Penolakan artikel ilmiah bisa terjadi karena berbagai sebab dan tentunya berkaitan dengan kesalahan penulisan jurnal (artikel ilmiah) oleh dosen sendiri. Lalu, apa saja kesalahan tersebut dan berdampak pada artikel yang ditolak? Berikut informasinya.Â
Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak Pengelola Jurnal?
Penolakan artikel biasanya oleh editor yang memeriksa pertama kali. Jadi, sebelum peer review, pihak editor jurnal yang menentukan artikel tersebut diterima atau sebaliknya. Lalu, apa saja alasan editor jurnal menolak artikel yang disubmit dosen? Berikut beberapa diantaranya:
1. Format dan Sistematika Penulisan Tidak SesuaiÂ
Ketidaksesuaian penulisan dengan template mencakup format dan sistematika penulisan yang salah atau tidak sesuai dengan ketentuan. Kesalahan ini terjadi, bisa karena dosen masih pemula dan belum terbiasa mengurus publikasi jurnal. Sehingga menganggap format dan sistematika penulisan pasti sama.
2. Topik Tidak Sesuai Scope JurnalÂ
Hal ini terjadi, bisa karena dosen atau penulis keliru dalam memilih jurnal tujuan. Jurnal ilmiah memiliki scope tersendiri. Satu bidang keilmuan, tidak lantas terbit di satu jurnal yang sama. Dosen yang belum terbiasa, rentan keliru memilih jurnal tujuan. Dampaknya, artikel yang disubmit ditolak dan perlu beralih ke jurnal lain.Â
Baca selengkapnya disini: Scope Jurnal & Cek Dulu Agar Naskah Sesuai Jurnal Tujuan
3. Tidak Memiliki Kebaruan (Novelty)Â
Novelty adalah hal krusial dan wajib dalam kegiatan penelitian sampai publikasi hasilnya. Tanpa novelty, maka artinya penelitian tersebut mengulang penelitian sebelumnya. Sehingga hasil penelitian tidak memberi kontribusi baru dalam perkembangan iptek. Hal ini yang membuat artikel yang disubmit dinilai editor belum layak dipublikasikan.Â
Baca selengkapnya disini: Memahami Apa Itu Novelty pada Penelitian dan Cara Menentukannya
4. Metode Penelitian Tidak Jelas atau LemahÂ
Metode penelitian harus tepat sesuai dengan karakteristik topik dan aspek lain dalam penelitian. Jika metode penelitian kurang tepat, maka teknik pengumpulan data sampai analisisnya juga keliru. Hal ini meningkatkan resiko hasil penelitian bias. Sehingga belum layak untuk dipublikasikan.Â
5. Analisis Data Masih LemahÂ
Alasan berikutnya, berkaitan dengan teknik analisis data yang dinilai masih lemah. Bisa juga disebut teknik yang digunakan kurang tepat. Sehingga hasil penelitian yang merupakan hasil analisis data menjadi bias. Hal ini yang membuat editor tidak memungkinkan menerima artikel ilmiah yang disusun dosen.
Baca pembahasan lengkapnya disini: Pengertian Data Penelitian, Jenis-Jenis, dan Contoh Lengkapnya
6. Terindikasi Plagiarisme dan Pelanggaran Etika Lainnya
Pelanggaran etika ini tentunya bisa memicu masalah kompleks di kemudian hari. Sehingga artikel yang disubmit tidak mungkin diterima editor jurnal untuk diterbitkan. Sebab masalah yang timbul juga bisa berimbas pada kredibilitas jurnal tersebut.Â
Sebagai contoh, jika artikel hasil plagiat. Kemudian pemilik karya asli menuntut penulis. Maka bisa berimbas pada reputasi pengelola jurnal, karena dinilai kurang teliti dan kurang profesional dalam menyaring dan mereview artikel yang masuk ke dewan redaksi.
7. Kualitas Penulisan Masih BurukÂ
Alasan lainnya, bisa karena kualitas penulisan artikel ilmiah masih terbilang buruk. Misalnya, jika artikel ditulis dalam bahasa Indonesia ditemukan susunan kalimat tidak efektif, susunan kalimat dalam paragraf tidak saling berkaitan, dan sebagainya. Jika artikel ditulis dalam bahasa Inggris, bisa karena grammar masih berantakan, penggunaan istilah yang kurang tepat, dan sebab lain.
Kesalahan Penulisan Artikel Jurnal yang Harus Dihindari Dosen
Kesalahan penulisan jurnal yang diabaikan oleh dosen, bisa memperbesar resiko artikel yang ditolak editor atau pengelola jurnal. Jadi, menghindari berbagai kesalahan penulisan menjadi strategi untuk mencegah penolakan tersebut. Berikut beberapa kesalahan penulisan yang harus dihindari:
1. Judul Artikel Masih Terlalu UmumÂ
Judul menjadi bagian pertama yang akan dibaca oleh editor. Sehingga judul menentukan apakah artikel akan diperiksa lagi lebih dalam. Atau justru harus ditolak editor setelahnya, tanpa perlu membaca abstrak dan bagian lain di bawah judul.
Salah satu kesalahan yang banyak dilakukan dalam penyusunan judul artikel jurnal adalah terlalu umum. Sehingga kurang spesifik. Jika judul terlalu umum, batasan masalah tidak jelas, dan penelitian menjadi terlalu kompleks dan tidak jelas juga. Selain itu, bisa jadi dosen menyusun judul yang tidak sesuai dengan isi artikel ilmiah yang disusun.
2. Abstrak Tidak Merangkum Isi Artikel IlmiahÂ
Abstrak seharusnya berisi rangkuman seluruh isi artikel ilmiah tersebut. Sehingga memberi gambaran rinci apakah isi artikel jelas dan sesuai scope jurnal atau tidak.Â
Jika abstrak sendiri tidak jelas, editor bisa menilai kualitas artikel belum optimal sehingga tidak bisa dipublikasikan. Editor di beberapa jurnal mungkin memberi toleransi. Namun ketika masuk peer review, biasanya akan ada catatan dari reviewer untuk revisi abstrak tersebut.
3. Abstrak Tidak Jelas dan Bertele-TeleÂ
Abstrak idealnya berisi rangkuman isi artikel ilmiah. Sehingga harus ringkas, tapi jelas dan bisa dipahami. Sayangnya, abstrak bisa disusun berbeda dengan definisi tersebut. Sehingga terlalu bertele-tele, tidak fokus dan melebar ke topik lain, dan sebagainya. Sehingga melebihi batas maksimal jumlah kata yang ditentukan.
4. Referensi LemahÂ
Kesalahan penulisan jurnal juga bisa berkaitan dengan pemilihan referensi yang digunakan. Referensi ilmiah yang digunakan bisa jadi tidak sesuai dengan topik. Bisa juga tidak kredibel, sehingga referensi tidak bisa dipastikan memberi data valid.
Kesalahan lain, referensi yang digunakan sudah usang. Artinya, referensi tersebut terbit lebih dari 10 tahun yang lalu. Bahkan ada yang terbit 20 tahun yang lalu. Hal ini memunculkan resiko data tidak lagi relevan. Sehingga menyebabkan bias penelitian.
Jadi, idealnya referensi yang digunakan dosen harus relevan, mutakhir (terbitan terkini), dan kredibel. Jika 3 kriteria ini tidak terpenuhi, maka artinya referensi tersebut sebaiknya dijadikan alternatif bukan prioritas.
5. Gaya Sitasi Tidak KonsistenÂ
Kesalahan penulisan jurnal selanjutnya adalah dari gaya sitasi. Bisa karena tidak sesuai ketentuan format penulisan yang ditetapkan pengelola jurnal. Misalnya, ditentukan harus menggunakan Vancouver Style, tapi dosen justru menggunakan APA Style.
Kedua, gaya sitasi yang digunakan tidak konsisten. Misalnya pada naskah, kutipan menggunakan sitasi dengan MLA Style. Sementara di halaman daftar pustaka, justru menggunakan APA Style. Inkonsistensi ini tentunya menurunkan kualitas artikel ilmiah dan harus dihindari.
Baca juga: 4 Cara Mudah Mengecek Jumlah Sitasi Publikasi Secara Mandiri
6. Pendahuluan Tidak Mencantumkan Research Gap dan NoveltyÂ
Pendahuluan (Introduction) pada artikel jurnal berisi latar belakang pemilihan topik, State of the Arts, research gap, novelty, dan rencana atau potensi kontribusi hasil penelitian pada iptek. Jika unsur-unsur ini tidak tercantum di bagian pendahuluan. Maka akan dinilai substansinya kurang lengkap.
Baca terkait SOTA disini: State of The Art dalam Penelitian dan 3 Cara Menentukannya
7. Pembahasan Deskriptif Bukan AnalitisÂ
Kesalahan penulisan jurnal juga bisa dalam bentuk pembahasan data dan hasil penelitian masih deskriptif. Bukan secara analitis. Deskriptif membuat pembahasan hanya memaparkan data. Sementara analitis juga mencakup penjelasan makna data tersebut dan implikasinya.
8. Tidak Mengikuti Ketentuan Format dan Sistematika PenulisanÂ
Kesalahan penulisan juga berkaitan dengan ketidaksesuaian dengan kebijakan format dan sistematika penulisan yang ditetapkan jurnal tujuan. Jika penulisan artikel sesuka hati dan atas inisiatif pribadi dosen. Maka bisa keluar dari ketentuan tersebut dan pada akhirnya ditolak editor.
Keterbacaan Artikel Ilmiah RendahÂ
Berikutnya, adalah kesalahan penulisan terkait tingkat keterbacaan. Misalnya, kalimat dalam artikel bukan kalimat efektif sehingga tidak mudah dipahami. Setiap paragraf tidak memenuhi kriteria paragraf yang baik dan benar. Jika dalam bahasa Inggris, bisa karena kesalahan grammar yang cukup banyak atau bahkan fatal.
Strategi agar Artikel Ilmiah Lolos Publikasi di Jurnal Kredibel
Menghindari kesalahan penulisan jurnal dan menyusunnya dengan ketelitian tinggi tentunya sangat penting. Sebab setelah artikel diterima, masih ada tahap peer review yang sering berujung proses revisi. Oleh sebab itu, dosen perlu menyusun strategi yang tepat agar meminimalkan resiko artikel ditolak editor jurnal. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:Â
1. Memilih Jurnal Tujuan dengan TepatÂ
Strategi yang pertama, dosen tentunya perlu memahami tata cara memilih jurnal tujuan. Kekeliruan ini bisa membuat artikel yang di submit ditolak. Jika tidak memahami kesalahan ini, bisa muncul kesalahpahaman. Ditambah, proses pemilihan jurnal tujuan tidak bisa dilakukan sembarangan dan butuh waktu.
Jadi, dosen perlu memastikan jurnal yang dituju memang scope sudah sesuai. Hal ini bisa meminimalkan resiko artikel ditolak editor. Sekaligus efisiensi waktu dan tenaga agar tidak mencari jurnal lagi dari awal.Â
2. Menyusun Artikel Ilmiah Sesuai Ketentuan Pengelola JurnalÂ
Strategi kedua, artikel ilmiah yang disusun sebaiknya mulai dibuat setelah menentukan jurnal tujuan. Sebab dosen perlu mencari tahu template penulisannya seperti apa dan mengikutinya. Sehingga format dan sistematika penulisan sudah sesuai. Secara administratif, naskah yang disusun sudah sesuai ketentuan dan bisa diterima editor jurnal.
3. Memastikan Kualitas Substansi Artikel OptimalÂ
Strategi yang ketiga untuk memastikan publikasi lancar dan minim resiko penolakan dari jurnal tujuan, adalah substansi artikel sudah optimal. Dimulai dari judul yang sudah spesifik dan mencerminkan isi artikel ilmiah, berlanjut ke abstrak, pendahuluan, metode penelitian, dan seterusnya sampai kesimpulan dan saran. Pahami dengan baik data dan unsur apa saja yang harus tercantum di setiap bagian dalam sistematika artikel jurnal ilmiah.Â
4. Melakukan Editing dan Penyuntingan MandiriÂ
Berikutnya, pastikan meluangkan waktu melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Sebab kualitas artikel ilmiah juga dilihat dari keterbacaannya bagaimana. Minimal, dosen memastikan keterbacaannya sudah baik dan benar.
5. Mengecek PlagiarismeÂ
Menghindari resiko di kemudian hari artikel yang diterbitkan di jurnal dihapus karena indikasi plagiat. Maka perlu memastikan dari awal sudah melakukan pengecekan. Misalnya dengan Turnitin untuk mendeteksi skor similarity indeksnya berapa. Memastikan bebas plagiat dari awal sangat penting sekalipun disusun dari nol oleh dosen.
Baca juga: 14 Platform AI untuk Cek Plagiarisme
6. BerkolaborasiÂ
Publikasi ilmiah di jurnal dikenal susah. Apalagi untuk jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi pada peringkat tinggi. Sebab ada lebih banyak artikel yang diterima dewan redaksi jurnal tersebut.
Alhasil, proses penyaringan menjadi lebih ketat. Kondisi ini membuat resiko artikel ditolak lebih besar, sebab ada artikel lain yang lebih baik kualitasnya dari berbagai aspek. Maka strategi mengatasinya adalah dengan berkolaborasi.
Dosen dan peneliti lebih senior dengan rekam jejak publikasi di jurnal kredibel. Bisa membantu menembus jurnal SINTA dan Scopus peringkat strategis. Jadi, pastikan membuka peluang kolaborasi agar publikasi di jurnal kredibel lebih mudah dilakukan.
7. Meningkatkan Penguasaan Bahasa InggrisÂ
Artikel ilmiah yang disusun dalam bahasa Inggris memiliki visibilitas lebih tinggi. Baik itu terbit di jurnal nasional maupun internasional. Selain itu, grammar dan aspek kepenulisan lain ikut menentukan diterima tidaknya oleh editor jurnal tujuan.
Jadi, strategi utama adalah mengasah kemampuan bahasa Inggris. Khususnya dalam academic writing. Sehingga keterbacaan optimal dan resiko ditolak lebih rendah. Meski bisa memakai jasa penerjemah, akan tetapi lebih hemat jika disusun sendiri.Â
8. Mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Jurnal IlmiahÂ
Strategi lainnya adalah ikut program pelatihan penulisan artikel jurnal dan publikasi di jurnal kredibel. Sehingga bisa mengasah kompetensi menulis dan mengurus publikasi di jurnal tanpa kendala berarti.
Sumber:
- Penolakan Artikel Jurnal: Kenali Tanda dan Penyebabnya. (2025). Indonesian Scientific Publication. Diakses pada 6 Mei 2026 dari https://idscipub.com/id/penolakan-artikel-jurnal-kenali-tanda-dan-penyebabnya/
- Trik Agar Artikel Cepat Terbit. (2025). Institute Mandalika. Diakses pada 6 Mei 2026 dari https://blog.institutemandalika.com/trik-agar-artikel-cepat-terbit/Â
- Fiantis, D., Mukminin, A., Irawan, M. Z., Nurmaini, S., & Achmadi, S. S. (2026). 4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah. Diakses pada 6 Mei 2026 dari https://theconversation.com/4-masalah-yang-kerap-dihadapi-dosen-indonesia-ketika-menulis-artikel-ilmiah-226924














