fbpx

Fahmi Hakim: Berprofesi Dosen di Usia Muda Kenapa Tidak?

Fahmi Hakim ST M.Sc.RWTH, di usia 27 tahun menjadi dosen di Departemen Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. (Foto: dok. Fahmi Hakim)

Dosen seringkali dianggap sebagai profesi yang hanya bisa diampu oleh seorang berusia matang dan kaya pengalaman. Pasalnya, dosen bertugas mengajarkan ilmu yang dimiliki. Fahmi Hakim, S.T., M.Sc. RWTH mendobrak anggapan tersebut. Dosen Teknik Geologi di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) itu berhasil berprofesi dosen di usia yang relatif muda, 27 tahun.

Fahmi, panggilan akrabnya, mulai resmi berprofesi dosen di Departemen Teknik Geologi FT UGM pada November 2018. Melalui rangkaian proses seleksi terbuka sekitar enam bulan, Fahmi berhasil mengalahkan kandidat lain dan mengajar di kampus yang terletak di Jalan Grafika 02 Komplek UGM tersebut sampai sekarang.

Berprofesi dosen di usia muda tak membuat nyalinya ciut. Bahkan, Fahmi merasa bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu pengajar di Departemen Teknik Geologi FT UGM di usia muda. Menurutnya, kesempatan yang ia miliki belum tentu diperoleh oleh orang lain.

“Maka dari itu, saya akan selalu berusaha sebaik mungkin melaksanakan tridharma perguruan tinggi dan berusaha menjadi dosen yang memiliki kebermanfaatan bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat serta dapat menjadi teladan bagi anak-anak didik saya,” ceritanya kepada tim duniadosen.com melalui surel, Ahad (26/5/2019).

Menurutnya, ada banyak keuntungan berprofesi dosen di usia muda. Seiring perkembangan teknologi digital dan ilmu pengetahuan, dosen muda memiliki kemampuan adaptasi lebih cepat dibanding dosen senior. Hal ini disebabkan oleh banyaknya generasi muda yang sudah menjadi digital native sejak lama.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat wajib disikapi dengan bijak. Dosen muda saat ini rata-rata mampu beradaptasi dengan cepat dan menguasai teknologi dengan baik. Hal ini tentu saja menjadi modal yang baik untuk meningkatkan kualitas riset dan juga pengembangan iptek di perguruan tinggi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Fahmi juga menuturkan masih banyak dosen senior yang menutup diri dari paparan teknologi digital dan mempertahankan teknologi konvensional yang sudah diterapkan sejak lama. Perbedaan tingkat pemahaman dan adaptasi tersebut, lanjut Fahmi, bisa menimbulkan ketimpangan dalam proses transfer ilmu pengetahuan.

“Oleh karena itu, dosen muda saat ini justru memiliki peran yang penting dalam menjembatani antara generasi milenial (mahasiswa) dengan generasi baby boomer (dosen senior),” terang pria kelahiran Tours, Prancis, 15 November 1990 tersebut.

Menjadi Dosen Karena Ingin Menjadi Berguna

Dosen adalah cita-cita Fahmi sejak kecil. Ia mengaku terinspirasi oleh ayahnya yang juga seorang dosen. Menurutnya, dosen adalah profesi yang mulia. Dengan menjadi dosen secara tulus, Fahmi yakin pekerjaannya tersebut bisa menghasilkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Ia memiliki prinsip bahwa manusia paling baik adalah manusia yang mampu mengajarkan ilmu dan bisa bermanfaat bagi orang lain. “Motivasi dan motto hidup saya adalah khairunnas anfa’uhum linnas, artinya sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Dengan semangat itu saya memilih jalan hidup sebagai tenaga pendidik,” tegas Fahmi.

Menurut Fahmi, menjadi dosen memiliki perbedaan dibanding jika ia bekerja di industri. Profesi dosen memberikannya keleluasaan untuk berpikir dan bertindak kreatif yang belum tentu bisa ia dapatkan ketika terjun di industri. “Oleh karena itu, saya memilih menjadi dosen karena ingin memiliki kebebasan lebih dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan,” lanjutnya.

Sebagai dosen, setidaknya ada tiga hal yang ingin ia capai. Pertama, ia tak hanya ingin menjadi pengajar yang berperan sebagai agen transfer ilmu, namun juga menjadi pengajar yang bisa mencetak generasi dengan pengetahuan mumpuni dan akhlak yang baik. Fahmi menilai dua hal tersebut harus selalu ada dalam diri manusia.

Kedua, Fahmi ingin mendapat pencapaian dalam bidang yang ia ampu, yaitu ilmu geologi dengan konsentrasi geogoli endapan mineral. Salah satu cita-citanya adalah menjadikan Departemen Teknik Geologi FT UGM sebagai centre of excellence di Asia Tenggara dalam bidang geologi endapan mineral.

Harapannya, Departemen Teknik Geologi FT UGM bisa menjadi pusat rujukan pengembangan eksplorasi dan produksi bahan galian logam maupun nonlogam di Indonesia.

Terakhir, laki-laki yang tinggal di Gamping, Kabupaten Sleman tersebut ingin meraih gelar akademik tertinggi sebagai dosen, yaitu profesor dan Guru Besar. “Saya berharap mampu memberikan pengaruh yang besar di bidang keilmuan yang saya tekuni, khususnya di bidang geologi endapan mineral,” tutur peraih gelar master bidang energi dan sumber daya mineral dari RWTH Aachen University, Jerman.

Berprofesi Dosen, Kesan, dan Tantangannya

Selain mengajar dan memenuhi tridharma perguruan tinggi, Fahmi saat ini juga sibuk menjadi Ketua Tim Pembina Olimpiade Sains Kebumian Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak hanya itu, ia juga menjadi pengurus pusat di Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), sebuah organisasi profesi bidang geologi. Pun, Fahmi terlibat sebagai anggota di Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).

Berbagai kesibukan tersebut tak akan bisa berjalan dengan baik tanpa manajemen waktu yang bagus. Menurutnya, manajemen waktu adalah hal yang penting. Fahmi selalu berusaha untuk tidak menyentuh pekerjaan kantor saat berada di rumah malam hari dan akhir pekan. Baginya, waktu-waktu tersebut perlu dimaksimalkan untuk beristirahat.

Selama berprofesi dosen, Fahmi memiliki banyak pengalaman berkesan. Salah satu pengalaman paling berkesan yang ia dapat ketika berprofesi dosen adalah pengalaman pertamanya menempati ruangan pribadi di Departemen Geologi FT UGM. Itu adalah kantor pertamanya selama menjadi pengajar.

Fahmi Hakim ST M.Sc.RWTH sedang menjelaskan Fungsi Peralatan di Laboratorium GetIn-CICERO UGM.

“Pengalaman lain yang berkesan adalah saat saya mengikuti rapat dosen yang pertama di departemen. Pada saat itu saya duduk bersama dengan dosen-dosen yang dahulu membimbing dan mengajar saya,” ujar Fahmi mengenang.

Pengalaman pertamanya menjadi dosen tersebut membuatnya sadar menjadi dosen muda memiliki tantangan lebih besar. Tantangan tersebut adalah bagaimana menjadi dosen yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kampus.

Selain itu, seorang dosen saat ini dituntut tidak hanya mampu menguasai materi, namun juga dituntut untuk mampu menguasai teknologi dengan baik. Meski menjadi dosen muda, tak serta merta lepas begitu saja dari kewajiban belajar. Teknologi digital mengalami perkembangan pesat. Maka dari itu, dosen wajib terus memperbarui pengetahuannya jika enggan tertinggal.

“Mahasiswa generasi milenial memiliki kemampuan penguasaan teknologi yang baik dan juga mampu menyerap ilmu pengetahuan dari kanal online secara mudah dan cepat. Oleh karena itu, peran dosen saat ini sebagai agen transfer ilmu pengetahuan dapat tergantikan oleh teknologi apabila tidak disikapi secara tepat,” ujar dosen yang pernah menjadi konsultan geologi independen tersebut.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Fahmi tak mau menutup diri untuk selalu belajar, terutama ihwal perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi digital dapat mempermudah dosen untuk memenuhi kewajiban tridharma perguruan tinggi meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Oleh karena itu, dosen harus membuka diri terhadap kemajuan teknologi dan melakukan effort lebih untuk dapat memahami teknologi-teknologi terkini,” tutur Fahmi.

Ingin Menulis Buku dan Lanjut Studi Doktoral

Dari segi pencapaian, Fahmi beberapa kali meraih prestasi saat masih menjadi mahasiswa, baik nasional maupun internasional. Beberapa diantaranya adalah peraih 1st Winner of Indonesia Geology Olympiad (OGI) pada 2012, 5th Winner of the Student Poster Competition: “Papua and Maluku Resources” (2013), dan Award for Outstanding Graduates dengan predikat cumlaude di FT UGM (2014).

Meski Fahmi termasuk mahasiswa berprestasi, ia ingin melanjutkan prestasi tersebut saat berprofesi dosen. Bagi Fahmi, menjadi dosen adalah salah satu cara untuk menggapai sukses. Fahmi menyebut bahwa kesuksesan adalah saat dirinya mampu menggapai cita-cita kehidupan baik di dunia maupun ketika di akhirat kelak.

Meski sudah memiliki prestasi cukup banyak, ia belum puas dan merasa belum sepenuhnya sukses. Ia merasa belum sukses untuk mencapai tujuan jangka panjangnya sebagai manusia.

“Masih banyak hal yang perlu saya perbaiki dan tingkatkan untuk bisa terus maju dan menjadi sukses. Karena sejatinya kesuksesan yang hakiki menurut saya adalah saat kita mampu mengamalkan segala perintah Allah serta memiliki bekal amal kebaikan yang cukup untuk hidup di akhirat,” terang dosen yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW tersebut.

Ke depannya, Fahmi ingin menulis buku sebagai bentuk kontribusinya dalam dunia pendidikan. Ia berencana menulis buku tentang identifikasi mineral menggunakan mikroskop. Selain itu, dalam waktu dekat ia ingin menempuh pendidikan doktoral di Jerman dan menulis karya ilmiah dalam jurnal internasional melalui skema pendanaan hibah peningkatan kapasitas dosen muda.

“Sedangkan untuk jangka panjang, saya memiliki target untuk dapat menjadi profesor di bidang geologi endapan mineral sebelum usia 45 tahun,” pungkasnya. (duniadosen.com/az)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED POST

about

Get Started

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081362311132

Duniadosen.com © 2020 All rights reserved

Dibuat dengan ❤ di Jogja