Topik penelitian yang dipilih bisa jadi sudah pernah diteliti sebelumnya, dan tentu dalam kondisi ni perlu menemukan research gap penelitian terdahulu. Mencari dan menemukan research gap tersebut akan menjadi agenda wajib.
Ada banyak metode atau cara bisa dilakukan para peneliti dan akademisi, baik dosen maupun mahasiswa dalam mencari research gap. Namun, seberapa penting sebenarnya research gap tersebut sehingga wajib ditemukan? Berikut informasinya.
Apa Itu Research Gap?
Research gap penelitian adalah celah atau kekosongan dalam pengetahuan ilmiah yang menunjukkan bahwa masih ada aspek tertentu dari suatu topik yang belum diteliti, belum tuntas, atau belum disepakati (masih pro kontra) sehingga mendorong penelitian lebih lanjut.
Setiap penelitian, secara umum memiliki celah atau kekosongan tersebut. Faktor yang menyebabkan celah tersebut cukup beragam. Misalnya keterbatasan sumber daya, sehingga ada batasan untuk mengabaikan aspek tertentu pada topik yang diteliti.
Research gap kemudian menjadi inspirasi dan celah bagi peneliti masa sekarang untuk melakukan penelitian terdahulu. Namun, meski memiliki topik yang sama tentunya tetap ada perbedaan. Perbedaan ini didapatkan dari hasil pencarian research gap yang ditemukan.
Contohnya, seorang peneliti mendapati kondisi sudah cukup banyak peneliti yang fokus pada literasi digital mahasiswa,. Hanya saja belum banyak yang meneliti literasi digital dosen di Indonesia. Sehingga kondisi ini menjadi research gap, peneliti bisa memilih topik penelitian “literasi digital dosen”.
Research gap penelitian kemudian memiliki jenis yang beragam. Sebab celah dan kekosongan pada penelitian terdahulu bisa karena beberapa sebab. Berikut jenis-jenis research gap yang dimaksud:
1. Theoretical Gap
Jenis pertama, theoretical gap. Yaitu research gap yang terjadi karena belum ada teori yang menjelaskan suatu fenomena. Sehingga penelitian terkait suatu fenomena bisa fokus menelitinya dan menghasilkan teori baru yang menjelaskan fenomena tersebut.
2. Empirical Gap
Empirical gap adalah research gap yang terjadi karena adanya hasil beberapa penelitian yang saling bertentangan dan keduanya sama-sama belum memiliki bukti empiris yang cukup.
3. Methodological Gap
Methodological gap adalah research gap yang terjadi karena penelitian sebelumnya menggunakan metodologi penelitian yang kurang tepat sehingga hasil penelitian belum bisa menjawab pertanyaan penelitian tersebut.
4. Population Gap
Population gap adalah research gap yang terjadi karena penelitian terdahulu hanya meneliti populasi tertentu dan belum meneliti populasi lain yang relevan.
5. Evidence Gap
Evidence gap adalah research gap yang terjadi karena penelitian sebelumnya masih kekurangan bukti yang menguatkan atau mendukung hasil penelitian.
Baca juga artikel berikut yang berkaitan:
- Research Gap – Fungsi, Jenis, Contoh di Proposal Penelitian
- Mengenal 9 Jenis Research Gap dan Cara Menemukannya
- Fenomena Gap: Contoh dan Perbedaan dengan Research Gap
- Makin Efisien, Ini 10 Pilihan Tools untuk Mencari Research Gap
- Publikasi Karya Ilmiah Menjadi Syarat Naik Jabatan di Setiap Jenjang
Ikuti juga R&D Hack, Roadmap Riset Anti Stuck dan bangun roadmap riset pengembangan yang jelas dan aplikatif dengan memahami cara menemukan research gap, menyusun kerangka R&D yang praktis, serta memetakan langkah riset secara sistematis!
Pentingnya Research Gap untuk Penelitian
Mencari research gap penelitian tentunya butuh waktu dan perlu dilakukan dengan teknik atau cara yang benar. Namun, bisakah suatu penelitian dilakukan tanpa mencari research gap? Selama penelitian meneliti suatu topik dan pernah diteliti sebelumnya, maka mencari research menjadi hal wajib. Berikut beberapa alasannya:
1. Membedakan Penelitian yang Dilakukan dengan Penelitian Sebelumnya
Topik di dalam suatu bidang keilmuan bisa diteliti berulang kali oleh dosen maupun mahasiswa dan peneliti. Namun, setiap penelitian harus berbeda agar tidak terjadi pengulangan (repetisi) penelitian.
Jika terjadi, maka tidak ada hasil dan temuan baru. Penelitian yang dilakukan menjadi sia-sia karena tidak menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka research gap wajib dicari dan ditemukan, sebagai pembeda dengan penelitian sebelumnya.
2. Membantu Menentukan Fokus Penelitian
Topik dari penelitian tentu harus dibuat spesifik. Misalnya dengan membatasi populasi penelitian, menentukan jumlah sampel sesuai kemampuan dan ketersediaan sumber daya, dan pertimbangan lainnya.
Research gap yang berhasil ditemukan berperan penting dalam penetapan fokus penelitian tersebut. Peneliti akan memahami apa saja yang menjadi fokus penelitian sebelumnya. Sehingga bisa mencoba fokus lain yang berbeda.
3. Membantu Melanjutkan dan Menyempurnakan Penelitian Sebelumnya
Penelitian sebelumnya dengan topik yang sama bisa jadi masih memiliki kelemahan, kekurangan, masih menjadi perdebatan, sudah tidak relevan, dan sebagainya. Maka mencari research gap penelitian sangat penting untuk melanjutkan penelitian sebelumnya.
Baik untuk menemukan teori baru, menyempurnakan teori dari penelitian sebelumnya, dan untuk tujuan lainnya. Jadi, research gap mendorong peneliti untuk melanjutkan penelitian sebelumnya yang memang harus dilanjutkan.
4. Mendorong Orisinalitas dalam Penelitian
Suatu penelitian tentu perlu unik dan baru, sehingga hasil penelitian tersebut juga baru, berkontribusi pada perkembangan iptek, dan orisinil. Research gap membantu memastikan penelitian yang dilakukan unik dan baru, karena tidak mengulang penelitian sebelumnya.
Cek juga kelas online Research Gap Kunci Inovasi dan Publikasi Berkualitas dari Duniadosen yang dirancang khusus untuk membantu para dosen memahami dan menguasai konsep research gap secara mendalam!
Cara Menemukan Research Gap
Mencari dan menemukan research gap penelitian bisa dilakukan dengan beberapa cara. Sehingga bukan hanya mengandalkan satu atau dua cara saja. Berikut beberapa diantaranya:
1. Melakukan Kajian Pustaka (Literature Review)
Cara pertama untuk menemukan research gap, dan bisa disebut sebagai cara termudah adalah melakukan kajian pustaka. Khususnya artikel pada jurnal maupun prosiding yang memuat hasil penelitian terkini.
Pencarian research gap diawali dengan mencari berbagai artikel jurnal yang relevan dengan topik. Kemudian satu per satu dari artikel tersebut dianalisis dengan mendalam untuk mencari celah, kekosongan, atau kesenjangan.
Research gap bisa ditemukan dari hasil penelitian yang belum kuat bukti empirisnya, terdapat dua penelitian atau lebih dengan hasil bertentangan, dan informasi research gap dari peneliti itu sendiri.
Biasanya di dalam artikel ilmiah pada jurnal mencantumkan kelemahan penelitian dan menyarankan ke peneliti berikutnya untuk mengatasi kelemahan tersebut. Sehingga research gap tercantum langsung di dalam artikel jurnal. Berikut contohnya:

Contoh tersebut bersumber dari artikel ilmiah karya Eduard Yohannis Tamaela berjudul “Konsekuensi Konflik Peran, Kelebihan Beban Kerja dan Motivasi Intrinsik terhadap Burnout pada Dosen yang Merangkap Jabatan Struktural” yang terbit di Jurnal Ilmiah Aset. Tercantum di bagian Simpulan (sebelum Daftar Pustaka). Artikel bisa diakses disini.
Tidak semua artikel pada jurnal maupun prosiding merekomendasikan langsung penelitian lanjutan. Sehingga perlu dilakukan analisis dan penarikan kesimpulan mandiri oleh peneliti masa sekarang.
2. Menganalisis Tren Penelitian atau Tren Publikasi Ilmiah
Cara kedua dalam menemukan research gap penelitian adalah dengan menganalisa tren penelitian atau tren publikasi ilmiah. Tren penelitian menunjukan topik sampai aspek metodologi dan lainnya yang banyak dipilih peneliti. Sehingga menunjukan topik tersebut sedang menjadi tren.
Pada topik yang tengah tren, tentunya ada beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan bisa dianalisis metode mana saja yang sering digunakan, konteks penelitian seperti apa yang sering dipilih, dan sebagainya.
Sehingga bisa diketahui metode, konteks, dan aspek lain yang diabaikan peneliti di topik yang sedang tren tersebut. Analisis research gap dari tren penelitian memang butuh waktu. Namun bisa memanfaatkan teknologi seperti pemanfaatan platform AI yang membantu mengecek tren penelitian dalam kurun waktu tertentu.
3. Diskusi dengan Ahli, Senior, atau Praktisi
Cara ketiga untuk membantu menemukan research gap penelitian adalah dengan melakukan diskusi bersama ahli (pakar di suatu bidang), rekan sejawat yang sudah senior, maupun dengan praktisi.
Diskusi tentang penelitian dan research gap, membantu dosen maupun mahasiswa memahami celah dari penelitian sebelumnya. Bahkan teman diskusi ini bisa langsung menunjukan research gap dan merekomendasikannya untuk diteliti lebih lanjut.
Sementara saat diskusi dengan praktisi, maka bisa mencari tahu apa permasalahan yang dihadapi. Kemudian hasil penelitian maupun teknologi apa saja yang belum relevan mengatasi masalah yang dihadapi praktisi tersebut. Sehingga bisa menemukan celah penelitian sebelumnya.
4. Memanfaatkan Teknologi
Menggunakan teknologi juga menjadi salah satu cara untuk menemukan research gap penelitian. Sampai saat ini, memang masih belum ada platform dengan teknologi terkini yang bisa mencantumkan research gap secara langsung kepada pengguna.
Namun, beberapa platform bisa membantu analisis tren penelitian. Sehingga tidak perlu dianalisis manual dan mempercepat proses penemuan research gap. Ada cukup banyak platform AI yang membantu menganalisis tren penelitian. Misalnya Connected Paper, Open Knowledge Maps, ResearchRabbit, LitMaps, dan sebagainya.
Korelasi Research Gap dengan Novelty
Jika membahas mengenai research gap penelitian, maka biasanya akan dikaitkan dengan novelty (kebaruan). Lalu, apa korelasi antara research gap dengan novelty? Secara mendasar, hubungan keduanya membentuk pola sebab akibat. Research gap adalah faktor penyebab, dan novelty menjadi akibat yang ditimbulkan.
Novelty (kebaruan) sendiri adalah unsur kebaruan atau kontribusi baru yang ditawarkan oleh suatu penelitian. Unsur kebaruan disini bisa dalam bentuk teori, metode, data, bahkan juga konteks baru yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.
Penelitian yang tidak menerapkan tahap research gap, cenderung sulit dan bahkan tidak bisa menghasilkan novelty. Sebab penelitian tersebut bisa jadi mengulang penelitian sebelumnya, karena tidak ada analisis celah atau kekosongan sebelumnya.
Sebaliknya, jika dalam suatu penelitian dilakukan pencarian research gap. Maka membantu peneliti menentukan fokus yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Sehingga hasil penelitian tidak sama dengan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian yang baru, unik, lebih baik, lebih solutif, dan sejenisnya inilah yang disebut novelty.
Mewaspadai Novelty dari Systematic Literature Review (SLR)
Research gap penelitian dan novelty menjadi dua hal yang sangat penting dalam penelitian. Bahkan bisa dikatakan perlu atau wajib ada. Sebab dengan research gap, maka peneliti bisa mendapatkan novelty pada penelitian yang dilakukan.
Memahami bahwa salah satu teknik dalam menemukan research gap adalah literature review (kajian pustaka). Maka tentu bisa menerapkan teknik Systematic Literature Review (SLR) yang membantu kajian literatur secara terstruktur dan mudah diterapkan. Bisa juga menggunakan metode lainnya.
Hanya saja, penting untuk memahami artikel ilmiah sebaiknya tidak disusun hanya berdasarkan hasil kajian pustaka dengan SLR tersebut. Meskipun artikel ilmiah bisa disusun dari hasil kajian pustaka tanpa harus melakukan penelitian langsung. Kemudian tetap bisa diterima kebanyakan jurnal untuk dipublikasikan.
Namun, jika Anda dosen atau mahasiswa, khususnya dosen sebaiknya tidak terbiasa menggunakan SLR untuk tujuan publikasi ilmiah tanpa penelitian langsung. Sebab dampaknya, riwayat publikasi tersebut tidak memenuhi kriteria dalam pemenuhan syarat khusus naik ke jenjang Lektor atau Guru Besar.
Pada mahasiswa, perguruan tinggi yang menaungi bisa saja menolak skripsi maupun tesis dan disertasi yang hanya disusun dari teknik SLR. Sehingga dinilai belum memenuhi syarat untuk dinyatakan lulus dalam suatu program studi.
SLR memang sangat membantu dalam menemukan research gap penelitian dan menghasilkan novelty. Namun, jika untuk tujuan memenuhi syarat kelulusan atau syarat naik jabatan fungsional dosen. SLR bukan teknik kajian pustaka yang buruk, hanya saja kurang direkomendasikan untuk 2 kondisi tersebut.
Sebaiknya tidak menerbitkan artikel ilmiah hasil SLR tanpa penelitian langsung. Kebijakan ini memang bisa berubah, hanya saja untuk saat ini dianjurkan untuk dihindari dan fokus pada penelitian nyata yang dilakukan dosen atau mahasiswa.
Duniadosen juga memiliki kelas online dengan materi terbaik dan sangat cocok untuk membantu pengembangan Anda! Jangan lewatkan kesempatan ini dan segera daftar E-Course dari Duniadosen dan tingkatkan kemampuan Anda!
Referensi:
- Wibowo, A. (2025). Research Gap: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contohnya dalam Penelitian. [BUKA]
- Munandar, A. (2025). Jangan Asal Teliti: Pahami Dulu Bedanya Research Gap dan Novelty. [BUKA]
- Useptionist Suhudism. [@suhudugly]. (2026, Jan 21).Manfaatkan 12 Tools Ini untuk Mencari Jurnal Ilmiah, Gratis!… [Reels]. Instagram. [BUKA]
- Novianto, A. (2025, Jan 25). Akhir-akhir ini, metode Systematic Literature Review (SLR) tengah populer… [Unggahan Threads]. Threads. [BUKA]





