Informasi

Penerapan E-Learning di Perguruan Tinggi Harus Diimbangi Peningkatan Kompetensi Dosen

Yogyakarta – Di era disrupsi inovasi, perguruan tinggi ditargetkan untuk melakukan pembelajaran sesuai dengan perkembangan teknologi dan selalu meningkatkan kualifikasi dan kemampuan para dosennya agar dapat bersaing dengan bangsa lain. Proses pembelajaran secara daring (e-learning) telah dilakukan di berbagai perguruan tinggi Indonesia, dan ke depannya akan jauh lebih banyak perguruan tinggi yang mengadopsi sistem ini.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir berharap dengan ‘e-learning’, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia bisa lebih tinggi dari APK saat ini (34,58).

”Kita berharap e-learning akan mampu meningkatkan APK Pendidikan Tinggi Indonesia,” ujar Menteri Nasir saat Peresmian Gedung Baru Development of Education in Seven Universities Project (7 in 1 Project) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu (2/2) di Performance Hall FBS UNY, Yogyakarta.

Sistem pembelajaran secara E-learning harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi dosen. Mahasiswa yang dihadapi dosen saat ini adalah mahasiswa generasi milenial dan generasi Z. Oleh karena itu dosen harus meningkatkan kompetensi keilmuan serta melakukan inovasi metode pembelajaran.

”Saya sampaikan amat penting untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen. Kita harus bisa melakukan evaluasi diri, ada di mana posisi kita dibandingkan dengan negara lain. Sehingga hal ini bisa dimanifestasikan kepada para mahasiswa agar mereka dapat memberikan kontribusi yang lebih bermakna bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia,” ungkap Menristekdikti.

Nasir mengungkapkan dosen yang berkompetensi dan selalu sadar akan perkembangan ilmu di negara lain akan membuat mahasiswa lebih kompetitif dalam mensejahterakan rakyat. Dalam meningkatkan kompetensinya, Nasir sampaikan mahasiswa perlu berinisiatif ilmu dari berbagai sumber, salah satunya melalui materi pembelajaran dalam jaringan (online learning).

”Sementara itu dari sisi mahasiswa, yang harus dibenahi adalah kesiapan belajar mandiri mahasiswa. Karena dalam pembelajaran daring lebih banyak mengadopsi istilah self-directed learning , maka self-directed learning mahasiswa menjadi penting,” papar Menteri Nasir.

Nasir percaya mahasiswa Indonesia sudah tidak asing dengan perkembangan teknologi. Sehingga mereka dapat lebih adaptif pada penggunaan online learning. ”Kalau dari sisi literasi teknologi, saya kira tidak ada masalah yang berarti, karena mahasiswa kita saat ini pada dasarnya sudah merupakan digital native,” ungkap Nasir.

Sementara itu, dalam laporannya, Rektor UNY Sutrisna Wibawa menyampaikan bahwa dalam IsDB 7 in 1 Project ini, pemerintah membangun 12 gedung baru untuk UNY, mencakup Gedung Kuliah Umum, Gedung Pertunjukan, Pusat Pelatihan Bahasa Perpustakaan Digital, Pusat Kebugaran dan Olahraga, Laboratorium (Lab) Teknik Sipil dan Struktur, Lab Mesin dan Otomotif, Lab Elektronik dan Listrik, Lab Ekonomi dan Bisnis Terpadu, Lab Matematika dan IPA, Lab IPS Terpadu, Lab Pendidikan Usia Dini dan Sekolah Dasar.

Acara ini juga dihadiri Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam X (mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X), Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Inspektur Jenderal Jamal Wiwoho, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti, perwakilan dari Islamic Development Bank (IsDB), Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas Subandi, para Rektor dari perguruan tinggi yang tergabung dalam 7in1 Project, para Rektor LPTK, para eselon II Kemenristekdikti, para pejabat serta civitas akademika UNY.

Paku Alam X pada kesempatan ini membacakan sambutan Gubernur DIY yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Gubernur DIY menyampaikan UNY berperan dalam mencerdaskan bangsa. Harapannya, UNY mampu meningkatkan kinerja dan mempertahankan sebagai kampus agamis dan ‘green campus’.

Sebelum acara peresmian gedung baru, UNY melaksanakan kuliah umum yang bertema ‘Menyiapkan Generasi Unggul, Kreatif, dan Inovatif di Era Revolusi Industri 4.0.’, dihadiri oleh para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi UNY. Acara kuliah umum di UNY juga diikuti secara langsung secara daring oleh para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di 6 universitas yang tergabung dalam 7in1 (Unsyiah, Untan, ULM, Unsrat, UNG, UNESA).

Redaksi

Recent Posts

5 Aspek yang Menjadi Perbedaan Asisten Ahli dan Lektor

Para dosen pemula, mungkin belum mengetahui apa saja perbedaan Asisten Ahli dan Lektor. Asisten Ahli…

2 hours ago

Langkah-Langkah Menyusun Roadmap Penelitian Dosen Pemula

Melaksanakan kegiatan penelitian tentunya akan rutin dijalankan dosen di Indonesia. Kewajiban ini sudah dimiliki dosen…

1 day ago

Mengenal Vancouver Style, Gaya Sitasi yang Umum Digunakan dalam Proposal Hibah Penelitian

Ada cukup banyak gaya sitasi yang digunakan di Indonesia, baik di lingkungan perguruan tinggi maupun…

1 day ago

Memahami Cara Menentukan dan Mengukur TKT dalam Prorgram Hibah Penelitian

Pernahkah mencari informasi mengenai bagaimana cara menentukan dan mengukur TKT hasil penelitian? Bagi dosen, istilah…

2 days ago

Cara Cek NUPTK Dosen Kemdiktisaintek dan Kemenag

NUPTK menjadi nomor identitas unik untuk profesi dosen di Indonesia. Sehingga dosen perlu memahami cara…

2 days ago

Tata Cara Mengetahui Quartile Jurnal Ilmiah dan Daftar Jurnal Indonesia Q1-Q4 2026

Bagi dosen, mahasiswa, maupun peneliti memahami cara mengetahui quartile jurnal ilmiah sangat penting. Khususnya pada…

3 days ago