangan ayahnya. Ia juga masih dibayangi kegagalan menjadi dosen di bidang Psikologi.

Meski begitu, Yayi tetap ingin berusaha melakukan yang terbaik di program tersebut karena pimpinannya menilai Yayi punya kinerja baik. Pun, ia mengaku dr. Rossi selalu memotivasi dirinya. Pada 1993, setelah Ketua IKM lengser, Yayi ditawari untuk menjadi pegawai negeri. Karena belum siap, Yayi pun menolak tawaran tersebut.

Pada 1997, Yayi resmi menjadi dosen tetap di IKM UGM. Karena ingin terus belajar dan mengembangkan diri, Yayi mendaftar dalam QUE (Quality for Undergraduate Education) Project, salah satu program beasiswa untuk menempuh pendidikan doktor di perguruan tinggi negeri. Pada 1999, ia diterima di Pusat Epidemiologi Klinis dan Biostatistik (dalam Kedokteran Komunitas), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Newcastle, Australia.

Masa tempuh Pendidikan S3 Yayi tidak berjalan mulus seperti rekan-rekannya yang lain, karena ibu tiga anak ini harus pulang pergi Indonesia – Australia tiga bulan sekali atau setiap libur semester. Tak lain, karena ia tidak bisa meninggalkan lama keluarganya terlebih sang ibu yang sedang sakit. Tahun kedua, Yayi baru memulai penelitiannya dan masih tentang rokok. Dari sana, Yayi pun mendapat tawaran penelitian lain.

Sebelum lulus, Yayi diperkenalkan rekan pembimbingnya yang sedang mencari peneliti junior tentang rokok. Akhirnya Yayi pun bergabung dalam project yang dibiayai NIH tersebut. Project 10 tahun itu, di lima tahun pertama meneliti tentang tembakau Indonesia. Kemudian dilanjut kerjasama oleh Universitas Minnesotta, Universitas Kansas Missouri, dan Universitas Arizona, ketiganya di US dan Srhee Cithra Thirunnal Medical College, di Kerala, India.

”2001 masih riwa-riwi, dan penelitian selama 1,5 tahun. 2002  mulai analisis data, 2003 mulai menulis, dan 2004 baru submit. 2006 lulus. Jadi agak lama 5 tahunan baru lulus, karena saya harus bridging course. Karena kan saya masuk di Fakultas Kedokteran tapi pendidikan S1 dan S2nya Psikologi,” kata Yayi.

Yayi kembali ke Fakultas Kedokteran (FK) UGM untuk mengabdi. Sekembalinya dari Australia, Yayi diangkat menjadi asisten wakil dekan IKM FK UGM (sekarang Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKM). Tak ayal, kesibukannya menjadi berlipat ganda.

”Saya kehilangan 4-5 tahun, tapi saya kan itu penelitian. Tapi saya tetap beruntung karena masih mengerjakan proyek. Publikasinya mulai saya selesai dikerjain bareng sama orang Amerikanya itu.  Kemudian jd professor itu aturannya berubah-ubah. Sampai ada yang bilang sudahlah mbak kalau tidak bisa jadi professor di kedokteran ke psikologi saja. Karena linearitas. Padahal saat itu saya masih lektor kepala,” ujarnya.

Menurut kepegawaian syarat jurnal penelitian Yayi sudah memenuhi. Namun ia belum yakin terkait linearitas, beruntung aturan Dikti sedikit diubah. Bahwa tidak harus pendidikannya, namun jenis penelitian yang linear diperbolehkan.

”Waktu itu zaman saya mau jadi professor itu, harus ada 1 artikel di jurnal yang masuk scopus dan sebagai firts author. Syaratnya sebetulnya hanya 1, namun entah kenapa saya harus submit 2 artikel. Mungkin karena saya adalah non dokter,” papar Yayi.

Hal tersebut bukan masalah besar bagi Yayi, karena banyaknya penelitian yang ia lakukan ia pun memiliki back up. Akhirnya goal sampai universitas dan akhirnya Fakultas kedokteran menyetujui.

Yayi mengaku, selama menjadi dosen, dr. Rossi adalah salah satu sosok yang menginspirasinya bukan hanya karena keahliannya, namun juga kepribadiannya.

“Beliau sudah seperti ayah sendiri. Jadi pimpinan itu harusnya seperti beliau. Kalau orang punya kesempatan untuk maju, ya kasih lah kesempatan untuk maju. Saya merasa beliau tidak memandang senioritas. Beliau itu sangat suportif kepada semua anak didiknya. Kalau orang mau maju itu memang perlu didukung,” ujar Yayi yang juga pernah menjabat sebagai ketua dan sekretaris Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK UGM tersebut.

Sebagai dosen, Yayi tak pernah setengah-setengah. Menurutnya, kunci untuk maju adalah belajar dan siap ketika ada kesempatan datang. Dalam setiap aktivitas, Yayi ingin terus belajar sehingga ia bisa berkembang seiring perkembangan zaman yang begitu pesat.

Perjalanan karir Yayi cukup unik. Mengawali belajar psikologi di perguruan tinggi, Yayi akhirnya menjadi dosen dalam bidang kedokteran sampai saat ini. Yayi menyebut dirinya adalah sosok pecinta ilmu sosial yang sekarang terjun di bidang saintek.

Psikologi Klinis sebagai Pilihan

Yayi mengaku sejak lama memang sudah ingin menjadi dokter. Keinginan tersebut terinspirasi oleh ayahnya yang memang berkecimpung dalam bidang kedokteran sejak lama. Lalu, kenapa memilih psikologi sebagai ilmu yang dipelajari saat jenjang sarjana dan master?

Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. (Foto: duniadosen.com/ta)

“Waktu masih SMA, ada saudara sakit. Saat jenguk di rumah sakit, saya tidak suka dengan baunya. Kemudian saya tanya ke bapak, profesi apa sih yang bisa menolong orang tapi nggak bersinggungan langsung dengan orang sakit? bapak jawab psikolog. Sejak saat itu, saya mulai cari tahu apa itu psikolog,” ceritanya.

Perempuan yang sempat ingin menjadi model tersebut akhirnya mengambil psikologi klinis sebagai fokusnya, yang mana tidak terlalu jauh dari bidang kedokteran. Dengan begitu, ia bisa leluasa berdiskusi dengan ayahnya yang masih berada di bidang yang linear.

Yayi menceritakan psikologi klinis adalah ilmu yang mengarah kepada isu kesehatan mental, salah satunya berbicara ihwal pencegahan yang sangat relevan dengan promosi kesehatan. Hal itu membuktikan bahwa psikologi klinis sangat erat kaitannya dengan ilmu kesehatan masyarakat yang sedang ia ampu.

“Dunia kerjanya kalau sekarang psikologi klinis itu bisa di semua rumah sakit, puskesmas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kalau ingin mempelajari lebih lanjut, bisa di klinis yang forensik. Mereka menganalisa ihwal kriminal maupun korban perkosaan,” ujar Yayi.

Meneliti tentang Rokok

Salah satu topik penelitian yang Yayi tekuni adalah ihwal fenomena penggunaan rokok di Indonesia. Penelitian terkait topik rokok bahkan sudah ia mulai sejak menempuh pendidikan master. Waktu itu, hanya dia yang memilih rokok sebagai topik penelitian.

“Orang Indonesia itu banyak konsumen rokok. Untuk meneliti hal tersebut, saya pakai teori public health. Banyak sebab kenapa masyarakat Indonesia mengkonsumsi rokok sampai sekarang, salah satunya intervensi industri. Apalagi, dulu kan belum ada Area Bebas Rokok seperti sekarang,” terangnya.

Pada 2003 sampai 2013, Yayi juga mengikuti Quit Tobacco International, sebuah projek penelitian yang didanai oleh Fogarty NIH berkolaborasi dengan beberapa universitas ternama di Amerika Serikat.

Sebagai Country Site Coordinator, ia bertanggung jawab atas perencanaan, implementasi dan evaluasi kegiatan proyek, khususnya integrasi kurikulum tembakau dalam pengembangan FK UGM dan Klinik Berhenti Merokok, serta memantau pelaksanaan kegiatan Rumah Bebas Asap Rokok.

Selama berkarir sebagai dosen, perempuan yang saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Perilaku, Kesehatan Lingkungan, dan Kedokteran FK UGM tersebut berhasil mempublikasikan hasil penelitian tak hanya di jurnal nasional, namun juga jurnal internasional bereputasi. Topik penelitiannya adalah kesehatan masyarakat dan juga rokok.

Beberapa penelitian Yayi tentang rokok antara lain Dampak berkurangnya paparan asap rokok dari rumah tangga pada prevalensi berat lahir rendah dan kesehatan neonatus (2014), Burden of cancer related to smoking among the Indonesian population: premature mortality cost and years of potentially life lost (2015), dan Laying the groundwork for Tobacco Cessation Education in Medical Colleges in Indonesia (2015). Tak hanya itu, Yayi juga pernah menulis buku yaitu Pengendalian Kebiasaan Merokok (2014). (duniadosen.com/az)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED POST

about

Get Started

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081362311132