Selama bulan Ramadan, kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi tentu masih berjalan seperti biasanya. Hanya saja, umumnya terdapat pengurangan jam perkuliahan dari perguruan tinggi agar mahasiswa dan dosen bisa pulang lebih awal.
Memahami bahwa perkuliahan masih aktif berjalan di bulan puasa. Tentu para dosen maupun mahasiswa akan menghadapi berbagai tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa tersebut. Lalu, bagaimana mengatasi tantangan tersebut? Berikut informasinya.
Daftar Isi
ToggleTantangan Kegiatan Pembelajaran saat Puasa
Kegiatan belajar mengajar di kampus selama bulan puasa, tentu berjalan seperti biasanya. Meski ada pengurangan jam dari pihak perguruan tinggi. Bukan berarti kegiatan pembelajaran hanya sebagai formalitas.
Tetap harus dijalankan dengan baik supaya mutu proses serta mutu hasil pembelajaran tetap optimal. Pembelajaran di tengah ibadah puasa tentu menghadapi banyak tantangan dan kendala. Berikut beberapa tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa di bulan Ramadan:
1. Mudah Kehilangan atau Sulit Menjaga Fokus
Dalam suatu penelitian yang terbit di jurnal Journal of Nutrition, menjelaskan bahwa dehidrasi ringan dapat mengurangi fokus. Selama menjalankan ibadah puasa Ramadan, tentu asupan cairan tubuh lebih terbatas.
Pada siang hari tubuh rentan mengalami dehidrasi ringan. Sehingga bisa membuat dosen maupun mahasiswa kesulitan menjaga fokus selama pembelajaran. Bisa juga disebut mudah kehilangan fokus tersebut.
2. Daya Ingat pada Materi Perkuliahan Menurun
Dehidrasi ringan juga berdampak pada penurunan kemampuan memori atau daya ingat. Sehingga mudah lupa saat menjalankan puasa, terutama di siang hari saat tubuh mengalami dehidrasi ringan.
Hal ini kemudian menjadi tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa. Baik bagi dosen maupun mahasiswa, karena ingatan pada materi perkuliahan lebih pendek. Bagi dosen, hal ini bisa menyulitkan penyampaian materi. Bagi mahasiswa, hal ini bisa menyulitkan pemahaman materi yang dijelaskan dosen, dibaca dari buku, dll.
3. Mengantuk di Jam Pembelajaran
Selama bulan Ramadan, tentu jadwal kegiatan mengalami perubahan signifikan. Mulai dari kegiatan tadarus yang bisa sampai tengah malam. Kemudian, kebutuhan untuk bangun dini hari menyiapkan menu sahur sampai bersantap sahur itu sendiri.
Ritme yang berubah ini lantas mempengaruhi jam tidur. Dampaknya, pada awal bulan puasa Ramadan dosen dan mahasiswa mudah mengantuk di jam perkuliahan. Hal ini tentu butuh manajemen waktu yang tepat agar jam tidur tetap aman.
4. Energi dan Stamina Menurun
Tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa berikutnya adalah menurunnya energi dan stamina. Khusus di siang hari atau tengah hari, saat tubuh mengalami sensasi haus karena dehidrasi. Serta lapar karena menahan makan dari subuh.
Ditambah dengan kebutuhan tetap beraktivitas seperti biasa, bangun dan berangkat ke kampus. Energi dan stamina menjadi tidak optimal selama puasa. Dampaknya bisa mempengaruhi fokus dan daya ingat yang lebih parah di jam kuliah berikutnya. Terutama di jam kuliah terakhir sebelum pulang.
5. Mood Lebih Sensitif
Selama puasa Ramadan, mood juga cenderung lebih sensitif. Bisa karena efek dehidrasi, sensasi lapar, energi yang menipis tapi perkuliahan masih panjang, dan lain sebagainya. Sehingga hal ini ikut berdampak pada kegiatan pembelajaran menjadi kurang efektif.
Dosen bisa saja mudah emosi melihat mahasiswa mengantuk di kelas. Sebaliknya, mahasiswa mudah emosi saat berhadapan dengan materi rumit di tengah haus dan lapar saat puasa.
6. Tugas Menumpuk
Selama puasa Ramadan, dosen dan mahasiswa tentu berhadapan dengan jadwal kegiatan yang lebih padat. Kemudian masih harus beradaptasi dengan perubahan jadwal kegiatan harian. Misalnya karena ada jadwal tarawih, tadarus, bangun sahur, dll.
Dampaknya, bisa mengacaukan jadwal belajar. Sehingga mahasiswa rentan mengalami kesulitan mengerjakan tugas kuliah. Pada dosen, lebih rentan kesulitan menyiapkan kegiatan tri dharma, termasuk mengajar karena jadwal yang semakin padat.
Baca juga: 10 Tips agar Dosen Tetap Produktif Mengajar saat Puasa Ramadan
7. Benturan Jadwal Akademik dengan Ibadah
Tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa juga mencakup jadwal yang saling berbenturan. Jadwal dosen menyiapkan slide presentasi dan mempelajari materi untuk disampaikan besok di kelas, bisa bertabrakan dengan jam tarawih.
Begitu juga mahasiswa, jadwal belajar bisa berbenturan dengan jadwal ibadah lain. Baik itu tarawih, makan sahur, tadarus di mushola atau masjid, kegiatan di organisasi kemahasiswaan yang lebih sibuk di Ramadan, dll.
Momentum Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menata kembali produktivitas akademik Anda. Melalui E-Course Strategi Teknis Menyusun RPS Berbasis OBE dari Dunia Dosen, susun RPS secara lebih terarah dan efisien dengan pendekatan yang sistematis.
Tips dan Trik Pembelajaran Tetap Efektif Selama Puasa Ramadan
Memahami bahwa terdapat banyak sekali tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa. Tentu perlu mencari solusi untuk mengatasinya. Terdapat beberapa tips dan trik yang bisa menjadi solusi untuk tantangan-tantangan tersebut. Diantaranya adalah:
1. Manajemen Waktu dan Pekerjaan dengan Baik
Bagi dosen, menghadapi berbagai tantangan dalam pembelajaran bisa dimulai dengan melakukan manajemen waktu dan pekerjaan. Ada banyak teknik bisa dipilih untuk manajemen waktu dan pekerjaan tersebut.
Tujuannya agar dosen memiliki waktu yang memadai untuk menjalankan tugas tri dharma, termasuk kegiatan pembelajaran. Namun, tetap bisa menjalankan kegiatan ibadah puasa dan ibadah sunnah lain dengan lancar.
Sebagai contoh, manajemen pekerjaan bisa menggunakan teknik skala prioritas. Utamakan pekerjaan yang penting dan mendesak, begitu seterusnya sampai pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. Kemudian, pada manajemen waktu bisa menerapkan teknik time blocking.
Misalnya Senin sampai Jumat fokus menjalankan kegiatan pendidikan dan pengajaran. Kegiatan penelitian difokuskan pada Senin sampai Jumat di sore hari. Sedangkan menulis buku bisa diatur di akhir pekan, Sabtu dan Minggu.
2. Menyesuaikan Jadwal dengan Waktu Terbaik Selama Ramadan
Tips kedua dalam menghadapi tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa adalah menyesuaikan jadwal. Selama menjalankan ibadah puasa, dosen bisa mengetahui waktu terbaik untuk mengerjakan tugas berat.
Misalnya, merasa tubuh sangat bugar dan fokus terjaga setelah berbuka puasa atau setelah sahur. Maka bisa menyiapkan materi perkuliahan, mempelajari materi tersebut, dll di jam-jam efektif tersebut. Selebihnya, bisa diisi dengan kegiatan yang tidak terlalu menyita fokus maupun energi.
3. Menjaga Asupan Nutrisi saat Sahur dan Buka Puasa
Tubuh mudah mengantuk saat puasa, bisa karena asupan gula dan lemak berlebih. Jika kesulitan menjaga fokus dan mudah lapar, bisa jadi karena nutrisi tidak terpenuhi saat sahur maupun berbuka.
Memperhatikan pola makan selama puasa sangat penting untuk menjaga asupan nutrisi. Sehingga perlu mengutamakan makan sehat dan bernutrisi seimbang saat sahur maupun berbuka. Minimalkan asupan gula, garam, dan lemak berlebih.
4. Memenuhi Kebutuhan Cairan Tubuh
Dehidrasi ringan saat puasa mungkin memang hal lumrah. Sebab sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, tentu tidak ada asupan cairan. Namun, memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama puasa bukan hal yang tidak mungkin.
Jika menggunakan standar asupan cairan 8 gelas sehari. Maka tinggal diatur selama puasa agar tetap minum sesuai standar tersebut. Misalnya 2 gelas saat sahur. Kemudian 6 gelas saat berbuka yang diatur jamnya.
Baik saat berbuka, selesai maghrib, selesai isya dan tarawih, dan sesaat sebelum tidur minum air putih dulu. Selain itu, perbanyak konsumsi makanan yang mengandung banyak air. Misalnya menu berkuah seperti sayur sop, sayur asem, dll. Kemudian perbanyak makan buah kaya air seperti melon, semangka, dll.
Baca juga: 21 Kegiatan Produktif saat Puasa yang Sangat Direkomendasikan untuk Dosen
5. Olahraga Ringan Secara Teratur
Dikutip melalui Halo Sehat, sampai saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan dampak negatif olahraga dalam ibadah puasa. Justru, dari hasil penelitian yang terbit di Journal Of Sports Medicine, menjelaskan bahwa berolahraga saat puasa efektif meningkatkan meningkatkan pembakaran lemak.
Selain itu, berolahraga selama puasa juga dapat membantu menjaga kebugaran dan stamina saat puasa. Jadi, berolahraga ringan selama puasa Ramadan sangat dianjurkan untuk menjaga tubuh tetap bugar dan menunjang kegiatan pembelajaran secara efektif.
Olahraga ringan bisa dipilih sesuai kondisi tubuh dan dijalankan di waktu terbaik sesuai kemampuan tubuh juga. Misalnya berenang, sepeda statis, jalan santai, dll yang bisa dilakukan dalam durasi pendek dan di jam-jam buka. Misalnya setelah buka puasa, sebelum atau sesudah sahur, dll.
Puasa bukan penghalang untuk tetap berkarya dan berinovasi dalam pembelajaran. Melalui E-Course Toolkit Dosen Kreatif “Menyusun RPS Inovatif”, Anda dapat menyempurnakan RPS dengan pendekatan yang lebih kreatif, terstruktur, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
6. Tidur Cukup dan Pastikan Berkualitas
Kurang tidur bisa membuat dosen maupun mahasiswa mudah mengantuk di jam-jam kuliah. Maka perlu memastikan tidur yang cukup dan berkualitas. Para dosen bisa mulai mengubah kebiasaan begadang. Manfaatkan waktu setelah sahur untuk mengerjakan tugas akademik yang sebelumnya dikerjakan di malam hari.
7. Menerapkan Metode Pembelajaran yang Tepat
Tips dan trik berikutnya dalam menghadapi tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa adalah teliti memilih metode pembelajaran. Para dosen bisa mencari informasi metode pembelajaran apa saja yang efektif di tengah bulan Ramadan.
Metode pembelajaran tersebut juga tetap relevan dengan kurikulum OBE. Sehingga pembelajaran lancar, dan hasil pembelajaran tersebut juga sama berkualitasnya dengan bulan-bulan lain di luar Ramadan.
Metode Pembelajaran Efektif di Bulan Ramadan
Memahami bahwa salah satu strategi menghadapi tantangan kegiatan pembelajaran saat puasa adalah metode pembelajaran harus tepat. Metode pembelajaran tersebut tentunya juga harus tetap relevan dengan kurikulum OBE yang berjalan di pendidikan tinggi Indonesia. Apa saja? Berikut beberapa diantaranya:
1. Micro Teaching
Metode pembelajaran pertama yang efektif di bulan Ramadan adalah micro teaching (pembelajaran mikro). Micro teaching adalah pembelajaran yang disederhanakan untuk menurunkan kompleksitas.
Penyederhanaan ini bisa dengan mengurangi jam pembelajaran, meminimalkan jumlah mahasiswa di kelas, dll. Sehingga ideal diterapkan saat Ramadhan, karena jam perkuliahan lebih pendek dari bulan biasanya.
2. Project Based Learning
Berikutnya adalah metode pembelajaran project based learning (pembelajaran berbasis proyek). Para dosen bisa memberikan proyek sederhana untuk dikerjakan individu maupun sekelompok mahasiswa. Sehingga proyek tersebut dikerjakan kapan saja oleh mahasiswa yang tentu cocok diterapkan selama Ramadan.
Baca juga: Cara Manajemen Waktu Puasa bagi Dosen Supaya Tri Dharma Tetap Jalan
3. Problem Based Learning
Metode pembelajaran ketiga adalah problem based learning (pembelajaran berbasis masalah). Dosen bisa memberikan suatu masalah untuk dianalisis, dibahas, maupun dicari solusinya oleh mahasiswa (membentuk kelompok).
Materi analisis dan pencarian solusi bisa dikerjakan kapan saja oleh mahasiswa. Kemudian dipresentasikan di kelas. Dibanding metode ceramah yang butuh lebih banyak energi dosen, metode ini lebih disarankan. Selain itu, mahasiswa juga bisa mengerjakan tugas dan belajar di jam-jam terbaik selama berpuasa.
Metode pembelajaran di atas masih berpusat pada mahasiswa, sehingga sesuai dengan salah satu karakteristik kurikulum OBE. Mahasiswa yang menjadi pusat pembelajaran akan membuat mereka lebih mudah menjaga fokus selama jam kuliah.
Menunjang keterampilan dosen dalam menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai kurikulum OBE. Maka bisa mengikuti kegiatan e-course dari Dunia Dosen, salah satunya E-Course “Peta Capaian Pembelajaran, Merancang Mata Kuliah Efektif dalam RPS OBE”.
PROMO HEMAT HINGGA 20% untuk semua produk E-Course hanya sampai tanggal 28 Februari 2026.
MAKSIMALKAN PRODUKTIVITAS ANDA SAAT PUASA DENGAN E-COURSE DARI DUNIA DOSEN!














