Menyusun artikel ilmiah dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) menjadi langkah yang sering diambil akademisi maupun peneliti. Metode ini sendiri bukan metode baru dan sudah banyak digunakan untuk kebutuhan penelitian dan publikasi ilmiah.
Hanya saja, dalam beberapa kondisi metode SLR tidak dianjurkan digunakan. Khususnya bagi akademisi, baik itu dosen maupun mahasiswa. Ada beberapa alasan kenapa publikasi ilmiah seperti pada jurnal dengan metode SLR dianjurkan tidak dijadikan pilihan. Berikut informasinya.
Sekilas Tentang Systematic Literature Review (SLR)
Systematic Literature Review (SLR) pada dasarnya bagian dari proses literature review (kajian pustaka). Dipahami juga sebagai salah satu teknik dalam literature review tersebut selain narrative review.
Berhubung SLR memiliki protokol penerapan yang ketat dan sistematis, maka menjadi bagian dari metodologi penelitian. Jadi, apa itu SLR? SLR adalah kegiatan meninjau literatur (literature review) secara sistematis dengan tujuan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menginterpretasikan temuan penelitian terdahulu.
Penerapan SLR membantu peneliti melakukan analisis terhadap sejumlah hasil penelitian sebelumnya. Misalnya, membaca sejumlah artikel pada jurnal ilmiah dengan topik yang relevan dengan kebutuhan.
Tidak hanya untuk dibaca, akan tetapi juga dianalisis dan dirangkum. Sehingga hasil dari SLR tersebut adalah kumpulan hasil atau temuan-temuan sejumlah penelitian dalam kurun waktu tertentu. Hasil rangkuman membantu memahami suatu topik secara kritis dan mendalam.
Artikel Berbasis SLR dalam Publikasi Ilmiah
Menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah cukup banyak yang disusun dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Hal ini terjadi, karena SLR yang memiliki protokol ketat menjadi metode penelitian yang diakui.
Sehingga secara garis besar, terdapat 2 jenis artikel ilmiah yang dipublikasikan suatu jurnal. Pertama, artikel ilmiah berisi hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis. Kedua, artikel ilmiah hasil kajian pustaka yang salah satunya menggunakan metode SLR.
Jika mengecek artikel pada berbagai jurnal di sejumlah database. Maka tidak akan kesulitan menemukan artikel ilmiah berbasis SLR. Mulai dari artikel jurnal di Google Scholar sampai database bereputasi seperti Scopus dan World of Science (WoS).
Misalnya, artikel ilmiah yang merangkum faktor-faktor yang mempengaruhi suatu hal. Contoh, faktor-faktor yang mempengaruhi nilai akademik mahasiswa di universitas X. Penulis akan menjabarkan sejumlah hasil penelitian terdahulu yang fokus di topik yang sama, akan tetapi dengan variabel berbeda.
Keseluruhan hasil penelitian, masing-masing menjelaskan satu atau dua faktor yang mempengaruhi nilai akademik mahasiswa. Kemudian dirangkum dan disatukan dalam artikel ilmiah. Lalu diterbitkan ke sebuah jurnal ilmiah.
Sebagai contoh aktual di lapangan, adalah salah satu artikel ilmiah yang terbit di Journal of Engineering and Transportation berjudul “Suatu Kajian Terhadap Prestasi Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhi”. Bisa diakses dan diunduh disini.
Tujuan Menerapkan SLR dalam Publikasi Ilmiah
Setiap akademisi maupun peneliti yang menyusun artikel ilmiah dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Tentunya memiliki alasan dan tujuan sendiri-sendiri. Secara umum, berikut beberapa tujuan dari penerapan metode SLR untuk penyusunan artikel ilmiah atau publikasi ilmiah:
1. Memetakan Perkembangan Penelitian dalam Periode Tertentu
Tujuan umum yang pertama penggunaan metode SLR dalam publikasi ilmiah adalah untuk memetakan perkembangan penelitian. Tentunya dalam periode waktu tertentu. Misalnya dalam kurun 10 tahun terakhir, 15 tahun terakhir, dan seterusnya.
Sehingga isi artikel ilmiah mencakup seluruh hasil penelitian dalam periode waktu yang sudah ditentukan. Hal ini membantu merangkum bagaimana perkembangan penelitian terkait suatu topik di suatu bidang keilmuan dari tahun ke tahun.
2. Menilai dan Memahami Topik Secara Mendalam
Tujuan umum penerapan metode SLR pada publikasi ilmiah adalah untuk menilai suatu topik secara kritis. Maupun untuk tujuan memahami suatu topik penelitian secara kritis dan mendalam.
Tujuan ini bisa dicapai dengan metode SLR, karena mengarahkan penulis untuk membaca hasil penelitian di topik tersebut dari masa ke masa. Sehingga bisa mengetahui teori baru, temuan baru, dan hasil penelitian dalam bentuk lain terkait topik. Hal ini membantu menilai dan memahami topik tersebut.
3. Mengidentifikasi Research Gap
Metode SLR dalam penyusunan artikel ilmiah untuk dipublikasikan juga bisa bertujuan mengidentifikasi research gap secara tepat. Sebab bisa membaca dan memahami hasil sejumlah penelitian. Kemudian memudahkan identifikasi celah, kekosongan, atau kesenjangan pada penelitian terdahulu.
4. Memberi Kontribusi Baru Secara Teoritis
Hasil penelitian dengan metode Systematic Literature Review (SLR), tentunya bukan dalam bentuk produk, prototipe, dan sejenisnya. Melainkan dalam bentuk teori baru. Sebab menjadi hasil dari merangkum temuan-temuan sejumlah penelitian terdahulu.
5. Menyediakan Rujukan Utama bagi Penulis Ilmiah
Tujuan selanjutnya dari penerapan metode SLR adalah menyediakan rujukan utama dan terpusat bagi para penulis karya ilmiah. Sebab berisi daftar hasil penelitian terdahulu dalam kurun waktu tertentu.
Penulis atau peneliti yang sebelumnya harus membaca satu per satu publikasi ilmiah tersebut. Kemudian bisa fokus di satu artikel ilmiah yan
Baca juga artikel berikut yang berkaitan:
- Alur Publikasi Jurnal Ilmiah dan 7 Status Submission
- Jenis Jurnal dalam Kewajiban Publikasi Dosen dan Angka Kreditnya
- Mengenal Seputar Indeks Jurnal dan Manfaat Publikasinya
- Publikasi Karya Ilmiah Menjadi Syarat Naik Jabatan di Setiap Jenjang
- Syarat Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen Sesuai Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025
Ikuti juga R&D Hack, Roadmap Riset Anti Stuck dan bangun roadmap riset pengembangan yang jelas dan aplikatif dengan memahami cara menemukan research gap, menyusun kerangka R&D yang praktis, serta memetakan langkah riset secara sistematis!
g terbit di sebuah jurnal. Sebab sudah berisi seluruh hasil penelitian terdahulu pada topik yang sama dengan sejumlah novelty berbeda-beda.
6. Efisiensi dalam Penelitian
Metode SLR menjadi salah satu strategi efisiensi sumber daya dalam mengurus dan membangun riwayat publikasi ilmiah. Sebab penulis tidak perlu turun ke lapangan untuk melaksanakan penelitian langsung.
Melainkan fokus membaca publikasi hasil penelitian terdahulu. Kemudian merangkumnya dalam satu artikel ilmiah dan ditarik kesimpulan. Meski sama-sama memakan waktu, akan tetapi resiko gagal dalam penelitian lebih rendah.
7. Membangun Reputasi Akademik
Tujuan lainnya, metode SLR membantu menyusun artikel ilmiah lebih cepat. Meski pada beberapa kondisi butuh waktu lama karena membaca skala literatur yang sangat besar.
Namun, bisa memberi efisiensi waktu untuk penelitian dan penyusunan artikel ilmiah. Sehingga bisa menjadi strategi meningkatkan kuantitas publikasi ilmiah untuk membangun reputasi akademik.
Kenapa Publikasi Ilmiah SLR Tidak Disarankan untuk Akademisi?
Meskipun artikel ilmiah yang disusun dengan metode Systematic Literature Review (SLR) bisa dipublikasikan ke berbagai jurnal. Bahkan jurnal bereputasi yang terindeks Scopus maupun WoS.
Namun, bagi kalangan akademisi, yakni dosen dan mahasiswa langkah ini kurang dianjurkan. Pertama, bagi mahasiswa yang menyusun tugas akhir berbentuk publikasi ilmiah di jurnal. Pada beberapa perguruan tinggi, artikel SLR tidak diterima karena dipandang tidak ada kegiatan penelitian yang dilakukan langsung oleh mahasiswa atau karena sebab lain.
Kedua, bagi kalangan dosen, publikasi di jurnal internasional bereputasi yang disusun dengan metode SLR tidak memenuhi kriteria sebagai pemenuhan syarat khusus kenaikan jabatan fungsional di jenjang Lektor Kepala maupun Guru Besar.
Berbagai Sebab Publikasi Ilmiah SLR Tidak Menunjang Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen
Melalui penjelasan sebelumnya, maka bisa dipahami bahwa publikasi ilmiah dengan metode Systematic Literature Review (SLR) tidak memenuhi kriteria dijadikan syarat khusus kenaikan jabatan fungsional.
Namun, bagaimana hal ini bisa terjadi padahal bisa jadi masuk jurnal internasional bereputasi dan dosen menjadi penulis pertama? Berikut beberapa alasannya:
1. Publikasi SLR Berhenti di Research Gap Penelitian Sebelumnya
Sebab yang pertama, karena publikasi ilmiah berbasis SLR cenderung berhenti di research gap penelitian terdahulu. Sehingga di dalam publikasi tersebut tidak menjelaskan research gap penelitian mandiri yang dilakukan penulis atau dosen.
Padahal idealnya, suatu penelitian yang dilakukan dosen harus memiliki research gap. Sehingga menjadi bukti tidak mengulang penelitian terdahulu dan menghasilkan kontribusi yang sama.
Jadi, publikasi ilmiah berbasis SLR bukan berarti buruk atau jelek. Hanya saja memang membuat dosen berhenti di research gap penelitian sebelumnya. Hal ini tentu sama artinya dosen tidak melakukan penelitian baru.
2. Tidak Menghasilkan Novelty
Tidak adanya research gap pada penelitian berbasis SLR, tentu berdampak pada ketidakadaan novelty (kebaruan). Sebab, research gap dan novelty membentuk pola sebab akibat dan tidak bisa dipisahkan.
Research gap menjadi faktor penyebab, dan novelty menjadi dampak yang ditimbulkan research gap tersebut. Adanya research gap membantu dosen memiliki penelitian dengan novelty.
Sehingga penelitian punya nilai tambah tinggi, layak dilaksanakan, layak dipublikasikan, dan diakui. Jika sebaliknya maka tentu publikasi ilmiah tersebut tidak diakui, termasuk dari Ditjen Dikti.
Cek juga kelas online Digital Era Smart Lecturer Optimalisasi Riset dan Publikasi dari Duniadosen dan kuasai strategi riset dan publikasi digital untuk memperkuat reputasi akademik Anda!
3. SLR Masuk Kategori Kajian Bukan Penelitian Orisinil
Sebab ketiga, kenapa publikasi berbasis Systematic Literature Review (SLR) tidak menunjang kenaikan jabatan fungsional dosen adalah karena masuk kategori kajian. Bukan masuk dalam kategori penelitian orisinil yang dilaksanakan dosen.
Dalam hal ini, dosen dipahami tidak melaksanakan penelitian dengan tahapan dan ketentuan pada umumnya. Yakni dosen melakukan eksperimen, survei di lapangan, studi di lapangan, dll. Melainkan fokus membaca hasil penelitian terdahulu yang dilaksanakan dosen atau peneliti lain.
4. Regulasi Ditjen Dikti Memprioritaskan Temuan Bukan Sintesis
Sebab selanjutnya adalah berkaitan dengan regulasi atau kebijakan dari Ditjen Dikti. Misalnya memprioritaskan riwayat penelitian dosen yang menghasilkan temuan. Bukan sintesis yang berisi daftar rangkuman penelitian terdahulu.
Jadi, secara regulasi dosen diharapkan melaksanakan penelitian dari awal sampai akhir. Terlibat dari proses penentuan topik sampai analisis hasil penelitian yang merupakan ide sendiri bukan ide dan hasil penelitian dosen lain.
Jika ketentuan ini tidak terpenuhi karena menerapkan metode SLR, maka tentu publikasi akan ditolak. Usulan kenaikan jabatan fungsional ke jenjang lebih tinggi ikut ditolak oleh asesor PAK.
5. SLR Kurang Menunjukan Kepakaran Dosen
Alasan lain kenapa publikasi berbasis SLR bisa menggagalkan usulan dosen naik jabatan fungsional adalah karena kurang menunjukan kepakaran dosen. Pada jenjang Lektor Kepala dan Guru Besar, dosen tentu sudah memiliki fokus kepakaran.
Yakni dilihat dari seluruh riwayat penelitian atau publikasi ilmiah yang terus mengerucut secara spesifik di suatu topik. SLR tidak menunjang dosen menunjukan kepakaran tersebut. Sebab publikasi yang dimiliki berisi daftar hasil penelitian terdahulu, bukan penelitian yang benar-benar dijalankan dosen dari awal.
Selain beberapa sebab atau alasan tersebut, mungkin masih ada lagi sebab lainnya. Sehingga riwayat publikasi ilmiah bergengsi dari hasil penerapan Systematic Literature Review (SLR) menggagalkan usulan dosen naik jabatan fungsional. Khususnya di jenjang Lektor Kepala dan Guru Besar.
Berhubung kebijakan di dunia akademik dinamis, maka masih ada kemungkinan terjadi perubahan regulasi terkait publikasi berbasis SLR dalam pemenuhan syarat kenaikan jabatan fungsional. Hanya saja, untuk saat ini masih dianggap belum memenuhi kriteria. Jadi, sangat disarankan untuk dihindari para dosen.
Duniadosen juga memiliki kelas online dengan materi terbaik dan sangat cocok untuk membantu pengembangan Anda! Jangan lewatkan kesempatan ini dan segera daftar E-Course dari Duniadosen dan tingkatkan kemampuan Anda!
Referensi:
- Universitas Pendidikan Indonesia. (n.d). BAB III Metodologi Penelitian. [BUKA]
- Klatt, F. (n.d). What is a Systematic Literature Review? [BUKA]
- Useptionist Suhudism. [@suhudugly]. (2026, Jan 21). Artikel SLR yang bikin was-was… [Reels]. Instagram. [BUKA]
- Novianto, A. (2025, Jan 25). Akhir-akhir ini, metode Systematic Literature Review (SLR) tengah populer… [Unggahan Threads]. Threads. [BUKA]
- Rachmawati, R. (2024). Pengenalan Metode Systematic Literature Review (SLR). [BUKA]
- Universitas Negeri Surabaya. (2025). Systematic Literature Review: Metode Riset yang Kian Diminati Akademisi untuk Hasil Penelitian Lebih Akurat. [BUKA]
- Novita, J., & Mareyta, F. (2024). Suatu Kajian Terhadap Prestasi Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Journal of Engineering and Transportation, 2(1). [BUKA]
- DistillerSR. (n.d). Strengths and Weaknesses of Systematic Reviews. [BUKA]





