Inspirasi

Pedagogik: Berkolaborasi dengan Mahasiswa, Why Not?

Menulis tidak sekedar menggoreskan tinta. Akan tetapi ia adalah simbol dari peradaban dan kemajuan suatu bangsa. –Anonymous

Ungkapan di atas agaknya tidak berlebihan. Seperti yang kita ketahui banyak negara maju yang sebagian besar masyarakatnya sudah sadar betapa pentingnya budaya menulis dan membaca dalam kehidupan. Selain menuangkan ide-ide atau gagasan, menulis juga dapat melatih ketelitian serta kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Budaya menulis akan mendorong seseorang untuk terus membudayakan membaca karena ia membutuhkan wawasan yang luas untuk terus memperkaya tulisannya yang berarti dan memperkaya pikiran. Menulis dan membaca ibarat inai dengan kuku. Tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Sayangnya di Indonesia, menulis dan membaca belum membudaya secara umum. Hanya terbatas pada kalangan-kalangan tertentu. Bahkan sebagian masyarakat kita beranggapan bahwa menulis hanya untuk orang-orang yang memiliki bakat merangkai kata-kata indah saja dan membaca hanya untuk orang berilmu. Anggapan yang sepenuhnya salah. Akibatnya, masyarakat kita lebih senang bercerita dan menyukai hal-hal kepraktisan lainnya. Terlebih dengan hadirnya berbagai teknologi informasi di era globalisasi seperti saat ini.

Agaknya gambaran di atas inilah yang menjadi salah satu alasan Eka Nada Shofa Alkhajar, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini untuk mengajak mahasiswanya di kelas Etika dan Filsafat Komunikasi berkolaborasi untuk menulis buku bersama sebagai tugas akhir. Meski memakan waktu yang tidak sebentar, sebuah buku berjudul Media dan Komunikasi Kontemporer yang memuat 54 tulisan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS angkatan 2010 berhasil diterbitkan. Di dalam buku tersebut memuat kumpulan tulisan mahasiswa yang menangkap studi kasus terkini seputar ilmu komunikasi, terutama mengenai etika berkomunikasi dan penggunaan media massa. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.

Pedagogik

Mengajak mahasiswa berkolaborasi untuk menulis buku merupakan satu inovasi dalam mengelola kelas. Dengan begitu, kegiatan belajar mengajar agar tidak membosankan dan terkesan kaku. Di mana hal tersebut masuk ke dalam kompetensi pedagogik, satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki oleh dosen. Kompetensi pedagogik sendiri adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya.

Eka dan rekan seprofesinya, Widyantoro, melihat bahwa mahasiswa sebenarnya memiliki potensi dan kemampuan yang mumpuni di bidang tulis-menulis. Akan tetapi karena kurangnya latihan, kemampuan menuangkan ide-ide atau gagasan tersebut perlu diasah kembali. Project menulis buku bersama mahasiswa ini diharapkankan dapat menjadi fasilitator untuk mengembangkan minat menulis mahasiswa dan mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah di waktu selanjutnya.

Ulfi Fatchiyatul Jannah, salah satu mahasiswi yang terlibat dalam project menulis buku mengaku bahwa ia tidak menyangka akan menulis dan diterbitkan ke dalam sebuah buku. Terlebih tulisannya bersifat ringan dan mengangkat studi kasus di lingkungan sehari-hari.

Dengan mengajak siswa berkolaborasi untuk menulis buku bersama, tidak hanya aspek kompetensi pedagogik saja yang dipenuhi oleh dosen. Akan tetapi juga dari kompetensi lainnya secara bersamaan, seperti kompetensi kepribadian. Misalya, ketika dosen memiliki kepribadian yang mantap, berwibawa dan arif sehingga memiliki perilaku yang disegani serta diteladani oleh mahasiswa; kompetensi professional. Setelah itu adalah kompetensi penguasaan materi pembelajaran yang luas sehingga dapat mengembangkannya secara kreatif; dan kompetensi social. Misalnya, dosen mampu berkomunikasi dan bergaul  secara efektif dengan mahasiswa.

Nah, paparan di atas tadi adalah salah satu penerapan kompetensi pedagogik dalam pengelolaan kelas. Menarik bukan? Apakah Anda tertarik untuk merapkannya di kelas? Tentu tidak ada salahnya mencoba dan mengganti suasana kelas perkuliahan Anda. Hitung-hitung sembari Anda menulis buku seperti peribahasa sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Selamat mencoba!

 

***

 

Sumber:

Kompetensi. “Empat Kompetensi Guru dan Dosen Berdasarkan Undang-Undang”. http://kompetensi.info/kompetensi-guru/empat-kompetensi-guru. html. 3/04/2016/02.15

Jateng Online. “Media & Komunikasi Kontemporer”. http://jatengonline.com/ 2014/03/13/media-komunikasi-kontemporer/. 3/03/2016/04.23

 

Nur Fitriana Sholikhah

Recent Posts

Cara Membuat Pendahuluan Artikel Jurnal Ilmiah dengan Efektif dan Efisien

Menggunakan AI untuk jurnal atau penulisan artikel pada jurnal ilmiah menjadi pertimbangan yang layak dilakukan…

22 hours ago

Serdos 2026, Pahami dan Penuhi Persyaratannya dari Sekarang!

Penerbitan Permendiktisaintek No. 52 Tahun 202,5, tentu menjadi babak baru bagi dosen di Indonesia untuk…

22 hours ago

Strategi Menghindari Kesalahan Dosen dalam Penyusunan RPS OBE

Kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi Indonesia adalah kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education). Salah satu…

2 days ago

Apa Itu Rumpun Ilmu? Dosen Pemula Wajib Tahu

Sejak tahun 2024, semua dosen di Indonesia diwajibkan mengisi data rumpun ilmu di profil SISTER…

2 days ago

6 Tips Menggunakan Scopus AI untuk Mendukung Publikasi Ilmiah Dosen

Menggunakan teknologi AI bagi kalangan akademisi, tentu bukan hal baru. Sebab dengan penggunaan yang etis…

3 days ago

Bagus Muljadi, Dosen asal Indonesia yang Menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham

Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki cita-cita menjadi dosen, tentu tak harus mengajar di Indonesia.…

3 days ago