9 Kesalahan Dosen dalam Melakukan Penulisan Jurnal dan Tips Menghindarinya
Penulisan jurnal atau penulisan artikel ilmiah untuk diterbitkan ke sebuah jurnal, memang diketahui bukan hal mudah. Disebut demikian, karena banyak dosen yang berhadapan dengan berbagai kendala dalam proses penulisan tersebut.
Hal ini tentunya perlu dipahami dan diantisipasi, sehingga kualitas artikel lebih baik. Kualitas yang optimal meningkatkan potensi menembus jurnal kredibel dan bereputasi. Berikut informasinya.
Meskipun ada banyak kendala, kesulitan, dan tantangan dalam proses publikasi jurnal ilmiah, ada banyak arti penting publikasi di jurnal ilmiah. Berikut beberapa diantaranya:
Publikasi jurnal ilmiah merupakan salah satu tanggung jawab yang harus dilaksanakan dosen karena termasuk kewajiban akademik dalam pelaksanaan tugas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Salah satunya dalam bentuk artikel ilmiah dan diterbitkan melalui sebuah jurnal. Sehingga publikasi berbentuk jurnal penting bagi dosen, sebab merupakan bukti sudah menjalankan kewajiban tersebut.
Sejalan dengan hal ini, publikasi jurnal dosen pun ikut berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sebab memuat temuan-temuan baru dari penelitian maupun pengabdian.
Publikasi di jurnal ilmiah memiliki kredibilitas lebih tinggi secara keilmuan. Selain itu, publikasi di jurnal sudah spesifik di bidang tertentu dengan scope tertentu sesuai kebijakan jurnal tersebut.
Sehingga publikasi di sebuah jurnal menjadi sarana akademik branding dosen, supaya dikenal luas kepakarannya di bidang apa. Kepakaran ini membantu dosen bertemu dengan mitra kolaborasi, menerima tawaran mengisi seminar, menjadi narasumber dalam wawancara dengan jurnalis terkait isu tertentu, dll.
Hal ini dapat terjadi karena dosen semakin dikenal luas berkat publikasi tersebut. Sekaligus diketahui kepakarannya apa, sehingga bisa menarik perhatian dosen dan peneliti lain untuk menawarkan kolaborasi.
Dalam kebijakan terbaru di dalam Kepmendiktisaintek No.39/M/Kep/2026, diketahui publikasi di jurnal internasional bereputasi bisa memberi 40 poin angka kredit. Sedangkan pada jurnal internasional terakreditasi bisa sampai 25 poin.
Baca juga: Angka Kredit Dosen untuk Kenaikan Jabfung Sesuai Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025
Publikasi jurnal ilmiah membantu dosen memenuhi syarat administratif berupa pemenuhan proporsi AK Prestasi. Selain itu, membantu dosen memenuhi syarat khusus jika memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi sesuai ketentuan. Jadi, publikasi tersebut bisa mendukung karir akademik dosen.
Baca juga: Ketentuan dan Cara Pemenuhan Angka Kredit Penelitian (AK Prestasi)
Tak hanya memiliki angka kredit tinggi, dalam BKD (Beban Kerja Dosen) publikasi jurnal ilmiah juga memiliki bobot SKS yang tinggi. Pada kebijakan sebelumnya, publikasi di jurnal internasional bereputasi bisa memberi 10 SKS.
Sementara pada jurnal nasional terakreditasi mencapai 6,25 SKS. Padahal target dosen adalah 12 SKS per semester. Jadi publikasi di jurnal ilmiah sangat membantu dosen mempercepat pemenuhan target BKD tersebut.
Publikasi di berbagai jurnal ilmiah membantu membangun rekam jejak kepakaran. Sejalan dengan hal tersebut, kepakaran ini bisa ditelusuri asesor hibah pada saat melakukan verifikasi pada proposal usulan.
Jika proposal usulan sesuai kepakaran dosen, dan ditunjang bukti rekam jejak publikasi yang relevan. Maka tentunya memperbesar peluang lolos seleksi program hibah yang tengah diperjuangkan dosen.
Dalam proses penulisan jurnal atau artikel ilmiah untuk publikasi jurnal, dosen berhadapan dengan berbagai kendala. Berikut beberapa diantaranya:
Pada jurnal ilmiah, rata-rata menggunakan format IMRaD. Khususnya untuk jurnal internasional. Namun, beda jurnal maka beda juga kebijakan format strukturnya.
Biasanya pengelola jurnal menyediakan buku pedoman penulisan yang bisa dibaca para penulis. Luangkan waktu membacanya, agar format penulisan sudah tepat dari awal.
Baca juga: Format Penulisan Artikel Jurnal Terindeks SINTA
Judul menjadi bagian paling pertama yang akan dibaca dan dinilai editor jurnal ilmiah. Judul yang menarik dan benar-benar merepresentasikan isi artikel ilmiah. Memiliki peluang lebih besar diterima editor jurnal dan masuk tahap peer review.
Hanya saja, masih banyak kesalahan dalam penulisan di bagian judul. Misalnya judul kurang menarik karena bertele-tele, kurang jelas, dan tidak merepresentasikan isi artikel ilmiah. Sehingga terkesan tidak atau kurang tepat.
Abstrak menjadi salah satu bagian wajib dari artikel ilmiah. Baik yang akan diterbitkan ke jurnal nasional maupun jurnal internasional.
Abstrak berisi ringkasan dari isi artikel ilmiah. Merangkum dari topik utama yang diteliti, metodologi yang digunakan, data yang didapatkan, dan sebagainya. Abstrak harus singkat dan mampu merangkum isi artikel ilmiah pada poin-poin inti.
Baca juga: Tata Cara Membuat Abstrak Jurnal yang Baik dan Benar
Secara mendasar, gaya bahasa dalam penulisan jurnal adalah bahasa formal. Namun, bukan hanya formal akan tetapi juga objektif dan ringkas. Sayangnya, banyak dosen yang masih fokus pada gaya bahasa formal.
Kemudian memperbanyak kalimat yang tidak efektif. Misalnya ada pengulangan berlebihan, kalimat terlalu panjang, dan sejenisnya. Sehingga menghilangkan ketentuan gaya bahasa harus menunjukan objektivitas penulis dan memastikan ringkas tapi jelas.
Kebanyakan dosen memilih bahasa Inggris dalam publikasi jurnal internasional. Alasannya, karena publikasi dengan bahasa satu ini cenderung punya visibilitas lebih tinggi.
Hanya saja, kesalahan penulisan jurnal dalam bahasa Inggris adalah pada grammar. Dalam menyusun karya tulis ilmiah berbahasa Inggris, grammar yang baik memang menjadi hal penting untuk dicapai.
Sayangnya, jika keterampilan bahasa Inggris belum optimal dan dosen enggan menggunakan jasa penerjemah. Maka kesalahan grammar ini tentunya masih akan dilakukan dan diketahui editor.
Plagiarisme dalam penulisan bisa terjadi karena kutipan tidak dicantumkan sumber dengan jelas. Bisa karena lupa, kurang tepat atau kurang sesuai gaya sitasi yang ditetapkan pengelola jurnal, dan sebab lainnya.
Bisa juga karena sengaja, penulis atau dosen bisa mengalami kebuntuan ide sehingga copy paste karya orang lain. Hal ini tentu menjadi kesalahan besar, bisa ditolak jurnal. Jika lolos pun, di masa mendatang bisa menjadi kasus.
Baca juga: 14 Platform AI untuk Cek Plagiarisme
Kesalahan penulisan jurnal oleh dosen juga bisa berkaitan dengan referensi yang digunakan. Referensi disebut keliru bisa karena tidak relevan dengan topik artikel ilmiah, bukan terbitan terkini, dan kualitas atau kredibilitasnya tidak jelas.
Kesalahan pada pemilihan referensi tentunya berdampak fatal. Sebab data yang dicantumkan di dalam artikel bisa saja keliru, tidak sesuai data terbaru, tidak valid, tidak lengkap, dan sejenisnya. Hal ini tentu menurunkan kualitas artikel ilmiah yang disusun.
Data yang didapatkan dalam kegiatan penelitian, tentunya akan dicantumkan di dalam artikel ilmiah. Hanya saja, data tersebut bisa saja dibuat terlalu sederhana atau tidak lengkap.
Sehingga menurunkan kualitas data, analisis menjadi kurang kuat, dan hasil analisisnya pun kurang kuat juga. Pada akhirnya, data dan hasil analisis dianggap lemah oleh editor jurnal. Hal ini bisa berdampak pada penolakan artikel tersebut dan gagal terbit di jurnal.
Secara umum, pasca peer review selesai para reviewer meninggalkan komentar pada file artikel ilmiah. Isi komentar inilah yang berisi revisi. Sayangnya, dosen yang terlalu overconfidence dengan karya tulisnya cenderung menolak saran dan masukan reviewer.
Hal ini tentu menjadi kendala untuk artikel diterbitkan jurnal, karena tidak sesuai dengan ketentuan dari reviewer yang lebih paham substansi yang benar bagaimana. Kesalahan seperti ini membuat artikel lama terbit dan bahkan gagal terbit.
Memahami bahwa ada banyak sekali bentuk kesalahan penulisan jurnal atau artikel ilmiah. Maka sebagai bentuk antisipasi, maka perlu menerapkan beberapa tips berikut agar kesalahan bisa dihindari:
Tips yang pertama, tentu saja para dosen wajib meluangkan waktu membaca panduan penulisan yang disediakan pengelola jurnal. Sebab berisi panduan penulisan, submit, sampai mengikuti proses peer review. Hal ini wajib dilakukan di awal sebelum penulisan dimulai, agar sesuai ketentuan yang ada.
Tips kedua, adalah mengasah keterampilan bahasa Inggris. Terutama jika dosen berencana punya publikasi jurnal dengan bahasa Inggris rutin di masa mendatang. Semakin baik keterampilan bahasa Inggris, semakin baik pula keterampilan writing. Termasuk penulisan artikel ilmiah dan karya ilmiah jenis lainnya.
Tips berikutnya, adalah selalu melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Hal ini dilakukan setelah proses penulisan selesai. Sehingga bisa diketahui ada tidaknya kesalahan. Jadi, sebelum di submit ke jurnal sudah dipastikan penulisan baik dan benar.
Tips lainnya, adalah tidak ragu untuk memanfaatkan teknologi maupun jasa profesional. Misalnya memanfaatkan platform AI untuk mencari referensi ilmiah sampai parafrase. Selama sesuai etika yang berlaku, maka tentunya bebas pelanggaran. Jasa profesional bisa jasa parafrase, jasa penerjemah, dll.
Baca juga:
Melalui beberapa tips tersebut, maka tentu bisa membantu menghindari kesalahan penulisan jurnal atau artikel jurnal ilmiah. Semakin minim kesalahan, semakin tinggi kualitas artikel tersebut. Sehingga bisa memperbesar peluang menembus jurnal SINTA maupun jurnal Scopus.
Setelah memangku jenjang pertama, yakni Asisten Ahli. Tentu dosen tidak berhenti di jenjang tersebut. Melainkan…
Penerbitan dan pemberlakuan Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025, tentu mempengaruhi syarat naik jabatan fungsional menuju…
Sebagai dosen maupun mahasiswa, menggunakan AI bukan sekedar pemanfaatan teknologi terkini. Akan tetapi harus menyesuaikan…
Publikasi jurnal ilmiah memiliki beragam arti penting bagi dosen di Indonesia. Selain membantu mambangun dan…
Memenuhi BKD (Beban Kerja Dosen) tentunya lewat pelaksanaan tri dharma, termasuk produktif publikasi jurnal ilmiah.…
Dosen di Indonesia memiliki target kinerja dalam bentuk BKD (Beban Kerja Dosen). BKD yang harus…