Dalam melaksanakan tri dharma, dosen tentunya cukup sering memanfaatkan bantuan dari platform AI. Termasuk ketika melaksanakan tugas penelitian. Namun, masih banyak dosen yang ragu dalam melakukan hal serupa. Bisa karena khawatir regulasi melarang, bisa juga karena khawatir terjadi pelanggaran etika. Berikut informasinya.
Regulasi Penggunaan AI dalam Penelitian dan Publikasi di Jurnal Ilmiah
Bagaimana dengan regulasi menggunakan tools AI untuk mempercepat proses penelitian dosen? Bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia bisa mengikuti ketentuan dari Kemdiktisaintek melalui Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen AI) Pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi.
Jika ingin membaca informasi yang lebih lengkap, Anda bisa baca dan unduh melalui Buku Panduan.
Secara garis besar Kemdiktisaintek tidak melarang menggunakan AI oleh akademisi. Hanya saja perlu memastikan AI dipakai sebagai alat bantu dan jujur mengakui penggunaan tools AI tersebut dengan melakukan atribusi konten. Bisa dilihat pada buku panduan di halaman 49.

Sementara dalam menggunakan AI oleh dosen untuk menyusun karya tulis ilmiah sebagai luaran penelitian. Misalnya menyusun artikel ilmiah untuk diterbitkan ke satu jurnal, menulis buku hasil penelitian untuk diterbitkan lewat jasa penerbitan, dan sebagainya.
Maka kebijakan penggunaan tools AI menyesuaikan kebijakan dari publisher atau penerbit. Sejumlah publisher yang mengelola jurnal internasional memperbolehkan penggunaan AI dengan batasan yang jelas dan tegas.
Begitu juga dengan penerbit buku. Jadi, dosen wajib mengecek dan memastikan ketentuan penggunaan AI yang ditetapkan pengelola jurnal dan penerbit buku. Sehingga mengikuti ketentuan yang ditetapkan dan menunjang kelancaran publikasi ilmiah.
Baca juga: 19 AI untuk Membuat Pertanyaan yang Bisa Diandalkan
Daftar Platform AI yang Bisa Membantu Dosen Melaksanakan Tugas Penelitian
Menggunakan AI untuk penelitian dosen sah saja dilakukan, selama sebatas digunakan sebagai alat bantu. Menariknya, ada banyak sekali platform AI yang bisa digunakan untuk menunjang kelancaran penelitian tersebut.
Mulai dari membantu menentukan topik penelitian hingga menyusun naskah publikasi ilmiah sebagai luaran penelitian. Berikut beberapa diantaranya:
1. Elicit
Pilihan yang pertama, platform AI bernama Elicit. Platform ini bisa membantu dosen dalam proses kajian pustaka. Elicit bisa membantu dosen menemukan referensi ilmiah berkualitas, memahami referensi yang direkomendasikan, melakukan analisis research gap, dan menemukan kebaruan (novelty).
2. Consensus
Consensus juga termasuk platform AI yang bisa dimanfaatkan para dosen dalam proses kajian pustaka. Melalui Consensus, para dosen bisa mendapat informasi mengenai suatu topik yang menarik minat untuk diteliti. Sekaligus mendapatkan rekomendasi referensi yang relevan dan penjelasan rinci hasil penelitian sebelumnya.
3. Connected Papers
Connected Papers menjadi platform AI yang bisa dimanfaatkan dosen untuk kajian pustaka hingga menganalisis tren penelitian. Platform AI ini memberikan respon dalam bentuk visual yang memudahkan pengguna mengetahui keterkaitan setiap publikasi ilmiah. Sehingga memudahkan pencarian topik sesuai tren, pencarian referensi ilmiah, sekaligus memahami topik yang tertarik untuk diteliti.
4. Claude
Claude menjadi platform AI yang bisa dimanfaatkan dosen untuk memahami referensi dalam bentuk teks. Platform ini membantu menjelaskan isi dari dokumen tersebut. Selain itu, bisa juga untuk kebutuhan penulisan karya ilmiah lainnya. Misalnya membuat kerangka tulisan, analisis argumen, dll.
5. Perplexity
Perplexity menjadi platform AI untuk penelitian dosen bisa digunakan seperti Claude. Yakni untuk memahami referensi yang digunakan, terutama jika bahasa sulit dipahami atau mungkin disusun dengan bahasa asing. Selain itu, platform AI ini juga bisa digunakan untuk mencari topik, mencari referensi, dll.
Baca juga: Kumpulan Artikel Mengenai AI untuk Dosen
6. QuillBot
Platform AI berikutnya adalah QuillBot. Platform AI ini bisa dimanfaatkan dosen untuk meningkatkan kualitas naskah dari aspek bahasa. Platform ini bisa membantu dosen mengecek grammar untuk manuskrip dalam bahasa Inggris. Bisa juga membantu melakukan parafrase yang efektif.
6. Stable Diffusion
Platform Stable Diffusion juga menjadi AI untuk penelitian dosen yang lebih efisien. Platform ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan visualisasi. Misalnya memvisualisasikan roadmap penelitian, membuat ilustrasi, membuat grafik untuk data penelitian, dan sebagainya.
7. Illustroke
Rekomendasi platform AI lain untuk kebutuhan visualisasi data adalah Illustroke. Platform ini juga bisa diandalkan dosen untuk membuat efek visual pada naskah karya tulis ilmiah terkait penelitian. Seperti membuat grafik, tabel, ilustrasi, dan sebagainya.
8. Grammarly
Berikutnya ada Grammarly. Secara mendasar Grammarly bisa digunakan sebagaimana platform Quillbot. Yakni untuk meningkatkan kualitas bahasa pada karya tulis ilmiah berkaitan dengan penelitian dosen.
9. Turnitin
Turnitin tentunya menjadi platform yang tidak asing bagi dosen. Turnitin mengadopsi teknologi AI untuk menunjang layanan pengecekan similarity index yang disediakan. Melalui platform ini, dosen bisa memeriksa skor similarity pada karya tulis ilmiah berkaitan penelitian. Sehingga membantu mencegah plagiarisme.
10. Mendeley
Berikutnya adalah platform AI bertajuk Mendeley. Platform ini tentunya juga sangat familiar di kalangan dosen. Bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan tata kelola koleksi referensi, menyusun sitasi otomatis pada kutipan, dan membuat halaman daftar pustaka otomatis pada naskah ilmiah.
Tips dalam Menggunakan AI untuk Penelitian yang Berkualitas dan Berdampak
Menggunakan AI untuk penelitian secara tepat dan mengedepankan etika. Tentunya akan membantu dosen dalam melaksanakan penelitian yang berkualitas dan tentunya berdampak secara luas serta nyata.
Supaya pemanfaatan AI menjadi lebih optimal dan penelitian juga lebih berkualitas serta berdampak. Maka para dosen bisa menerapkan beberapa tips berikut:
1. Memilih Platform AI yang Tepat
Pilih platform yang sesuai kebutuhan. Misalnya, dosen hanya perlu bantuan AI untuk mencari referensi terbitan terkini. Jadi, dosen bisa fokus mencari platform yang menyediakan layanan tersebut. Kemudian mengabaikan platform AI lain dengan layanan yang berbeda.
Apalagi, ada beberapa hal yang tentunya perlu dipertimbangkan dosen. Mulai dari bagaimana cara kerja platform AI tersebut, keamanan data pengguna bagaimana, seberapa akurat responnya, gratis atau ada biaya langganan, dan sebagainya.
Baca juga: 20 AI untuk Membantu Penelitian
2. Menyusun Prompt dengan Benar
Prompt yang tepat akan membuat respon dari platform lebih akurat atau sesuai dengan harapan. Jadi, dosen perlu memastikan memahami tata cara menyusun prompt yang baik dan benar bagaimana.
Umumnya, penyusunan prompt menjadi lebih efektif dan efisien jika dibuat perintah atau permintaan tunggal dan spesifik. Jadi, dalam satu prompt hindari memberi dua perintah bersamaan. Selain itu, tambahkan konteks.
Misalnya menggunakan Chat GPT untuk membantu brainstorming. Tambahkan detail kebutuhan, misalnya brainstorming ide untuk penelitian dosen. Sehingga respon Chat GPT relevan dengan profesi dosen ketika melaksanakan tugas penelitian. Hal serupa berlaku untuk platform AI dengan cara kerja mirip Chat GPT. Misalnya Gemini AI atau yang lainnya.
Baca juga artikel berikut: 13 AI untuk Review Jurnal, Cari Referensi Publikasi Makin Mudah!
3. Melakukan Verifikasi Respon Platform AI
Para dosen tentunya memahami, platform AI tetaplah mesin yang bekerja sesuai susunan bahasa pemrograman di dalamnya. Maka tetap ada kemungkinan kesalahan respon, penggunaan sumber yang kurang kredibel, penjelasan yang keluar dari konteks, dan sebagainya. Jadi, respon dari platform AI sebaiknya dilakukan verifikasi.
Baik itu respon dalam bentuk teks, audio, video, gambar, dan sebagainya. Cek respon tersebut, apakah sesuai dengan prompt yang disusun? Kemudian cek juga penjelasannya sudah baik dan benar, mudah dipahami, dan sebagainya atau belum Tidak kalah penting, kroscek respon tersebut pada sumber lain.
4. Cek Sumber yang Digunakan Platform AI
Platform AI akan menampilkan rincian daftar sumber yang digunakan. Biasanya disertai tautan link URL, silahkan di cek. Apakah informasi di dalamnya memang tercantum di dalam respon AI tersebut atau tidak.
Pengecekan ini penting untuk memastikan respon dari platform AI dari sumber yang kredibel. Sehingga informasi di dalamnya bisa dipertanggung jawabkan. Sekaligus mencegah penggunaan informasi yang keliru karena platform AI memberi respon secara asal.
Baca juga: Scopus AI: Definisi, Fitur, Cara Menggunakannya
5. Mengkombinasikan Beberapa Platform AI Sekaligus
Tips berikutnya adalah mengkombinasikan beberapa platform AI untuk mengoptimalkan hasil yang didapatkan. Misalnya untuk kebutuhan analisis tren penelitian hingga mendapatkan research gap.
Dosen bisa mengkombinasikan Elicit dengan Consensus dan platform AI lainya. Tujuannya agar analisis tren penelitian lebih tepat, bisa sekaligus mendapat rekomendasi referensi yang sesuai, dan memudahkan penentuan atau penemuan research gap.
Baca juga: 13 AI untuk Mencari Referensi Ilmiah
6. Memproses dan Menulis Ulang Respon Platform AI
Respon dari platform AI seringnya masih kaku dan belum humanis. Selain itu, masih bisa dijumpai kesalahan penulisan. Seperti kata hubung di awal kalimat, kesalahan penggunaan tanda baca, menggunakan kata tidak baku, penulisan kata yang tidak baku, dll. Jadi, penting untuk dilakukan parafrase.
Menggunakan AI untuk penelitian, membantu memberi efisiensi. Sekaligus bisa meningkatkan peluang kualitas penelitian lebih optimal. Baik itu dari kualitas proses sampai hasil penelitian. Tentunya dengan tetap memahami rambu-rambu penggunaan AI agar terhindar dari pelanggaran etika. Sekaligus bijak dan teliti dalam penggunaannya.
Ketahui juga: 14 Platform AI untuk Cek Plagiarisme
sumber:
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2024). Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen AI) pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. https://simbelmawa.kemdiktisaintek.go.id/portal/wp-content/uploads/2026/03/Buku-Panduan-_-Penggunaan-Generative-AI-pada-Pembelajaran-di-Perguruan-Tinggi-cetak.pdf
- Rohmatulloh. (2025). Kontroversi penulis dan ‘reviewer’ AI dalam penerbitan karya ilmiah. Diakses pada 11 Agustus 2026 dari https://theconversation.com/kontroversi-penulis-dan-reviewer-ai-dalam-penerbitan-karya-ilmiah-270166
- Unicha, M. S. N., & Prabowo, D. A. (2024). 5 cara menggunakan AI secara etis dalam publikasi riset. Diakses pada 11 Agustus 2026 dari https://theconversation.com/5-cara-menggunakan-ai-secara-etis-dalam-publikasi-riset-231288
- Tetzner, R. (2025). Hal yang Harus dan Tidak Harus Dilakukan dalam Penggunaan AI di Penelitian Akademik dan Penerbitan. Diakses pada 11 Agustus 2026 dari https://www.proof-reading-service.com/id/blogs/ai-in-scholarly-publishing/the-do-s-and-don-ts-of-ai-use-in-academic-research-and-publishing
- Sanita, M. (2026). Ask the Expert: Bagaimana Batasan Etis Penggunaan AI untuk Riset di Dunia Akademik? Diakses pada 11 Agustus 2026 dari https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-bagaimana-batasan-etis-penggunaan-ai-untuk-riset-di-dunia-akademik/














