6 Tips Menggunakan Scopus AI untuk Mendukung Publikasi Ilmiah Dosen
Menggunakan teknologi AI bagi kalangan akademisi, tentu bukan hal baru. Sebab dengan penggunaan yang etis dan kritis, maka AI bisa memberi efisiensi bagi dosen dan mahasiswa. Termasuk dalam penggunaan Scopus AI.
Seperti yang diketahui, Scopus menghadirkan fitur berbasis teknologi AI. Melalui fitur AI ini, para pengguna bisa lebih optimal dalam kegiatan penelitian sampai publikasi ilmiah. Lalu, seperti apa peran fitur AI ini dalam menunjang publikasi ilmiah dosen? Berikut informasinya.
Scopus AI adalah salah satu fitur dari Scopus yang menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence) untuk membantu kegiatan penelitian. Fitur ini sendiri menjadi satu dengan website resmi Scopus yang dikelola dan dikembangkan publisher Elsevier.
Secara tampilan, Scopus dengan AI mirip dengan Chat GPT. Sebab sama-sama menyajikan layanan utama berbasis prompt dengan ChatBot AI. Melalui fitur ini, para pengguna bisa mengetik prompt sesuai kebutuhan untuk mencari, memilih, dan memahami publikasi ilmiah terindeks Scopus.
Sehingga membantu para pengguna untuk bisa lebih cepat mendapat referensi ilmiah. Kemudian bisa digunakan untuk menunjang kegiatan penelitian sampai penyusunan karya ilmiah berkaitan penelitian tersebut. Termasuk artikel ilmiah berisi hasil penelitian yang akan dipublikasikan ke jurnal.
Fitur Scopus AI tidak akan tampil di halaman utama website resmi Scopus. Sebab hanya bisa diakses pemilik akun Scopus yang tentu sudah berlangganan. Jika Anda dosen atau mahasiswa, akses ke fitur AI ini bisa meminta akses akun berbayar dari perguruan tinggi yang menaungi.
Memahami lebih dalam fitur AI dari Scopus ini dan kaitannya dalam menunjang publikasi ilmiah dosen. Tentu dimulai dari mengenal fitur unggulan yang mendukung kegiatan penelitian sampai publikasi ilmiah. Diantaranya adalah:
Fitur unggulan yang pertama adalah Summary. Yakni fitur yang menampilkan ringkasan atau rangkuman dari topik yang diketik pengguna dalam bentuk prompt dan direspon dengan merangkum sejumlah referensi ilmiah relevan dan terindeks Scopus.
Jadi, ketika pengguna mengetik prompt pada kolom “Ask Scopus AI”. Maka respon dari AI di dalam Scopus akan menyajikan ringkasan dari berbagai publikasi ilmiah yang terindeks database Scopus.
Melalui fitur unggulan ini, para pengguna lebih mudah dan cepat memahami suatu topik yang menarik minat untuk diteliti. Sehingga bisa lebih efisien untuk menentukan tepat tidaknya topik tersebut diteliti. Sekaligus meningkatkan pemahaman terkait topik penelitian tersebut.
Fitur unggulan yang kedua adalah References. Yakni fitur yang menampilkan daftar seluruh referensi yang digunakan sistem AI untuk menyajikan rangkuman suatu topik yang dicari oleh pengguna.
Melalui fitur ini, pengguna bisa segera mengetahui sumber data yang disajikan dalam bentuk rangkuman oleh Scopus AI. Kemudian melakukan penelusuran dan kajian pustaka mendalam ke daftar referensi tersebut.
Fitur unggulan yang ketiga adalah Mind Map atau Peta Konsep. Yakni fitur yang menampilkan hubungan dan alur kegiatan penelitian dengan topik yang sama atau berkaitan dari waktu ke waktu.
Melalui fitur unggulan ini, para pengguna akan lebih mudah mengikuti perkembangan kegiatan penelitian dengan topik relevan. Sekaligus membantu menganalisis tren penelitian berkaitan dengan topik yang dicari di awal.
Fitur unggulan yang keempat adalah Topic Experts. Yakni fitur yang menampilkan daftar ahli yang relevan dengan topik yang sedang dicari, lengkap dengan penjelasan mengenai keahlian atau kepakaran mereka.
Jika ingin mencari calon dosen dan peneliti yang akan diajak berkolaborasi. Maka fitur ini bisa diandalkan. Sebab bisa membantu mengetahui dosen dan peneliti mana saja yang punya rekam jejak penelitian dengan topik yang relevan.
Melalui sejumlah fitur unggulan di dalam Scopus AI, maka tentu semakin meningkatkan manfaat dan perannya bagi akademisi maupun peneliti. Dalam penelitian dan publikasi ilmiah, AI pada Scopus memberi manfaat yang kompleks. Diantaranya adalah:
Melalui kolom “Ask Scopus AI”, para pengguna bisa mengetik prompt apa saja sesuai kebutuhan. Baik itu berisi pertanyaan, perintah, dan detail lainnya. Termasuk diminta menjelaskan suatu topik dan merekomendasikan referensi ilmiah kredibel.
Dalam hitungan detik, Scopus dengan teknologi AI akan menampilkan informasi terkait topik yang dicari dalam prompt. Kemudian dilengkapi juga dengan informasi mengenai sumbernya dari mana saja, siapa saja penulis referensi tersebut, dll.
Sehingga, fitur Scopus ini mampu memberi efisiensi dalam menemukan referensi ilmiah kredibel. Apalagi seluruh referensi yang disajikan dan dirangkum adalah yang terindeks Scopus dan dijamin kredibel.
Manfaat berikutnya dari Scopus AI untuk penelitian dosen dan publikasi ilmiah yang dihasilkan, adalah membantu memperdalam pemahaman pada topik. Menunjang kelancaran penelitian, memahami topik menjadi salah satu kunci utama.
Fitur dari Scopus ini bisa diandalkan. Sebab cukup menanyakan topik tersebut dalam kolom pertanyaan yang disediakan. Maka Scopus dengan teknologi AI akan menjelaskan melalui ringkasan sejumlah publikasi ilmiah terindeks Scopus.
Adanya fitur unggulan Mind Map, tentu menunjang dosen dalam menganalisis tren penelitian. Fitur unggulan ini bisa diandalkan saat dosen masih harus menentukan topik apa yang tepat dan menarik untuk diteliti.
Sebab hasil penelusuran Scopus dengan AI akan menyajikan visualisasi hubungan satu penelitian dengan penelitian lainnya. Sehingga lebih mudah menemukan topik-topik apa saja yang sedang naik daun dan banyak diteliti belakangan ini.
Manfaat berikutnya, Scopus AI membantu dosen dalam melakukan kolaborasi. Salah satunya lewat fitur unggulan Topic Experts. Suatu topik yang dicari di kolom pencarian, akan sekaligus direkomendasikan daftar peneliti yang fokus pada topik tersebut.
Kemudian, disediakan akses ke profil peneliti ahli di topik tersebut. Sehingga memudahkan dosen mengenal dan menelusuri rekam jejak serta kepakaran peneliti. Hal ini memudahkan dosen dalam menemukan dan memiliki kolaborator dalam penelitian sampai publikasi ilmiah.
Rangkuman yang disajikan Scopus AI pada para pengguna bersumber dari sejumlah publikasi ilmiah terindeks Scopus. Seperti yang diketahui, Scopus tidak hanya mengindeks artikel pada berbagai jurnal internasional kredibel.
Akan tetapi juga menghimpun artikel pada prosiding kredibel dan buku ilmiah. Seluruh publikasi tersebut disaring secara ketat oleh Scopus, sehingga dijamin kredibel. Pada akhirnya, Scopus dengan teknologi AI memudahkan dosen mendapat sumber-sumber data valid dan kredibilitasnya tinggi.
Baca juga artikel lain yang sesuai dengan topik AI:
Dengan sejumlah fitur unggulan di dalam Scopus AI, maka semakin menunjang dosen dalam menjalankan penelitian. Mulai dari pencarian topik sesuai tren penelitian, pemahaman mendalam pada topik, mencari kolaborator, dan menemukan referensi ilmiah relevan serta kredibel.
Supaya benar-benar menunjang kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah dosen. Maka berikut beberapa tips menggunakan fitur AI dari Scopus tersebut dengan tepat:
Melalui penjelasan sebelumnya, maka bisa dipahami Scopus AI berbentuk chatbot mirip dengan Chat GPT. Hal ini membuat pengguna wajib menyusun prompt untuk memanfaatkan layanan utamanya, yakni fitur-fitur unggulan yang sudah dijelaskan.
Prompt akan menentukan respon AI pada Scopus tersebut. Semakin tepat prompt yang disusun, semakin sesuai harapan respon AI. Jadi, sangat penting untuk teliti dalam menyusun prompt.
Utamakan prompt singkat, akan tetapi spesifik dan terfokus di satu hal saja. Jika butuh penjelasan tambahan, maka lakukan deep research dengan menyusun prompt berikutnya yang relevan kebutuhan dan respon Scopus AI tersebut. Jadi, jangan mengetik prompt terlalu panjang karena respon bisa melenceng dari harapan.
Memastikan penelitian yang dilakukan dosen tidak mengulang penelitian terdahulu. Sekaligus memudahkan dosen dalam menemukan research gap dari penelitian sebelumnya. Maka Scopus AI bisa dimanfaatkan untuk proses SOTA dan merumuskan SOTA tersebut.
Misalnya dengan mengetik prompt yang meminta Scopus dengan AI tersebut untuk merangkum perkembangan penelitian di topik tertentu. Contohnya mengetik prompt “What are recent research trends on digital literacy in higher education (2019–2024)?”. Sehingga mempercepat perumusan SOTA.
Scopus AI bisa menunjang publikasi ilmiah dosen lebih berkualitas, dengan memudahkan pencarian research gap. Setelah melakukan SOTA di poin sebelumnya, maka akan ada penjelasan mengenai kesenjangan di penelitian terdahulu.
Sehingga Scopus ini bisa digunakan untuk mempercepat pencarian research gap dan novelty penelitian. Jadi, dosen tidak perlu lagi melakukan analisis manual. Hanya saja, tetap disarankan membaca ulang respon Scopus AI untuk mencegah ada kesalahan atau error respon.
Penelitian dan publikasi ilmiah dosen yang berkualitas, butuh sumber data yang kredibel. Scopus AI bisa diandalkan untuk mendapatkan sumber-sumber data kredibel tersebut. Sebab setiap rangkuman yang ditampilkan akan dilengkapi dengan daftar referensi dan bisa dipertimbangkan untuk digunakan.
Meskipun Scopus AI akan menyajikan rangkuman terkait topik yang ditanyakan dalam prompt. Dosen sebaiknya tidak hanya membaca dan memahaminya. Bahkan langsung copy paste rangkuman tersebut.
Sangat disarankan untuk dianalisis, misalnya dibandingkan dengan hasil memahami publikasi ilmiah yang dijadikan referensi rangkuman oleh Scopus AI. Apakah ada persamaan, perbedaan, ada data yang keliru, dan sebagainya. Sebab rangkuman tersebut tetaplah dibuat mesin dan ada potensi error.
Dalam merumuskan SOTA, analisis tren penelitian, referensi kredibel untuk digunakan, dan keperluan lainnya. Maka akan lebih efektif jika menggunakan fasilitas penyaringan atau filter. Misalnya filter Tahun Publikasi yang diatur 5 tahun terakhir. Sehingga dipastikan menganalisis penelitian paling terkini.
Selain Scopus AI, tentu masih banyak platform berbasis teknologi AI bisa digunakan dosen dalam menunjang publikasi ilmiah. Maka mengenal lebih banyak platform AI sangat direkomendasikan. Sehingga dosen lebih produktif menjalankan tri dharma.
Sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan kompetensi dosen di era digital, Dunia Dosen juga menyediakan berbagai program pembelajaran yang dirancang khusus untuk kebutuhan akademisi. Salah satunya melalui program E-Course Dunia Dosen yang membantu dosen meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma, mulai dari pemanfaatan teknologi AI dalam aktivitas akademik hingga strategi meningkatkan peluang publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi.
Saat ini tersedia dua pilihan e-course yang dapat diikuti, yaitu E-Course AI untuk Dosen: Akselerasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang membahas pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik, serta E-Course Strategi Publikasi Sukses Tembus Jurnal SINTA & Scopus, yang membahas langkah strategis agar karya ilmiah memiliki peluang lebih besar dipublikasikan pada jurnal bereputasi. Kedua program ini dirancang praktis dan aplikatif sehingga dapat langsung diterapkan dalam aktivitas akademik sehari-hari.
Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki cita-cita menjadi dosen, tentu tak harus mengajar di Indonesia.…
Salah satu jenis dokumen yang dilampirkan saat mendaftar program beasiswa, adalah essay. Mayoritas program beasiswa…
Dalam kegiatan penelitian, secara umum peneliti akan menentukan dulu topik penelitian. Baru kemudian ada tahap…
Dalam kegiatan penelitian, tentu perlu menemukan novelty (kebaruan). Salah satu tahap untuk menemukan atau menentukan…
NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) diketahui menjadi nomor identitas bagi pemilik profesi dosen…
NUPTK dan NIDN tentu masih sering dianggap sama, padahal memang berbeda satu sama lain. Selain…