Dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/Kep/2026, mencantumkan bahwa publikasi jurnal ilmiah untuk syarat khusus kenaikan jabatan fungsional harus hasil kolaborasi. Selain itu, dosen tentunya juga harus memahami ketentuan pembagian angka kreditnya seperti apa. Sehingga bisa mengoptimalkan perolehan angka kredit. Berikut informasinya.
Pentingnya Dosen Berkolaborasi dalam Publikasi Jurnal Ilmiah
Kolaborasi dosen dalam menjalankan tri dharma, juga bisa dengan mahasiswa maupun peneliti sampai industri. Kolaborasi antar dosen, salah satunya dalam kegiatan publikasi jurnal ilmiah. Lalu, seberapa penting kolaborasi dalam publikasi jurnal ilmiah? Berikut penjelasannya:
1. Efisiensi Waktu dan Tenaga dalam Proses Penulisan
Penulisan artikel ilmiah secara mandiri memang memungkinkan dilakukan dosen, namun prosesnya sering memerlukan waktu lebih lama. Melalui kolaborasi, penulis dapat membagi tugas sesuai peran, seperti penulis utama atau penulis korespondensi, sehingga proses penulisan dan pengurusan publikasi dapat berjalan lebih efisien.
Selain itu, kolaborasi juga membuka akses terhadap berbagai sumber pendukung, seperti database jurnal, referensi ilmiah, hingga fasilitas akademik lainnya.
2. Meningkatkan Kualitas Artikel Jurnal Ilmiah
Kolaborasi dalam penulisan artikel memungkinkan adanya pertukaran ide dan masukan antarpenulis. Hal ini dapat memperkuat substansi penelitian serta meningkatkan kualitas artikel yang disusun.
Selain itu, dalam proses tersebut juga akan saling berbagi akses ke berbagai fasilitas pendukung penulisan. Seperti berbagi akses ke database bereputasi, referensi kredibel yang relevan dan terbitan terbaru, akses ke perpustakaan masing-masing yang salah satunya bisa lebih lengkap koleksinya, dll.Â
3. Membuka Peluang Menembus Jurnal Kredibel Bereputasi
Artikel hasil kolaborasi memiliki peluang lebih besar untuk diterima di jurnal bereputasi. Hal ini karena kualitas artikel cenderung lebih kuat melalui kontribusi beberapa penulis dengan keahlian yang berbeda.
Semakin tinggi standar dalam penerimaan artikel yang di submit penulis. Dibutuhkan artikel dengan mutu yang mumpuni agar dianggap layak diterbitkan pengelola jurnal. Kolaborasi dapat untuk membantu memenuhi standar tinggi jurnal kredibel dan bereputasi.Â
Baca juga: [Update] 50 Daftar Jurnal Indonesia Terindeks Scopus
4. Mengoptimalkan Perolehan Angka Kredit
Kolaborasi dalam publikasi jurnal ilmiah dapat membantu dosen mengoptimalkan perolehan angka kredit karena artikel lebih berpeluang terbit di jurnal kredibel dan bereputasi.
Publikasi pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 1–2 maupun jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus atau Web of Science memiliki nilai angka kredit yang tinggi. Jurnal internasional bereputasi dapat memberikan hingga 40 poin, sedangkan jurnal nasional terakreditasi hingga 25 poin.
Baca juga: Apa Itu Angka Kredit Dosen? Ini Arti Pentingnya bagi DosenÂ
5. Menunjang Pemenuhan Syarat Khusus Jabatan Akademik
Kolaborasi publikasi juga menunjang pemenuhan syarat khusus kenaikan jabatan akademik dosen. Berdasarkan kebijakan Kemendiktisaintek No. 39/M/Kep/2026, syarat khusus kenaikan jabatan akademik mensyaratkan publikasi jurnal hasil kolaborasi.
Karena itu, melakukan kolaborasi publikasi sejak dini di jurnal nasional maupun internasional dapat menjadi strategi untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan akademik di masa mendatang.
Baca selengkapnya: Syarat Khusus dan Kriterianya untuk Kenaikan Jabatan Akademik Dosen Sesuai Kepmendiktisaintek No 39/KEP/2026
Pembagian Angka Kredit dalam Kolaborasi Publikasi Jurnal Ilmiah
Kolaborasi dalam publikasi jurnal ilmiah menjadi bagian penting dalam pemenuhan syarat khusus kenaikan jabatan akademik dosen. Selain itu, kolaborasi juga berkaitan dengan ketentuan pembagian angka kredit yang diperoleh dari publikasi tersebut.
Jika artikel ditulis secara mandiri, dosen dapat mengklaim 100% angka kredit. Namun jika dilakukan secara kolaboratif, maka berlaku pembagian poin sesuai ketentuan berikut.
1. Pembagian Angka Kredit untuk 2 Penulis Artikel Jurnal
Jika artikel ditulis oleh dua dosen, maka pembagian angka kreditnya sebagai berikut:
- Jika satu dosen menjadi penulis pertama sekaligus penulis korespondensi, maka memperoleh 60% angka kredit. Dosen lain sebagai penulis anggota memperoleh 40%.
- Jika satu dosen menjadi penulis pertama saja, maka memperoleh 50% angka kredit. Penulis korespondensi memperoleh 50% sisanya.
2. Pembagian Angka Kredit untuk 3 atau Lebih Penulis Artikel Jurnal
Publikasi ilmiah juga dapat ditulis oleh tiga orang dosen atau lebih. Ketentuan pembagian angka kreditnya adalah:
- Jika satu dosen menjadi penulis pertama sekaligus penulis korespondensi, maka memperoleh 60% angka kredit. Sisa 40% dibagi kepada penulis anggota secara merata.
- Jika satu dosen menjadi penulis pertama saja, maka memperoleh 40% angka kredit. Penulis korespondensi juga memperoleh 40%, sedangkan sisa 20% dibagi rata kepada penulis anggota lainnya.\
Baca juga: Ketentuan dan Cara Pemenuhan Angka Kredit Penelitian (AK Prestasi)Â
Strategi Optimasi Perolehan Angka Kredit Lewat Publikasi Ilmiah
Meskipun publikasi di jurnal ilmiah dilakukan secara kolaboratif dengan dosen lain. Nyatanya masih memberi peluang mendapat poin angka kredit yang tinggi. Terlebih jika masuk ke jurnal internasional bereputasi.
Jadi, bisa dipahami terdapat beberapa strategi yang perlu diterapkan untuk mengoptimalkan perolehan angka kredit tersebut. Berikut beberapa diantaranya:
1. Rutin Melakukan Kolaborasi
Kolaborasi dalam publikasi ilmiah dapat meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya karena beban penulisan serta proses publikasi dapat dibagi antarpenulis.
Kolaborasi membantu dosen lebih produktif menghasilkan karya ilmiah sehingga peluang memperoleh tambahan angka kredit dari berbagai jenis publikasi semakin besar.
Semakin rutin berkolaborasi, maka semakin produktif berkarya. Ssemakin rutin dosen akan mendapat tambahan poin dari publikasi ilmiah. Baik itu prosiding, jurnal nasional, jurnal internasional, maupun buku ilmiah.Â
2. Mengutamakan Jurnal Kredibel dan Bereputasi
Dalam kolaborasi publikasi ilmiah sebaiknya menargetkan jurnal kredibel dan bereputasi. Sebab sesuai penjelasan sebelumnya, poin angka kreditnya lebih tinggi. Sehingga bisa mengoptimalkan perolehan AK Kumulatif dalam kenaikan jabatan akademik dosen.Â
Publikasi di jurnal kredibel dan bereputasi akan lebih mudah lewat kolaborasi. Sebab mutu artikel ilmiah bisa dioptimalkan, sehingga bisa memenuhi standar tinggi yang ditetapkan pengelola jurnal untuk dinyatakan layak diterima dan diterbitkan.Â
3. Meraih Lebih dari Satu Luaran Penelitian
Untuk mengoptimalkan perolehan angka kredit, dosen dapat mengupayakan lebih dari satu luaran penelitian. Selain luaran wajib, penelitian juga dapat menghasilkan luaran tambahan.
Jika memungkinkan, setelah memenuhi luaran wajib. Maka dosen bisa berusaha memperluas luaran dengan meraih luaran tambahan. Misalnya luaran wajib adalah paten, maka luaran tambahan bisa publikasi hasil penelitian di jurnal internasional bereputasi.Â
Contoh lain, jika luaran wajib adalah jurnal internasional bereputasi. Maka bisa memperluas luaran dengan menerbitkan buku monograf atau buku referensi. Luaran yang lebih beragam, membantu mendapat tambahan poin angka kredit dari beberapa sumber sekaligus.Â
Baca juga:
- Pedoman Penulisan Buku Ajar dan Buku Monograf Sesuai Standar Ditjen DiktiÂ
- 7 Tahapan Menyusun Naskah Publikasi Buku Referensi bagi DosenÂ
- Buku Referensi, Cek Pedoman Penulisan yang Benar
4. Meraih Program Hibah Penelitian dan Publikasi Ilmiah
Program hibah penelitian sering menyediakan fasilitas kolaborasi dengan mitra penelitian. Dengan mengikuti program hibah, dosen dapat memperluas peluang publikasi ilmiah sekaligus meningkatkan produktivitas riset dan perolehan angka kredit.
Semakin sering meraih hibah penelitian, semakin produktif dosen dalam mengurus publikasi ilmiah. Misalnya hibah publikasi ilmiah baik dari perguruan tinggi, pemerintah, BRIN, dll.Â
5. Optimasi Kontribusi dalam Kolaborasi Publikasi Ilmiah
Dosen juga perlu mengoptimalkan kontribusi dalam kolaborasi publikasi, misalnya sebagai penulis pertama atau penulis korespondensi agar memperoleh pembagian angka kredit yang lebih besar. Namun, pembagian peran antarpenulis perlu disepakati sejak awal untuk menghindari permasalahan di kemudian hari.
6. Melakukan Konversi KTI
Meningkatkan sumber angka kredit menjadi hal penting untuk mengoptimalkan perolehan AK Kumulatif. Maka publikasi ilmiah sebagai luaran penelitian, sebaiknya dikembangkan.
Melalui konversi KTI, dosen bisa memiliki setidaknya 2 luaran berbentuk publikasi ilmiah. Misalnya jurnal internasional dan buku monograf. Jadi, bisa mendapat poin dari 2 publikasi tersebut dalam sekali waktu.
7. Mengurus Berbagai Jenis Publikasi Ilmiah
Optimasi perolehan angka kredit juga bisa dengan mengurus berbagai jenis publikasi ilmiah. Dosen tidak hanya terpaku pada publikasi berbentuk jurnal. Akan tetapi juga prosiding, buku ilmiah, artikel populer di media massa, dan untuk dosen bidang seni bisa menerbitkan buku karya sastra seperti novel maupun antologi puisi.Â
Sebagai catatan tambahan, selain mengoptimalkan perolehan angka kredit. Dosen juga harus memperhatikan ketentuan proporsi AK Prestasi untuk syarat kenaikan jabatan akademik. Sebab semakin sesuai ketentuan, semakin lancar pengajuan usulan kenaikan jabatan yang sedang dipersiapkan.
Sumber:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/Kep/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf
- Hafizah, S. (2026). Peran Publikasi Ilmiah dan Kolaborasi Akademik dalam Meningkatkan Kualitas Dosen. Diakses pada 6 April 2026 dari https://news.bsi.ac.id/opini-dosen/peran-publikasi-ilmiah-dan-kolaborasi-akademik-dalam-meningkatkan-kualitas-dosen/
- Revo Edu. (2025). Kolaborasi Antar Dosen untuk Jurnal Sebagai Strategi Memperkuat Penelitian Akademik. Diakses pada 6 April 2026 dari https://revoedu.org/article/kolaborasi-antar-dosen-untuk-jurnal-sebagai-strategi-memperkuat-penelitian-akademik/














