Tips

Ketua Panitia Serdos di Politala Berikan Tips Agar Lulus Serdos

Dosen Teknologi Industri Pertanian Politala, Kalimantan Selatan, Nuryati, ST., M.Eng., mengungkapkan, sertifikasi dosen (serdos) merupakan suatu keharusan bagi dosen. Karena pengakuan kompetensi dosen salah satu tolok ukurnya serdos. Begitu pentingnya serdos bagi dosen, sehingga banyak dosen yang memperjuangkannya. Dan berikut Nuryati membagi tips agar lulus serdos.

Nuryati mengungkapkan, saat dirinya mengajukan serdos pada 2016 ia merasakan perjuangan yang begitu berat. Karena saat itu di Politala Nuryati termasuk dosen angkatan kedua di sana, dan sebagai peserta serdos. Ia pun merasakan betapa sulitnya proses yang dilalui dalam mengikuti serdos, mulai dari tes TOEP dan TKDA yang lokasinya berada cukup jauh dari Politala.

Lulusan S2 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengatakan, saat itu, untuk kuota pengajuan Serdos masih dibatasi. Teknis pengisian CV dan Evaluasi Diri pun para dosen masih belajara secara otodidak, begitu juga deskripsi diri yang tidak ada acuannya serta ditambah pada saa itu sebagai angkatan pertama dosen di Politala yang mengajukan serdos sehingga banyak dosen yang tidak lulus.

Dari pengalaman-pengalaman itulah, kemudian Nuryati bersama rekan-rekannya mengajukan ke pihak Institusi untuk dibentuk kepanitiaan serdos. Karena saat itu Nuryati termasuk dosen pertama yang lulus serdos, maka ia diberikan amanah sebagai ketua panitia serdos dan dua anggota panitia lain dari bagian kepegawaian di Politala.

Aturan Dari Tahun Ke Tahun Selalu Ada Perbaikan

Sebagai ketua panitia serdos, menurutnya aturan-aturan terkait dengan pelaksanaan serdos dari tahun ke tahun selalu ada perbaikan dan efisiensi, baik waktu maupun teknis pelaksanaannya. Pada tahun 2018, kelulusan ditentukan oleh nilai akhir gabungan antara tes akademik, fortofolio, dan deskripsi diri. Tetapi mulai tahun 2019 mulai diubah, jika nilai tes akademik dan portofolio sudah baik atau lulus maka dilanjutkan dengan pengisian deskripsi diri.

Selain itu, pada tahun 2018, bagi dosen yang belum lulus di periode tahun tersebut, baru bisa mengajukan di tahun berikutnya dan harus dibina selama 365 hari. Tetapi di tahun 2019 bagi dosen yang belum lulus langsung bisa mengajukan di periode berikutnya.

“Kuota tiap tahun 10 ribu dosen, hanya saja periode pelaksanaan dalam satu tahun bisa dilihat dari kuota dosen yang mengajuan. Jika periode 1 sudah terpenuhi maka tidak dibuka diperiode berikutnya,” terangnya.

Nuryati, ST., M.Eng., dosen Teknologi Industri Pertanian Politala, Kalimantan Selatan yang juga sebagai ketua panitia serdos Politala, saat sosialisasi pelaksanaan serdos kepada sejumlah dosen di Politala, tahun 2019. (Sumber Foto: dokumentasi Nuryati)

Dosen Masih Kesulitan Pengajuan Serdos Melalui SISTER

Beralihnya sistem pengajuan serdos melalui aplikasi SISTER sejak 2019, menemui kendala hingga saat ini. Nuryati mengatakan, kendala tersebut antara lain pemilihan bidang ilmu yang tidak semua tersedia di aplikasi SISTER dan hal itu mempengaruhi kelulusan serdos.

“Karena tidak tersedia pilihan bidang ilmu, maka dosen yang bersangkutan memilih bidang ilmu yang mendekati. Tetapi terkadang persepsi bidang ilmu yang dipilih belum tentu sama dengan asesor yang menilai sertifikasi dosen,” jelasnya.

Nuryati berharap, pihak-pihak yang berwenang untuk dapat dilengkapi, terutama untuk pemilihan bidang ilmu. Agar lebih mempermudah dosen dalam mengisi  pada aplikasi SISTER.

Point Penting Agar Lulus Serdos

Nuryati memaparkan, ada beberapa point penting yang harus dicermati dan dilakukan para peserta agar lulus serdos. Yaitu diantaranya;

Pertama, baca panduan pelaksanaan sertifikasi dosen. Ada 3 buku yang harus dikuasai:

Buku 1, berisi panduan serdos berisi pembaharuan-pembaharuan dalam serdos

Buku 2, berisi tentang bagaimana penilaian portofolio

Buku 3, berisi tentang prosedur operasional baku.

Kedua, pengisian CV (curriculum vitae) lengkap termasuk publikasi tulisan alamat websitenya. Jika dosen dengan jabatan fungsional Asisten Ahli, maka diusahakan skor tes TOEP dan TKDA rata-rata 4.

Ketiga, pengisian dan penilaian persepsional diri harus konsisten.

Keempat, pengisian deskripsi diri jangan sampai ada indikasi plagiat dan dituliskan dengan jujur. Untuk meminmalisasi plagiat, sertakan nomor sertifikat-sertifikat pada deskripsi diri.

Kelima, pada saat pengisian deskripsi diri ada 24 komponen yang dinilai. Tiap komponen tersebut harus terdiri minimal 150 kata. Deskripsi diri yang sudah disusun jangan terburu-buru untuk divalidasi. Minta bantuan teman-teman dosen yang sudah tersertifikasi untuk mengkoreksi terlebih dahulu.

Dari kelima point di atas, Nuryati berharap para dosen yang mengajukan serdos bisa memperoleh nilai baik dan lulus serdos tanpa harus mengulang. (duniadosen.com/ta)

Redaksi

Recent Posts

Cara Membuat Pendahuluan Artikel Jurnal Ilmiah dengan Efektif dan Efisien

Menggunakan AI untuk jurnal atau penulisan artikel pada jurnal ilmiah menjadi pertimbangan yang layak dilakukan…

4 hours ago

Serdos 2026, Pahami dan Penuhi Persyaratannya dari Sekarang!

Penerbitan Permendiktisaintek No. 52 Tahun 202,5, tentu menjadi babak baru bagi dosen di Indonesia untuk…

4 hours ago

Strategi Menghindari Kesalahan Dosen dalam Penyusunan RPS OBE

Kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi Indonesia adalah kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education). Salah satu…

1 day ago

Apa Itu Rumpun Ilmu? Dosen Pemula Wajib Tahu

Sejak tahun 2024, semua dosen di Indonesia diwajibkan mengisi data rumpun ilmu di profil SISTER…

1 day ago

6 Tips Menggunakan Scopus AI untuk Mendukung Publikasi Ilmiah Dosen

Menggunakan teknologi AI bagi kalangan akademisi, tentu bukan hal baru. Sebab dengan penggunaan yang etis…

2 days ago

Bagus Muljadi, Dosen asal Indonesia yang Menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham

Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki cita-cita menjadi dosen, tentu tak harus mengajar di Indonesia.…

2 days ago