Opini

Efektifitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Hadapi Fase New Normal

Setelah merebaknya Virus Covid 19 secara  global  hingga masuk ke Indonesia dan dinyatakan sebagai pandemi global. Selanjutnya seiring berjalannya waktu, pandemi ini secara perlahan akan menurun akibat kepatuhan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan. Banyak fase yang sudah dilalui dalam menghadapi pandemi ini, yakni fase awal (menyebarnya covid 19), PSBB atau isolasi diri, dan fase new normal (normal baru) sebagai fase adaptasi dalam menghadapi pandemi ini.

Transisi Fase New Normal

Negara harus berani mengambil kebijakan ini sebagai langkah untuk menciptakan optimistis masyarakat bahwa Covid 19 ini akan berlalu, dan kita akan kembali hidup secara normal seperti sebelum datangnya Covid 19. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu Ketua Tim Pakar Gugus Tugas, yakni Wiku Adisasmita, ia mengatakan new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penyebaran penularan Covid 19. Secara sosial tentulah ini membatasi segala aktivitas yang ada. Salah satunya pada aktivitas pendidikan. Di mana proses belajar mengajar harus terus dilakukan, tetapi tentu dengan aturan yang diterapkan pemerintah dan memperhatikan protokol kesehatan.

Selanjutnya, dalam menghadapi masa transisi ke fase new normal ini pasti akan berpengaruh terhadap perubahan aktivitas pembelajaran, tatap muka pembelajaran menggunakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sistem dalam Jaringan (Daring).

Untuk itu, harus ada skala prioritas dalam menyikapi hal tersebut. Pada bidang pendidikan contohnya mulai tingkat dasar sampai kepada tingkat perguruan tinggi. Sehingga pendidikan Indonesia diharapkan tetap berjalan sebagai mana mestinya untuk mencapai kualitas pendidikan dan pembelajaran.

LLDIKTI Tetapkan WFH

Beberapa bulan terakhir sesuai dengan surat keputusan edaran layanan pendidikan tinggi (LLDIKTI) wilayah 14, nomor 4 tahun 2020 tentang sistem pengawai lembaga layanan pendidikan tinggi wilayah papua dan papua barat dalam tatanan normal baru. Yang pada poin 3 bertuliskan pelaksanaan kedinasan dari rumah/ tempat tinggal WFH (Wrok From Home) pagi PNS dan Non PNS dalam lingkup LLDIKTI 14 disesuaikan dengan situasi dengan kondisi yang terjadi.

Dimana dilakukan secara virtual/daring dengan memperhatikan pencapaian target kerja yang sudah ditetapkan.

Dari surat edaran tersebut, sehingga kebijakan kampus untuk dosen dan mahasiswa diharapkan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh sistem daring (dalam jaringan). Sehingga aktivitas perkuliahan tatap muka seperti biasanya (normal) ditiadakan sampai batas yang belum ditentukan. Dari aturan dan keadaan tersebut saat ini tentu saja tenaga pendidik diharapkan mampu memaksimalkan pengajaran untuk mencapai kualitas pendidikan.

Aspek yang Harus Diperhatikan dalam Pembelajaran Daring

Menurut saya dari kebijakan tersebut pada penggunaan virtual/daring sebagai penunjang pendidikan jarak jauh mesti melirik dari beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Agar pendidikan jarak jauh bisa dan tetap efektif, diantaranya:

Pertama, dukungan hardware (perangkat keras) yang dimiliki bagi kedua belah pihak antara dosen dan mahasiswa.

Kedua, knowledge (pengetahuan) terhadap software (perangkat lunak) untuk dosen dan mahasiswa.

Ketiga, kesiapan kemampuan dosen dan mahasiswa pada penggunaan perangkat tersebut (hardware & software)

Keempat, kestabilan akses internet yang memadai di lokasi tersebut .

Kelima, peremajaan materi yang sudah dimodernisasi dan siap diaplikasian secara digital.

Dari kelima  aspek tersebut akan menjadi pemicuh frekuensi pengajaran jarak jauh bisa efektif. Sehingga pengajaran tatap muka bisa terwakili dalam jaringan (daring).

Harapan

Dengan hal yang diungkapkan seperti diatas, maka diharap kepada tenaga pendidik dan mahasiswa untuk siap dalam pelaksanannya. Karena kedepannya di zaman modernisasi ini mau tidak mau, suka tidak suka pengaplikasian dan penerapan teknologi harus diketahui dan dikuasai untuk kebutuhan di era industi 4.0 pada negara berkembang (Indonesia).

Opini oleh: Syamsul Darmawan, M.Pd., dosen Jurusan PGSD STKIP Muhammadiyah Manokwari sekaligus Founder SPAN (Sakolah Palosok Anak Negeri).

Syamsul Darmawan. M.Pd., (kanan) dosen jurusan PGSD STKIP Muhammadiyah Manokwari. (Sumber Foto: dok. Syamsul)
Redaksi

Recent Posts

Strategi Lolos Pendanaan Hibah BRIN RIIM dengan Roadmap Riset Kuat dan Berdaya Saing

Bagaimana agar masuk ke daftar proposal yang lolos seleksi program hibah? Tentunya membutuhkan strategi yang…

6 days ago

Jangan Sampai Salah! Dosen Wajib Ketahui 10 Tahapan BRIN RIIM Kompetisi 2026

Tahapan program hibah penelitian dari BRIN penting untuk diketahui, sehingga para dosen pengusul bisa mempersiapkan…

6 days ago

Ketentuan dalam Hibah RIIM Kompetisi Sesuai Pedoman 2026

BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) diketahui rutin menyelenggarakan program hibah penelitian yang bisa diakses…

1 week ago

7 Syarat Publikasi SINTA Scopus yang Wajib Dosen Ketahui agar Tidak Salah Strategi

Meskipun sulit, publikasi di jurnal terindeks SINTA dan Scopus menjadi kebutuhan dan kewajiban semua dosen…

1 week ago

Daftar Jurnal Indonesia yang Terindeks Database Web of Science (WoS) 2026

Publikasi di jurnal internasional bereputasi, tentunya tidak hanya pada jurnal yang terindeks Scopus. Akan tetapi…

1 week ago

50 Daftar Jurnal Indonesia Terindeks Scopus Terbaru!

Publikasi di jurnal Scopus menjadi prioritas sebagian besar dosen dan peneliti di Indonesia. Bahkan juga…

2 weeks ago