Informasi

Kemenristekdikti Ajak Tingkatkan Jumlah Artikel di Jurnal Bereputasi Internasional Ketimbang Prosiding

Semarang – Kepala Sub Direktorat Riset Dasar, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti, Adhi Indra Hermanu, S.T., M.T., mengajak untuk meningkatkan jumlah artikel di jurnal bereputasi internasional. Hal ini disampaikannya pada Kamis, (24/10/2019) saat membuka workshop Peningkatan Output Penelitian bertema `How to Write International Quality Publications`.

Dilansir risbang.ristekdikti.go.id workshop ini menghadirkan narasumber dari Liverpool John Moores University – Amos Akintayo Fatokun dan pakar dari De Montfort University, Leicester, UK – Oluwaseun Oladipupo Kolade. Workshop ini merupakan kerjasama antara Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Diponegoro (Undip) dan British Council yang dihadiri oleh 66 peserta dari perguruan tinggi di Semarang dan sekitarnya.

Menurut Adhi, publikasi internasional dalam lima tahun terakhir meningkat signifikan. Berdasarkan data tahun 2018, Indonesia menjadi pertama di atas Malaysia dan Singapura dalam hal penelitian. Hanya saja, ia melihat jika komposisinya masih timpang. Indonesia 40% artikel, 60% prosiding, sedangkan Malaysia kebalikannya yakni 70% artikel, 30% prosiding. Untuk itu ia mengajak untuk meningkatkan kualitas publikasi dengan meningkatkan jumlah artikel di jurnal bereputasi internasional, khususnya jurnal Q1.

“Atas inisiasi Menristekdikti dan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, kita bekerja sama dengan Newton Fund secara intensif dalam lima tahun terakhir ini. Kita melakukan join research masuk tahun kelima dan untuk Workshop Peningkatan Kualitas Publikasi ini sudah masuk tahun kedua bekerja sama dengan Newton Fund,” ujar Adhi dalam workshop yang diselenggarakan di Hotel Ciputra Semarang tersebut.

Ia melanjutkan, workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas publikasi, khususnya artikel di jurnal bereputasi internasional. Pakar dari universitas di Inggris didatangkan untuk membagi ilmunya dengan dosen-dosen di Indonesia.

Dalam pembukaan ini, Adhi mengajak untuk meningkatkan artikel di jurnal bereputasi internasional. Sementara itu Yos Johan mengingatkan untuk tidak teraku dengan peringkat semata. (sumber: risbang.ristekdikti.go.id.)

Kemudian dalam pembukaan acara tersebut, Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum., menyampaikan, produktivitas publikasi Undip tahun 2014 sekitar 100 publikasi, saat ini sekitar 1700 publikasi. Undip memiliki program-program untuk meningkatkan publikasi. Terlihat dari peningkatan anggaran penelitian di Undip.

“Namun, yang jadi pertanyaan, terkait penelitian, sampai saat ini tidak menghasilkan sesuatu yang menghasilkan. Universitas hanya mengeluarkan anggaran, tidak ada refund yang dihasilkan dari hasil riset. Seharusnya riset menghasilkan produk agar perguruan tinggi tidak hanya hidup dari jumlah mahasiswa, tetapi dapat hidup dari hasil penelitian yang menghasilkan produk,” ucap Johan.

Ia menambahkan agar tidak terjebak dengan peringkat karena mahkota tertinggi penelitian adalah produk yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus bagi pendapatan institusi penelitian termasuk perguruan tinggi.

Redaksi

Recent Posts

Cara Membuat Pendahuluan Artikel Jurnal Ilmiah dengan Efektif dan Efisien

Menggunakan AI untuk jurnal atau penulisan artikel pada jurnal ilmiah menjadi pertimbangan yang layak dilakukan…

24 hours ago

Serdos 2026, Pahami dan Penuhi Persyaratannya dari Sekarang!

Penerbitan Permendiktisaintek No. 52 Tahun 202,5, tentu menjadi babak baru bagi dosen di Indonesia untuk…

24 hours ago

Strategi Menghindari Kesalahan Dosen dalam Penyusunan RPS OBE

Kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi Indonesia adalah kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education). Salah satu…

2 days ago

Apa Itu Rumpun Ilmu? Dosen Pemula Wajib Tahu

Sejak tahun 2024, semua dosen di Indonesia diwajibkan mengisi data rumpun ilmu di profil SISTER…

2 days ago

6 Tips Menggunakan Scopus AI untuk Mendukung Publikasi Ilmiah Dosen

Menggunakan teknologi AI bagi kalangan akademisi, tentu bukan hal baru. Sebab dengan penggunaan yang etis…

3 days ago

Bagus Muljadi, Dosen asal Indonesia yang Menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham

Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki cita-cita menjadi dosen, tentu tak harus mengajar di Indonesia.…

3 days ago