Informasi

Ciri-Ciri Buku Referensi yang Baik, Anda Harus Tahu!

Berprofesi sebagai dosen tidak hanya mempunyai kewajiban menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tetapi dosen juga mempunyai kewajiban menulis buku referensi dan menghasilkan karya ilmiah lainnya. Oleh karena itu, yang tak kalah penting untuk diketahui dosen adalah mengenal ciri-ciri buku referensi yang baik sebelum memulai menulis buku referensi.

Dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, telah memberikan pengalaman yang berharga bagi para dosen untuk menulis buku referensi yang baik dan bermutu. Penguasaan materi perkuliahan merupakan bekal berharga sebagai upaya untuk memulai penulisan buku referensi.

Dewasa ini, hampir setiap peserta didik cenederung mengalami kesulitan untuk mendapatkan buku referensi yang bermutu. Selain harga yang mahal, buku referensi terkadang tidak ditemukan mudah di perpustakaan. Bahkan sulit diperoleh di toko-toko buku.

Ketika dikaitkan dengan pergeseran paradigma pembelajaran dari teacher centered learning menuju student centered learning, maka peran buku referensi justru memberikan kontribusi yang berarti terhadap peningkatan efektifitas pembelajaran.

Bahkan kemajuan teknologi informasi pun belum mampu memenuhi kebutuhan mahasiswa akan buku referensi yang baik dan bermutu. Upaya browsing dan download buku referensi secara online di internet pun tidak bisa menjamin mahasiswa menemukan  buku referensi  yang bermutu. Ketika mahasiswa berhasil memperolehnya ia harus membayar dengan harga yang mahal.

Padahal, peran buku referensi dapat membantu dan mempermudah mahasiswa memahami materi perkuliahan. Karena buku referensi tak hanya berfungsi sebagai sumber belajar, melainkan sebagai pedoman dan arahan bagi mahasiswa dalam menguasai esensi dari materi perkuliahan.

Di samping buku ajar, pembelajar di Perguruan Tinggi sering kali menggunakan buku referensi. Buku referensi banyak digunakan oleh mahasiswa (pembaca) sebagai bahan kajian untuk perkuliahan, dan juga digunakan sebagai rujukan dalam penelitian.

Buku referensi ditulis dengan mengikuti alur dan struktur logika bidang keilmuan (scientific oriented). Isi buku disusun dari hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen bersangkutan atau hasil penelitian orang lain yang relevan dengan bidang keilmuan tertentu. anatominya adalah anatomi buku, bukan anatomi laporan penelitian.

Buku referensi jika digunakan dalam kegiatan pembelajaran, masih diperlukan pendampingan dan penjelasan-penjelasan dari dosen. Karena memang struktur dan isinya tidak dirancang untuk kegiatan belajar secara mandiri, lain halnya dengan buku ajar.

Bahasa buku referensi sangat formal, isinya mengandung banyak pemikiran atau konsep dasar bidang ilmu, dan bisa jadi merupakan hasil penelitian terkini.

Posisi buku referensi dalam kegiatan pembelajaran lebih digunakan sebagai rujukan untuk menyadarkan sebuah argument, menggali pengertian baru, membandingkan sebuah konsep, dan sumber rujukan dalam penyusunan buku ajar.

Buku referensi digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian dalam rangka tugas akhir bagi mahasiswa program S1 dan D3, menulis skripsi atau thesis bagi program S2, dan menulis disertasi bagi mahasiswa S3.

Bagi dosen yang berhasil menulis buku dengan bentuk kategori buku referensi, akan diberi penghargaan dalam bentuk nilai kredit yang lebih besar, yaitu maksimal 40 poin dan menulis buku referensi termasuk kelompok penelitian (B).

Ilustrasi buku referensi. (Sumber gambar: ruby-press.com)

Mau menulis Buku Referensi dari hasil penelitian untuk NAIK PANGKAT? Pedoman ini kami siapkan khusus untuk Anda
GRATIS! Ebook Sukses Menulis Buku Referensi
Menulis lebih mudah, angka KUM bertambah

Landasan Hukum Dosen Wajib Menulis Buku Referensi

Kepmen Diknas No: 36/D/O/2001 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penilaian Angka Kredit Jabatan Dosen: “Buku referensi adalah suatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu.”

Selain yang tertulis dalam Kepmen di atas, buku referensi haruslah disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian dan diterbitkan serta memiliki nomor ISBN. Penerbitannya dilakukan oleh penerbit yang kredibel, lalu disebarluaskan ke masyarakat pembaca, sehingga siapa pun dapat membelinya secara bebas di pasaran.

Namun, perlu diingat bahwa penerbit sangat ketat dalam memilah dan memilih buku referensi untuk disebar luaskan ke pasar melalui distributor dan toko buku. Kenapa? Karena dari sudut pandang penerbit, buku yang layak dipasarkan bukan hanya memiliki isi materi yang berkualitas, namun juga memiliki potensi pasar yang jelas. Sehingga buku itu pada saat dipajang di toko buku dapat laku terjual.

Jika buku referensi terslalu spesifik keilmuannya, ada cara lain dalam proses penjualan, yaitu dengan menggunakan promosi dan penjualan online. Serta membentu sales agen-sales agen khusus di kampus-kampus relasi penulis untuk menjualnya secara langsung. Dan berikut ini duniadosen.com memberikan informasi tentang ciri-ciri buku referensi yang baik yang harus kalangan akademisi tahu.

Berikut Ciri-Ciri Buku Referensi yang Baik:

  1. Isi buku sesuai dengan bidang ilmu penulis dan merupakan hail penelitian dan pemikiran asli penulis.
  2. Format ukuran buku sesuai dengan ketentuan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Dosen, yaitu ukuran kertas maksimal 15,5 x 23 cm dengan tebal minimal 200 halaman.
  3. Memiliki ISBN (International Standard Book Number).
  4. Menggunakan gaya bahasa formal.
  5. Struktur kalimat minimal SPOK (Subjek Predikan Objek Keterangan).
  6. Menggunakan catatan kaki/catatan akhir/daftar pustaka, dan jika mungkin menyertakan index.
  7. Diterbitkan oleh penerbit buku yang kredibel (anggota IKAPI)
  8. Isi tidak menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945.

So, apakah Anda (dosen/peneliti) sudah menulis buku referensi? Yuks share pengalaman Anda menulis buku referensi pada kami melalui email: duniadosenindonesia@gmail.com.

Selain buku referensi, Anda juga dapat menulis buku monograf sebagai luaran hasil penelitian. Pelajari apa itu buku monograf dan kupas tuntas hingga proses menerbitkannya.

Redaksi

Recent Posts

6 Tips Menggunakan Scopus AI untuk Mendukung Publikasi Ilmiah Dosen

Menggunakan teknologi AI bagi kalangan akademisi, tentu bukan hal baru. Sebab dengan penggunaan yang etis…

11 hours ago

Bagus Muljadi, Dosen asal Indonesia yang Menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham

Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki cita-cita menjadi dosen, tentu tak harus mengajar di Indonesia.…

11 hours ago

6 Tips Menulis Essay Beasiswa yang Menarik dan Efektif

Salah satu jenis dokumen yang dilampirkan saat mendaftar program beasiswa, adalah essay. Mayoritas program beasiswa…

2 days ago

Tips dan Cara Menentukan Topik Penelitian yang Relevan dengan State of the Art (SOTA)

Dalam kegiatan penelitian, secara umum peneliti akan menentukan dulu topik penelitian. Baru kemudian ada tahap…

2 days ago

Mengenal Apa Itu State of The Art (SOTA) dan Arti Pentingnya dalam Penelitian

Dalam kegiatan penelitian, tentu perlu menemukan novelty (kebaruan). Salah satu tahap untuk menemukan atau menentukan…

3 days ago

7 Tahapan dalam Cara Pengajuan NUPTK Dosen Tahun 2026

NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) diketahui menjadi nomor identitas bagi pemilik profesi dosen…

3 days ago