Memahami Apa Itu Novelty pada Penelitian dan Cara Menentukannya
Salah satu indikator kualitas penelitian dikatakan baik adalah terdapat novelty pada penelitian tersebut. Novelty (kebaruan) menjadi hal penting dalam penelitian. Terutama penelitian yang dilakukan kalangan dosen.
Penelitian yang dijalankan oleh dosen tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab melaksanakan tugas pokok. Melainkan juga menunjukan penelitian tersebut punya kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, apa itu novelty dan bagaimana menemukannya? Berikut informasinya.
Novelty pada penelitian adalah bentuk kontribusi baru peneliti yang ditawarkan melalui kegiatan penelitian yang dilakukan. Sehingga penelitian tersebut tidak mengulang penelitian sebelumnya, tidak sama persis, dan mampu menghasilkan temuan baru.
Bentuk novelty bisa beragam. Misalnya menawarkan kontribusi baru dalam bentuk teori baru, data baru, metode penelitian baru yang berbeda dengan penelitian sebelumnya, dan juga bisa dalam bentuk konteks penelitian yang baru.
Jadi, novelty penelitian membantu seorang peneliti mengetahui apa yang baru dari penelitian yang dilakukan. Sekaligus mampu menjelaskan hal baru tersebut kepada pihak-pihak terkait.
Misalnya jika peneliti seorang dosen dan mengajukan proposal penelitian di program hibah. Maka proposal menjelaskan novelty, isinya memaparkan kontribusi baru dari penelitian yang diusulkan dalam program tersebut.
Novelty pada penelitian selain memiliki bentuk yang beragam sesuai penjelasan sebelumnya. Juga memiliki tipe yang beragam. Secara umum, jenis atau tipe novelty dalam penelitian terbagi menjadi 3. Berikut penjelasannya:
Novelty penelitian tipe yang pertama adalah invention. Invention artinya penelitian yang dilakukan mampu menghasilkan invensi baru. Invensi dalam KBBI adalah penciptaan atau perancangan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Tipe ini bisa dikatakan sebagai tingkatan novelty paling tinggi dibanding 2 tipe lainnya.
Suatu penelitian dipandang masuk dalam tipe ini jika mampu menghasilkan atau menemukan prinsip, konsep, model, atau pendekatan yang benar-benar baru. Sehingga penelitian tersebut benar-benar mendapatkan temuan baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Tipe novelty pada penelitian yang kedua adalah improvement. Yaitu tipe novelty pada penelitian yang ditandai dengan adanya pengembangan terhadap temuan penelitian sebelumnya.
Jadi, penelitian tersebut mampu menghasilkan atau memberikan peningkatan, penyempurnaan, atau modifikasi pada temuan penelitian terdahulu. Meski tidak mendapatkan temuan baru, akan tetapi hasil penelitian mampu mengembangkan dan bahkan menyempurnakan penelitian sebelumnya.
Misalnya, penelitian dengan topik Problem Based Learning mendapati model pembelajaran ini berdampak positif pada kemampuan akademik mahasiswa. Pada penelitian berikutnya, ditemukan teknik penerapan Problem Based Learning untuk menunjang pembelajaran daring.
Jadi, penelitian sebelumnya menemukan fakta bahwa metode pembelajaran Problem Based Learning berdampak positif dan efektif. Sementara pada penelitian lanjutannya mampu menerapkannya dalam pembelajaran daring setelah hanya difokuskan pada pembelajaran luring.
Novelty pada penelitian tipe ketiga adalah refutation, yaitu jenis kontribusi baru pada suatu penelitian yang berhasil membuktikan bahwa temuan penelitian sebelumnya keliru.
Novelty jenis ini menjadi bentuk novelty yang bisa mematahkan temuan atau hasil penelitian sebelumnya. Bisa karena kurang tepat, tidak lagi relevan, dan alasan lain. Sehingga temuan atau hasil penelitian terdahulu tidak bisa digunakan lagi.
Contohnya, penelitian terdahulu mendapati hasil bahwa variabel A berpengaruh positif pada variabel B. Namun, ketika diteliti ulang didapatkan hasil berbeda. Yakni variabel A bisa berpengaruh negatif atau tidak berpengaruh sama sekali pada variabel B.
Baca juga artikel berikut yang berkaitan:
Ikuti juga R&D Hack, Roadmap Riset Anti Stuck dan bangun roadmap riset pengembangan yang jelas dan aplikatif dengan memahami cara menemukan research gap, menyusun kerangka R&D yang praktis, serta memetakan langkah riset secara sistematis!
Jika membahas novelty pada penelitian, maka biasanya akan dianggap sama dengan research gap. Tidak sedikit mahasiswa, baik di jenjang Sarjana maupun Pascasarjana masih kesulitan membedakan mana novelty dan research gap. Demikian juga di kalangan dosen, terutama dosen pemula.
Anggapan keduanya sama bisa berasal dari keterkaitan yang kuat satu sama lain. Namun, keduanya menjadi dua hal atau dua unsur berbeda dalam penelitian. Berikut beberapa aspek yang membedakannya:
Aspek pertama yang membedakan antara novelty dengan research gap adalah fokus utamanya. Bisa dilihat dari definisi masing-masing. Research gap adalah celah, kekosongan, atau kesenjangan dan pertanyaan yang belum terjawab di penelitian sebelumnya.
Sementara novelty adalah kontribusi baru yang ditawarkan peneliti melalui penelitian yang akan dilakukan. Sehingga fokus utama research gap adalah mencari kesenjangan atau kelemahan penelitian terdahulu. Sementara, fokus novelty adalah mencari kontribusi baru yang bisa diberikan melalui penelitian yang dilakukan.
Aspek kedua yang membedakan antara novelty pada penelitian dengan research gap adalah tujuannya. Secara umum, tujuan utama dari pencarian research gap adalah untuk menjawab pertanyaan “apa yang belum diteliti?”.
Sementara tujuan dari pencarian novelty dalam suatu penelitian adalah untuk menjawab “apa yang baru dalam penelitian yang akan dilakukan?”. Jadi, keduanya memiliki tujuan yang berbeda dan membuatnya tidak bisa disamakan sama sekali.
Hal ketiga yang menjadi pembeda adalah dari sisi fungsi. Research gap memiliki fungsi yang berbeda dengan novelty dalam suatu kegiatan penelitian. Hal ini sesuai dengan definisi sampai tujuan pencariannya.
Fungsi dari research gap dalam penelitian adalah menjadi alasan dan urgensi kenapa suatu penelitian perlu dilakukan. Jika penelitian sebelumnya dirasa belum menghasilkan temuan yang tepat, masih ada kelemahan, dan sejenisnya. Maka menjadi alasan untuk dilakukan penelitian lanjutan.
Sementara itu, fungsi dari novelty pada penelitian adalah menjadi nilai dari penelitian itu sendiri. Novelty akan mempengaruhi temuan atau hasil penelitian. Tanpa novelty, hasil penelitian tidak akan menghasilkan produk baru, mengembangkan produk lama, atau menjelaskan produk lama tidak layak diproduksi lagi. Begitu sebaliknya.
Hal keempat yang membedakan research gap dengan novelty pada penelitian adalah kapan ditentukan. Menentukan atau mencari research gap dan novelty sama-sama menjadi tahapan wajib dan bahkan krusial dalam penelitian.
Hanya saja, keduanya tidak bisa ditentukan bersamaan. Sekaligus tidak bisa ditentukan dengan urutan acak. Melainkan harus ditentukan berurutan agar hasil tepat.
Secara mendasar, peneliti perlu menentukan research gap terlebih dahulu. Baru kemudian bisa menentukan novelty atau menghasilkan novelty sebagai hasil penelitian. Jadi, research gap ditentukan di awal sementara novelty di akhir.
Perbedaan selanjutnya adalah dari segi tempat atau dimana penulisan research gap dan novelty. Keduanya wajib sama-sama dicantumkan di dalam karya ilmiah berkaitan penelitian. Mulai dari proposal penelitian, laporan penelitian, sampai luaran penelitian dalam bentuk publikasi ilmiah.
Secara umum, research gap akan dicantumkan lebih dulu baru kemudian dicantumkan novelty. Tidak bisa sebaliknya, karena secara proses penentuan juga wajib mencari research gap dulu.
Sementara untuk lokasi pencantuman, keduanya sama-sama ada di bab atau bagian yang sama. Contohnya, pada artikel ilmiah untuk jurnal maka research gap dan novelty akan dicantumkan pada bagian Pendahuluan (Introduction). Berikut contohnya:
Cek juga kelas online Strategi Publikasi Sukses Tembus Jurnal SINTA & Scopus dari Duniadosen dan jadikan karya ilmiah Anda dikenal luas lewat publikasi berkualitas di jurnal bereputasi!
Novelty pada penelitian tentunya memiliki arti penting, sehingga wajib ada dan wajib ditentukan atau dihasilkan. Berikut beberapa arti penting novelty yang dimaksud:
Arti penting yang pertama, tentu menjelaskan dan membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan mampu memberi kontribusi baru pada perkembangan iptek. Sebab tidak mengulang penelitian terdahulu dan terjadi temuan atau hasil penelitian baru.
Arti penting kedua, novelty mampu meningkatkan kelayakan penelitian untuk dijalankan. Penelitian dengan novelty membuat proposal yang diajukan lebih mudah disetujui, lebih mudah lolos seleksi hibah, dan tentunya bisa segera dijalankan.
Arti penting ketiga, novelty di dalam penelitian bisa meningkatkan kelayakan suatu hasil penelitian dipublikasikan. Sebab menghasilkan temuan baru yang tentu menjadi nilai tambah penelitian tersebut.
Publikasi ke berbagai jurnal kredibel dan bereputasi tentu berpeluang besar. Sehingga meningkatkan kesempatan peneliti atau dosen bisa memiliki publikasi di jurnal bereputasi tinggi. Sebab novelty meningkatkan kelayakan hasil penelitian untuk segera disebarluaskan.
Arti penting selanjutnya, novelty menjadi bagian dari upaya dosen atau peneliti untuk meningkatkan kredibilitas dan reputasi. Sebab penelitian yang menghasilkan temuan baru lebih mudah diterima dan diakui semua pihak. Sehingga peneliti atau dosen dinilai mampu melaksanakan penelitian berkualitas dan berdampak.
Novelty dalam penelitian juga memiliki arti penting sebagai pendorong yang memotivasi penelitian berkelanjutan. Sehingga bisa menghasilkan temuan-temuan baru yang inovatif secara terus menerus di semua bidang.
Setelah memahami apa dan seberapa penting novelty pada penelitian. Tentu perlu memahami juga bagaimana menemukan atau menentukan novelty tersebut. Secara umum, penentuan novelty menjadi persoalan yang tidak mudah.
Meskipun begitu, novelty ini penting dan wajib ada. Maka perlu segera mencari, menemukan, dan ditentukan. Berikut tata cara penentuannya agar lebih mudah dan tepat:
Tahap pertama, sesuai dengan tahapan dalam kegiatan penelitian yakni menentukan topik yang akan diteliti. Topik ini yang menentukan arah proses kajian pustaka (literature review) yang akan dilakukan untuk menentukan novelty.
Tahap kedua, proses mencari literatur sebanyak mungkin terutama publikasi ilmiah dari berbagai jurnal maupun prosiding. Sebab memuat hasil penelitian terbaru dan bisa ditelusuri dalam kurun waktu tertentu. Misalnya 5 tahun terakhir, 10 tahun terakhir, dll.
Jika sudah, maka silahkan dipetakan untuk mencari tahu tren penelitian dan fokus di bagian apa dari penelitian terkait topik yang sudah berjalan. Sehingga membantu menemukan research gap.
Tahap ketiga, adalah mengidentifikasi research gap. Artinya, dari seluruh publikasi ilmiah yang dikumpulkan dan dipetakan. Silahkan mulai mencari research gap (celah, kekosongan, atau kesenjangan).
Tahap berikutnya adalah menentukan novelty yang realistis berdasarkan kemampuan dan didasarkan dari research gap yang berhasil diidentifikasi. Misalnya memilih tipe improvement yang membantu peneliti mengembangkan temuan sebelumnya, karena lebih ringan dibanding menemukan hal baru.
Tahap akhir adalah merumuskan novelty dalam bentuk kalimat maupun paragraf yang jelas dan ringkas. Sebab novelty perlu dicantumkan dari proposal penelitian sampai luaran yang dihasilkan. Berikut contohnya:
“Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik terhadap kontribusi personal branding dosen dan alumni dalam membentuk brand awareness universitas.”
Melalui tahapan tersebut, proses menentukan novelty pada penelitian cenderung lebih mudah karena terstruktur. Jadi, silahkan diterapkan untuk meminimalkan kendala dalam menemukan dan menentukan novelty yang tepat serta realistis.
Duniadosen juga memiliki kelas online dengan materi terbaik dan sangat cocok untuk membantu pengembangan Anda! Jangan lewatkan kesempatan ini dan segera daftar E-Course dari Duniadosen dan tingkatkan kemampuan Anda!
Menyusun artikel ilmiah dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) menjadi langkah yang sering diambil…
Topik penelitian yang dipilih bisa jadi sudah pernah diteliti sebelumnya, dan tentu dalam kondisi ni…
Salah satu skema dalam Beasiswa LPDP tahun 2026 adalah Beasiswa STEM Industri Strategis. Beasiswa ini…
Kabar baik untuk para calon dosen maupun dosen dan masyarakat luas di Indonesia yang menantikan…
Dalam Permendikisaintek No. 52 Tahun 2025, besaran sejumlah jenis tunjangan dosen non-ASN dibuat setara dengan…
Dalam melindungi marwah dan integritas akademik dosen, maka disusun dan diberlakukan kode etik dosen. Kode…