Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ menerima penghargaan The Braibant Lecture 2019 yang diberikan langsung oleh Presiden IIAS Prof. Dr. Geert Bouckaert, dalam ajang Kongres International Institute of Administrative Science (IIAS) 2019 di Singapura, Kamis (20/6) lalu. (dok. ui.ac.id)
Jakarta – Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ menerima penghargaan The Braibant Lecture 2019 dan tercatat sebagai orang ketiga di Asia yang memperoleh penghargaan serupa, setelah Akira Nakamura (2010) dan Pan Suk Kim (2016). Penghargaan tersebut diberikan oleh Presiden IIAS Prof. Dr. Geert Bouckaert, dalam ajang Kongres International Institute of Administrative Science (IIAS) 2019 di Singapura, Kamis (20/6).
The Braibant Lecture merupakan penghargaan paling bergengsi yang diberikan oleh International Institute of Administrative Science (IIAS) bagi individu yang memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan ilmu administrasi di kancah global. Nama The Braibant Lecture diambil dari Guy Braibant, mantan presiden IIAS dan tokoh penting dalam perkembangan Ilmu Administrasi Publik.
Dilansir dari ui.ac.id Prof. Eko menuturkan, “Reformasi Administrasi Publik berperan sangat penting, stratejik dan bahkan menjadi prasyarat dalam memperkuat benefit demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.” Prof. Eko menekankan pentingnya menentukan arah kebijakan yang tepat untuk perkembangan tata kelola di Asia maupun global melalui reformasi administrasi publik.
Lebih lanjut, Prof. Eko menambahkan, “Administrasi publik merupakan enabling factor dalam pembangunan bangsa dan negara. Kita harus mengambil sisi positif dari Western, Chinese, dan Islamic Public Administration untuk menghadapi tantangan governansi global di era yang serba 4.0 ini. Harus kemanakah kita pergi setelah ini? yaitu bagaimana kita menyeimbangkan demokrasi dengan meritokrasi, mencari titik tengah antara administrasi publik Barat dengan non-Barat untuk mencapai demokrasi yang berorientasi kepada hasil, serta membangun administrasi yang bersifat trans-nasional,” ujarnya.
Kongres IIAS 2019 bertemakan “Effective, Accountable, and Inclusive Governance” yang diselenggarakan di Nanyang Technological University (NTU) Singapura di hadapan lebih dari 400 akademisi serta praktisi mancanegara. Kongres ini diselenggarakan setiap tahun untuk menelaah berbagai tantangan dan peluang dalam pengelolaan pemerintahan di berbagai belahan dunia. Selain itu, kongres ini merupakan wadah pertukaran ide untuk mengombinasikan dinamisme ekonomi dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, baik negara maju maupun berkembang.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa peran UI di dalam pembangunan Indonesia telah direkognisi dengan baik oleh komunitas akademik dunia khususnya pada bidang administrasi publik. Diharapkan UI dapat senantiasa mengambil peran dalam membangun Administrasi Publik Indonesia yang akuntabel, efektif dan inklusif dalam tujuan tujuan konstitusional dan juga tujuan global SDGs.
Redaksi
Sertifikasi dosen (serdos) adalah proses panjang. Jauh sebelum dosen bisa menjadi peserta serdos. Maka perlu…
Penerbitan Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025 turut mengubah ketentuan baru gaji dosen di Indonesia. Baik…
Dosen di Indonesia memiliki hak menerima sejumlah tunjangan yang sifatnya khusus, salah satunya tunjangan sertifikasi…
Dalam Permendikisaintek No. 52 Tahun 2025, besaran sejumlah jenis tunjangan dosen non-ASN dibuat setara dengan…
Menyusun strategi publikasi jurnal bagi dosen pemula adalah hal penting. Strategi ini sebaiknya sudah mulai…
Mengenal perbedaan SINTA dan ARJUNA tentu penting bagi dosen maupun mahasiswa. Termasuk juga para peneliti…