Publikasi

Strategi Memenuhi Syarat Khusus Kenaikan Jabfung dengan Menyusun Roadmap Penelitian

Menyusun roadmap penelitian untuk memudahkan publikasi ilmiah bisa dikatakan langkah yang tepat. Sebab, roadmap penelitian ini akan membantu dosen menyusun kerangka kerja kegiatan penelitian dalam jangka waktu panjang. 

Sehingga, dosen bisa menyiapkan kegiatan penelitian tahap demi tahap. Kemudian bisa produktif meneliti dan memiliki luaran yang beragam serta berkualitas. Roadmap penelitian yang disusun dosen, pada akhirya juga membantu mengembangkan karir akademik. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut informasinya. 

Syarat Khusus Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen

Sebelum membahas secara rinci mengenai roadmap penelitian untuk memudahkan publikasi ilmiah dosen. Tentu perlu memahami arti penting publikasi ilmiah tersebut bagi dosen. 

Dalam Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025, menjelaskan detail seluruh persyaratan kenaikan jabatan fungsional. Dalam syarat administratif terdapat ketentuan proporsi minimal angka kredit untuk kegiatan penelitian. Disusul dengan kewajiban dosen pengusul memenuhi syarat khusus. Berikut detailnya: 

1. Syarat Khusus Kenaikan Jabfung Menuju Lektor

Bagi dosen yang akan mengajukan kenaikan jabatan fungsional (jabfung) menuju Lektor. Maka wajib memenuhi salah satu dari 3 pilihan syarat khusus berikut ini: 

  1. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi minimal peringkat SINTA 4 dan sebagai penulis pertama; atau
  2. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi peringkat Q4 dengan SJR > 0,1 atau IF > 0,05, status terpublikasi bukan berstatus dibatalkan (cancelled) atau cakupan tidak dihentikan (coverage discontinued), dan sebagai penulis pertama; atau
  3. Khusus untuk dosen di bidang ilmu seni maka wajib memiliki 1 karya seni yang diakui dengan bereputasi nasional dan berstatus sebagai pencipta atau sebutan lain yang sesuai.

2. Syarat Khusus Kenaikan Jabfung Menuju Lektor Kepala

Sementara syarat khusus untuk dosen yang akan mengajukan kenaikan jabfung ke jenjang Lektor Kepala, adalah sebagai berikut: 

  1. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi peringkat Q3 dengan SJR > 0,2 atau IF > 0,05, status terpublikasi bukan berstatus dibatalkan (cancelled) atau cakupan tidak dihentikan (coverage discontinued), dan sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi; atau
  2. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi minimal peringkat SINTA 2 dan sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi; atau
  3. Khusus untuk dosen di bidang ilmu seni maka wajib memiliki 1 karya seni yang diakui dan bereputasi internasional dan berstatus sebagai pencipta atau sebutan lain yang sesuai.

3. Syarat Khusus Kenaikan Jabfung Menuju Guru Besar

Syarat khusus berkaitan riwayat publikasi ilmiah juga menyertai kenaikan jabfung ke jenjang Guru Besar. Berikut detailnya: 

  1. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi peringkat Q2 dengan SJR > 0,25 atau IF > 0,05, status terpublikasi bukan berstatus dibatalkan (cancelled) atau cakupan tidak dihentikan (coverage discontinued), dan sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi; dan
  2. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi peringkat Q3 dengan SJR > 0,2 atau IF > 0,05, status terpublikasi bukan berstatus dibatalkan (cancelled) atau cakupan tidak dihentikan (coverage discontinued), dan sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi; atau
  3. Memiliki 1 artikel ilmiah yang terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi minimal peringkat SINTA 1, status terpublikasi bukan berstatus dibatalkan (cancelled) atau cakupan tidak dihentikan (coverage discontinued), dan sebagai penulis pertama atau penulis korespondensi; atau
  4. Khusus untuk dosen di bidang ilmu seni maka wajib memiliki 2 karya seni yang diakui dan bereputasi internasional dan berstatus sebagai pencipta atau sebutan lain yang sesuai.

Melalui penjelasan di atas, maka bisa dipahami bahwa membangun riwayat publikasi ilmiah di berbagai jurnal nasional dan internasional sangat penting bagi dosen. Sebab menjadi salah satu kunci untuk bisa mengembangkan jenjang jabfung yang dipangku. 

Supaya syarat khusus ini bisa dipenuhi, maka tentunya dosen perlu lebih dulu produktif melaksanakan kegiatan penelitian. Sehingga bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah yang dimiliki. 

Cek juga kelas online Digital Era Smart Lecturer Optimalisasi Riset dan Publikasi dari Dunia Dosen dan kuasai strategi riset dan publikasi digital untuk memperkuat reputasi akademik Anda!

Kendala Dosen dalam Memenuhi Syarat Khusus Kenaikan Jabfung

Melaksanakan penelitian dan kemudian mengoptimalkan luaran dalam bentuk publikasi ilmiah. Memang menjadi salah satu upaya dosen memenuhi syarat khusus kenaikan jabfung yang dijelaskan di atas. 

Sehingga menyusun roadmap penelitian untuk memudahkan publikasi bisa dipertimbangkan para dosen. Apalagi, pada proses publikasi ilmiah dosen menghadapi banyak sekali kendala. Misalnya: 

1. Keterbatasan Waktu

Kendala pertama yang dihadapi para dosen dalam memenuhi syarat khusus jabfung adalah keterbatasan waktu. Dosen memiliki kesibukan akademik tinggi karena wajib menjalankan 3 tugas pokok maupun tugas tambahan beriringan. Sehingga menjadi kendala untuk meluangkan waktu menulis karya ilmiah hasil penelitian. 

2. Keterbatasan Biaya

Kegiatan penelitian dosen sampai mencapai luaran dalam bentuk publikasi ilmiah membutuhkan biaya tidak sedikit. Banyak dosen terkendala dari segi pembiayaan. Apalagi jika dosen kesulitan mendapatkan insentif dari perguruan tinggi maupun hibah dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 

3. Minim Kebaruan dalam Penelitian

Kendala ketiga, publikasi ilmiah yang dihasilkan sebagian besar dosen di Indonesia masih minim kebaruan (novelty). Sebab masih banyak dosen yang meneliti topik dan permasalahan yang sudah usang. Sehingga terkesan meneliti ulang dan luarannya susah menembus jurnal terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. 

4. Analisis dan Penyajian Data Lemah serta Kurang Menarik

Kendala berikutnya adalah proses analisis dan penyajian data penelitian dosen yang masih lemah. Pada aspek penyajian data tersebut, juga banyak yang masih kesulitan sehingga menjadi kurang menarik. 

Data pada penelitian harus dipastikan lengkap, tidak kurang dan juga tidak berlebihan. Sehingga menjaga relevansi dengan topik dan menunjang reputasi dosen sebagai peneliti sekaligus penulis. 

Sayangnya, masih banyak dosen yang kesulitan dalam menganalisis data dengan baik. Sekaligus saat menyajikan data penelitian tersebut pada artikel ilmiah. Berikut beberapa contohnya: 

  • Data yang disajikan pada artikel ilmiah kurang atau justru terlalu berlebihan.
  • Penjelasan pada data penelitian masih kurang, misalnya tidak dijelaskan cara memperoleh data tersebut dan bagaimana analisis data dilakukan.
  • Penjelasan dalam proses pemilihan narasumber maupun responden masih kurang.
  • dan lain sebagainya.

5. Kemampuan Menulis dalam Bahasa Inggris yang Terbatas

Kendala selanjutnya, kemampuan para dosen dalam menyusun artikel ilmiah dalam bahasa Inggris masih terbatas. Sehingga masih mengalami kesulitan. Beberapa mungkin bisa mengatasi dengan menggunakan jasa penerjemah profesional. Hanya saja tidak berlaku untuk dosen dengan keterbatasan biaya. 

Selain itu, program pascasarjana (S2 dan S3) di Indonesia masih banyak yang belum menerapkan mata kuliah penulisan artikel jurnal dalam bahasa resmi PBB. Minimal dalam bahasa Inggris. Sehingga dosen di Indonesia pun masih kesulitan memenuhi standar jurnal internasional bereputasi. 

6. Rendahnya Perhatian Dosen pada Etika Publikasi Ilmiah

Kendala lainnya, masih banyak dosen di Indonesia yang kurang memperhatikan etika publikasi ilmiah. Sehingga masih sering dijumpai pelanggaran etika. Seperti comot nama, plagiarisme, titip nama tanpa kontribusi ilmiah, dan sebagainya. Sehingga sekalinya masuk jurnal internasional bereputasi, justru berbuntut kasus. 

Menyusun Roadmap Penelitian sebagai Solusi Pemenuhan Syarat Khusus Jabfung

Kendala dalam publikasi ilmiah yang cukup beragam dan bisa dihadapi semua dosen tanpa terkecuali. Tentunya perlu segera diatasi dengan solusi yang tepat. Salah satunya dengan menyusun roadmap penelitian. 

Menyusun roadmap penelitian untuk memudahkan publikasi ilmiah sangat tepat. Sebab roadmap sendiri adalah susunan rencana kegiatan penelitian dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Berikut beberapa alasan kenapa roadmap penelitian bisa menjadi solusi terbaik: 

1. Berisi Rencana Kegiatan Penelitian Dosen yang Konsisten

Roadmap penelitian yang disusun dosen akan membantu menyusun rencana kegiatan penelitian setidaknya selama 10 tahun kedepan. Sehingga dosen bisa lebih konsisten melakukan penelitian. 

Kemudian berimbas pada publikasi ilmiah yang juga sama-sama konsisten. Jika publikasi sudah konsisten, maka cenderung meningkat kualitasnya. Hal ini akan membantu dosen memenuhi syarat khusus kenaikan jabfung di jenjang manapun. 

2. Mencantumkan Pengaturan Jadwal Penelitian

Roadmap penelitian tentunya akan mencantumkan juga jadwal rencana kegiatan penelitian. Sehingga dari awal, dosen bisa lebih mudah melakukan manajemen waktu dan pekerjaan. Supaya seluruh roadmap bisa direalisasikan. 

Dosen yang selama ini terkendala masalah waktu yang terbatas untuk meneliti dan menulis artikel ilmiah untuk luaran penelitian tersebut. Maka bisa lebih terbantu, selama komitmen mematuhi jadwal yang disusun di dalam roadmap. 

3. Mencantumkan Kebutuhan Sumber Daya dan Cara Memenuhinya

Roadmap penelitian bisa dibuat lebih rinci, salah satunya mencantumkan kebutuhan sumber daya. Mulai dari kebutuhan jangka waktu pelaksanaan penelitian sampai mencapai luaran, kebutuhan pendanaan, kebutuhan SDM, dll. 

Jika dari awal sudah diketahui butuh sumber daya apa saja. Maka jauh-jauh hari, dosen bisa menyusun strategi mencari sumber untuk memenuhinya. Misalnya menargetkan program insentif dari perguruan tinggi, hibah dari Kemdiktisainte atau kementerian lain, dan sebagainya. 

4. Menentukan Target Jurnal Sejak Awal

Kualitas publikasi ilmiah dosen mau tidak mau harus terus ditingkatkan. Sebab setiap jenjang jabfung memiliki syarat khusus yang kualifikasinya terus naik. Misalnya dari Lektor yang bisa dipenuhi dengan publikasi di jurnal nasional terakreditasi. 

Kemudian saat ingin naik ke jenjang Guru Besar harus punya publikasi di jurnal internasional bereputasi. Begitu juga dengan peningkatan peran serta kontribusi dosen dalam publikasi ilmiah tersebut. 

Awalnya untuk Lektor cukup menjadi penulis pertama, saat naik ke jenjang selanjutnya ada ketentuan harus menjadi penulis pertama sekaligus penulis korespondensi. 

5. Memudahkan Merencanakan Kolaborasi Penelitian

Roadmap penelitian membantu dosen meningkatkan mutu penelitian dan publikasi ilmiah yang dihasilkan. Selain mengandalkan diri sendiri, tentunya dengan berkolaborasi dengan ahli di bidangnya. 

Jadi, roadmap penelitian membantu dosen menyusun rencana kolaborasi. Baik dengan rekan sejawat, rekan dosen di fakultas lain, rekan dosen dari perguruan tinggi lain, dan pihak eksternal perguruan tinggi lainnya. 

Jadi, menyusun roadmap penelitian untuk memudahkan publikasi ilmiah dosen sekali lagi adalah langkah yang tepat. Lalu, bagaimana jika dosen kesulitan menyusun roadmap penelitian? 

Maka bisa mengikuti Exclusive Class: R&D Hack, Roadmap Riset Anti Stuck yang diselenggarakan Dunia Dosen. Exclusive Class kali ini menghadirkan Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd., Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Teknik sekaligus Pakar Metodologi Riset dan Penulis Buku Best Seller Metodologi Penelitian. 
Melalui Exclusive Class ini, para dosen akan dibantu memahami apa itu roadmap penelitian, bagaimana menyusunnya untuk menunjang kenaikan jabfung, dan mengatasi kendala-kendala dalam penyusunanya.

Dunia Dosen juga memiliki kelas online dengan materi terbaik dan sangat cocok untuk membantu pengembangan Anda! Jangan lewatkan kesempatan ini dan segera daftar E-Course dari Duniadosen dan tingkatkan kemampuan Anda!

Referensi:
  1. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2025 Tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen. [BUKA]
  2. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Slide Presentasi Sosialisasi Petunjuk Teknis Layanan  Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. [BUKA]
  3. Muttaqin, I. (2019). Roadmap Riset dan Publikasi; Menuju Keunggulan Kompetitif dan Komparatif IAIN Pontianak Berbasis Kebudayaan Islam Borneo. At-Turats, 13(2), 28-38. [BUKA]
  4. Fiantis, D., Mukminin, A., Nurmaini, S., & Achmadi, S. S. (2026). 4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah. [BUKA]
  5. Universitas Andalas. (2026). Guru Besar UNAND: Tantangan Publikasi Ilmiah Indonesia Bukan Sekadar Kuantitas, tetapi Kualitas dan Integritas. [BUKA]
  6. Sihombing, P. R. (2021). Publikasi Ilmiah, Antara Kewajiban dan Kendala bagi Dosen. [BUKA]
  7. Dunia Dosen. (2026). Exclusive Class: R&D Hack, Roadmap Riset Anti Stuck. [BUKA]
Ahmad Aziz

An SEO Specialist and Content Editor who also manages SEO and the website for Dunia Dosen. Highly interested in SEO, content marketing, and WordPress website development. With experience as a WordPress Web Developer, helping to optimize and manage website projects to support business goals.

Recent Posts

Laporan Program Hibah Penelitian: Pengertian, Fungsi, dan Persiapan Penyusunan

Selain mencapai luaran yang ditargetkan, penerima program hibah juga memiliki kewajiban menyusun laporan program hibah…

34 minutes ago

Syarat Kenaikan Jabatan Menuju Profesor Berdasarkan Juknis Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025

Setiap dosen di Indonesia, tentu ingin mencapai puncak karir akademik. Yakni dengan menjadi Guru Besar…

1 day ago

Sosialisasi Petunjuk Teknis Permendiktisaintek No 52 Tahun 2025

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menggelar sosialisasi Petunjuk Teknis Pengembangan Profesi dan…

1 day ago

Memahami Sebab Publikasi Ilmiah SLR Tidak Menunjang Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen

Menyusun artikel ilmiah dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) menjadi langkah yang sering diambil…

2 days ago

Memahami Apa Itu Novelty pada Penelitian dan Cara Menentukannya

Salah satu indikator kualitas penelitian dikatakan baik adalah terdapat novelty pada penelitian tersebut. Novelty (kebaruan)…

2 days ago

Research Gap : Pengertian, Fungsi, dan Korelasinya dengan Novelty Penelitian

Topik penelitian yang dipilih bisa jadi sudah pernah diteliti sebelumnya, dan tentu dalam kondisi ni…

2 days ago