Opini

Ketika Motivasi Peneliti dalam Membuat Karya Ilmiah Dipertanyakan

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Dikti Beri Dukungan Penelitian bagi Dosen Pemula telah dibahas bahwa hanya sekitar 12-14 persen dosen di Indonesia yang telah melakukan penelitian. Tentu jumlah yang masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 252.52 juta jiwa. Tercatat pada tahun 2015, hanya ada sekitar 4.500-5.500 jurnal yang dihasilkan akademisi dan peneliti di Indonesia.

Rendahnya jumlah jurnal ilmiah tersebut tentu berimbas pada rendahnya publikasi hasil penelitian Indonesia, terutama publikasi di terbitan berkala (jurnal) ilmiah yang terindeks di pengindeks internasional bereputasi, seperti SCOPUS, EBSCO, Directory of Open Access Journal (DOAJ), Thomson Routers, Cambrige Scientific Abstrac (CSA), CABI, Gale, Proquest hingga Google Scholar. Sebagai contoh, per Februari 2015 hanya ada 22 karya ilmiah dalam bentuk jurnal ilmiah yang terindeks di SCOPUS. Jumlah yang sebetulnya tidak berimbang jika dibandingkan dengan jumlah karya ilmiah yang telah dihasilkan akademisi dan peneliti di Indonesia pada tahun 2015.

Rendahnya publikasi berkala ilmiah tersebut dikarenakan oleh beberapa hal, diantaranya adalah rendahnya kemauan dan kemampuan menulis hasil-hasil penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat dalam terbitan berkala ilmiah oleh peneliti itu sendiri sehingga berimbas pada ketersediaan karya ilmiah bermutu yang sesuai dengan standar lembaga akreditasi maupun pengindeks, baik nasional maupun internasional. Pada umumnya para peneliti di Indonesia belum memiliki komitmen yang cukup untuk mempublikasikan hasil penelitian dan pengabdiannya kepada masyarakat luas melalui terbitan berkala ilmiah ataupun media publikasi lainnya secara gamblang. Istilah publish or perish yang yang juga dapat diartikan “publikasikan dan munculkan karyamu atau kamu akan mati, tenggelam tanpa diketahui banyak orang” bagi para peneliti hanya sebatas masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Motivasi dalam melakukan penelitian pun belum diimbangi dengan tanggung jawab moral sebagai peneliti untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian maupun pengabdiannya yang berguna bagi masyarakat luas baik untuk kepentingan praktis maupun pengembangan teoritis sesuai dengan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Padahal dengan mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian dan pengabdian pada terbitan berkala ilmiah, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik maka peneliti akan mendapatkan banyak masukan dari berbagai elemen serta sekaligus kesempatan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya di masa yang akan datang.

Maka untuk mengembangkan dan meningkatkan motivasi, kemampuan menulis dan tanggung jawab moral akademisi serta peneliti di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memberikan dukungan dan kesempatan untuk melakukan penelitian, terutama untuk para peneliti pemula. Dimana calon peneliti dapat mengajukan proposal penelitian melalui Ditlitabmas Ditjen Dikti beserta persyaratan lainnya yang harus dipenuhi. Selain itu, dengan adanya surat edaran Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Nomor 002/E.5/PB/I/2016 tanggal 19 Januari 2016 perihal Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah diharapkan dapat mendorong serta membiasakan akademisi maupun peneliti untuk terbiasa menulis dan mempublikasikan hasil penelitian serta pengabdian dalam bentuk karya ilmiah yang bermutu sesuai standar akreditasi nasional maupun internasional. Ke depannya, hal tersebut akan berdampak pada peningkatan mutu karya ilmiah peneliti Indonesia sehingga dapat diindeks oleh lembaga pengindeks bereputasi nasional atau bahkan internasional.

 

 

Sumber:

Badan Pusat Statistik. Perkiraan Penduduk Beberapa Negara, 2000-2014. http:// www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/960. 08/03/2016/19.30

Niki Hidayati. Dikti Beri Dukungan Penelitian bagi Dosen Pemula. http://www. duniadosen.com/dikti-beri-dukungan-penelitian-bagi-dosen-pemula/. 08/03/2016/19.15

Priyo. Indeksasi Jurnal: Peluang Diseminasi Hasil Penelitian pada Level Interna-sional. http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1865. 08/03/ 2016/21.24

Nur Fitriana Sholikhah

Recent Posts

Tata Cara Menyusun Motivation Letter untuk Doktoral

Sebagian besar perguruan tinggi meminta dokumen motivation letter untuk Doktoral  atau jenang studi PhD. Motivation…

1 hour ago

Syarat dan Alur Sertifikasi Dosen

Dosen di Indonesia memiliki kewajiban untuk bersertifikasi. Sehingga wajib segera memenuhi syarat sertifikasi dosen serdos).…

5 hours ago

Apa Itu Academic Branding? Simak Penjelasan Lengkapnya

Pernahkah mendengar nama perguruan tinggi untuk pertama kalinya? Jika perguruan tinggi tersebut baru berdiri dan…

6 hours ago

Keuntungan dan Tantangan Jabatan Struktural Dosen yang Wajib Diketahui

Setiap dosen di Indonesia memiliki kesempatan dan peluang memangku jabatan struktural dosen. Jabatan ini menjadi…

1 day ago

Syarat Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen Sesuai Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025

Diterbitkannya Permendiktisiantek No. 52 Tahun 2025, sekaligus mengatur kebijakan baru terkait syarat kenaikan jabatan fungsional…

1 day ago

Pembukaan Program Beasiswa Fellowship Dokter Spesialis Tahun 2026

Memasuki awal tahun 2026, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi mengumumkan pembukaan program Beasiswa Fellowship…

1 day ago