Bagaimana dosen tetap produktif menulis saat puasa di bulan Ramadan? Pertanyaan ini, tentu menjadi pertanyaan umum kalangan dosen. Sebab, dalam waktu dekat Ramadan akan tiba. Namun, kewajiban akademik tidak berubah dari segi substansi sampai beban kerjanya.
Menulis bagi dosen adalah kewajiban dan sekaligus juga kebutuhan. Hal ini melekat di bulan apapun, termasuk bulan Ramadan. Hanya saja, menulis di tengah menahan haus dan lapar karena berpuasa tentu menjadi tantangan tersendiri. Lalu, bagaimana solusinya? Berikut informasinya.
Kenapa Dosen Harus Produktif Menulis saat Puasa Ramadan?
Menjaga tetap produktif menulis saat puasa adalah hal penting bagi dosen. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Antara lain:
1. Kewajiban Akademik DosenÂ
Dalam dunia akademik, dosen memiliki kewajiban menjalankan 3 tugas pokok sesuai ketentuan di dalam tri dharma. Tugas pokok tersebut erat kaitannya dengan kegiatan menulis. Misalnya dalam pendidikan, dosen bertugas mengembangan bahan ajar. Sehingga ada aktivitas menulis modul, buku ajar, dll.
Dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dosen diharapkan mencapai luaran. Salah satunya dalam bentuk publikasi ilmiah baik di prosiding, jurnal, maupun buku ilmiah. Jaid, menjaga tetap produktif menulis selama Ramadan adalah bentuk tanggung jawab dosen atas profesinya.
2. Tetap Berusaha Memenuhi BKDÂ
Meskipun memasuki bulan Ramadan dan dosen menjalankan ibadah puasa. Perguruan tinggi tetap beroperasi seperti biasa dengan pengurangan jam operasional. Disusul dengan BKD yang tetap utuh tanpa dispensasi. Jadi, bulan Ramadan bukan waktunya duduk santai selepas mengajar di kampus.
Melainkan harus produktif menjalankan tri dharma, tugas penunjang, maupun tugas tambahan. Supaya bisa memenuhi BKD, tunjangan cair, dan terhindar dari sanksi karena Tidak Memenuhi.
Baca Juga: Strategi Pelaporan BKD di SISTER untuk Pengembangan Jabatan Fungsional
3. Mendukung Kenaikan Jabatan FungsionalÂ
Meskipun bulan Ramadan, dosen tetap bisa mengakses layanan Ditjen Dikti. Mulai dari akses program hibah, pelaporan BKD, sampai pengajuan kenaikan jabfung. Jadi, produktif menulis saat puasa membantu dosen segera memenuhi syarat mengajukan usulan kenaikan jabfung tersebut.
Baca Juga : Syarat Kenaikan Jabatan Menuju Profesor Berdasarkan Juknis Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025
4. Bentuk Ibadah dengan Berbagi IlmuÂ
Menulis adalah salah satu bentuk pelaksanaan tugas dan kewajiban akademik yang diemban dosen di Indonesia. Sehingga menulis menjadi bentuk pelaksanaan pekerjaan, yang tentu bernilai ibadah dan berpahala. Selain itu, menulis sama artinya dosen berbagi ilmu. Sehingga mendapat pahala atas kegiatan tersebut.
5. Menjaga dan Meningkatkan Keterampilan MenulisÂ
Menulis menjadi kebutuhan dan kewajiban yang melekat pada profesi dosen, yakni dari sejak merintis karir sampai memasuki usia pensiun. Jadi, menjaga produktivitas menulis di bulan puasa sangat penting. Sebab bisa menjadi sarana dosen untuk menjaga dan meningkatkan keterampilan menulis.
Tantangan Menulis Selama Ramadan
Tetap produktif menulis saat puasa, tentu tidak selalu mudah untuk dosen. Hal ini juga berlaku untuk para penulis profesional. Sebab di hari biasa menjaga fokus dan konsentrasi saat menulis tidak mudah. Lebih-lebih saat menjalankan ibadah puasa.
Tak hanya puasa itu sendiri, tantangan tetap produktif menulis juga dari berbagai sisi. Berikut penjelasannya:
1. Kesulitan Menjaga Fokus dan KonsentrasiÂ
Menahan haus, lapar, dan kontrol emosi selama berpuasa bukan hal sulit bagi orang dewasa. Para dosen tentu mengakuinya. Hanya saja, efek dari puasa tersebut membuat tubuh kekurangan cairan dan asupan energi di siang hari. Dampaknya, dosen bisa kesulitan menjaga fokus dan konsentrasi dalam menulis.
2. Mudah KelelahanÂ
Sejalan dengan terhentinya asupan cairan dan makanan ke tubuh saat puasa. Maka tentu tubuh mudah kelelahan. Ditambah dengan rutinitas bangun dini hari untuk bersantap sahur. Seringkali membuat energi dosen lebih terbatas di siang hari. Kelelahan ini tentu menjadi sandungan bagi dosen untuk menulis.
3. Kalah Prioritas Selama RamadanÂ
Bulan Ramadan tentu disambut gembira seluruh umat muslim. Kemudian diisi dengan kegiatan beribadah dan saling berlomba satu sama lain. Para dosen tentu termasuk di dalamnya. Sehingga memprioritaskan kegiatan ibadah setelah tugas pokok akademik. Alhasil, menulis sering kalah prioritas.
4. Kesulitan Manajemen WaktuÂ
Tantangan produktif menulis saat puasa berikutnya yang umum dialami kalangan dosen adalah kesulitan manajemen waktu. Dosen berhadapan dengan beban kerja akademik tinggi.
Ketika bulan Ramadan tiba, dosen mengisi waktu luang dengan ibadah. Sehingga membuat manajemen waktu semakin sulit dilakukan. Dosen pun kesulitan menyisakan atau meluangkan waktu untuk menulis.
5. Adaptasi dengan Ritme Kegiatan di Bulan RamadanÂ
Tantangan lainnya adalah kesulitan beradaptasi dengan perubahan ritme kegiatan harian selama bulan Ramadan. Misalnya ada jadwal shalat tarawih, bersantap sahur, buka bersama, dll. Sehingga dalam tempo singkat, dosen harus beradaptasi dengan perubahan tersebut. Alhasil, kegiatan menulis menjadi lebih sulit dilakukan.
Daftar juga kelas online Research Gap Kunci Inovasi dan Publikasi Berkualitas dari Dunia Dosen, untuk membantu Anda dalam menemukan research gap secara kuat dan jelas!
Promo hemat hingga 20% untuk semua produk E-Course hanya sampai tanggal 28 Februari 2026. Jangan lewatkan dan beli sekarang produk E-Course dari Dunia Dosen!
Tips Produktif Menulis saat Puasa
Meskipun berhadapan dengan banyak tantangan dan rintangan. Menjaga tetap produktif menulis saat puasa lagi-lagi menjadi kebutuhan dan kewajiban dosen. Jadi, supaya bisa tetap dilaksanakan maka bisa menerapkan tips di bawah ini:
1. Berniat dalam Hati Menulis untuk IbadahÂ
Tips yang pertama dan utama agar dosen tetap produktif menulis saat berpuasa adalah memastikan berniat. Yakni meniatkan kegiatan menulis tersebut untuk beribadah.
Menulis adalah proses membagikan ilmu pengetahuan, wawasan, dan keterampilan pada banyak pembaca. Maka dosen yang menulis sama artinya beribadah dengan berbagi ilmu, wawasan, dan keterampilan tersebut.
Selain itu, bekerja juga ibadah. Dosen memiliki kewajiban menjalankan tri dharma dan berkaitan dengan tugas menulis. Sehingga menulis di bulan Ramadan adalah kegiatan bekerja bagi dosen yang juga bentuk ibadah. Niat untuk ibadah akan menjadikan prosesnya ringan dan berkah.
2. Memasukan Menulis pada Jadwal Kegiatan HarianÂ
Jika kegiatan menulis sering kalah dalam skala prioritas di bulan Ramadan. Para dosen bisa mengakalinya dengan memasukan menulis pada jadwal kegiatan harian. Menyusun jadwal kegiatan adalah bagian dari manajemen waktu dan pekerjaan selama Ramadan.
Seluruh kegiatan di dalam jadwal diatur kapan dimulai, kapan selesai, kapan istirahat, dan kapan beralih ke kegiatan lain. Jadi, jika menulis masuk dalam daftar tersebut. Dosen lebih mudah menentukan waktu menulis dan mempersiapkan diri dengan baik agar fokus.
Jadi, jangan lupa untuk mencantumkan kegiatan menulis pada jadwal kegiatan harian. Sehingga dari awal dosen sudah menyiapkan waktu memadai untuk menulis. Sekaligus tidak mengorbankan kegiatan lain dalam jadwal tersebut.
3. Menentukan Waktu Menulis yang TepatÂ
Menulis di tengah ibadah puasa bisa menjadi lebih sulit. Bahkan berkali-kali lipat dibanding menulis di bulan selain Ramadan. Sebab, dosen harus berjuang menghadapi energi menipis, rasa haus dan lapar, dan lain sebagainya.
Lalu, apa solusi untuk dosen tetap produktif menulis saat puasa? Salah satu solusinya adalah menentukan jadwal menulis di jam yang tepat. Menulis menjadi keterampilan berbahasa yang paling sulit dibanding menyimak, berbicara, dan membaca.
Tidak heran jika menulis butuh konsentrasi lebih agar tetap terjaga, ide tetap mengalir, dan naskah cepat selesai. Saat menjalankan puasa, pahami kondisi tubuh masih fit dan berenergi di jam berapa? Jika merasa lebih fit di pagi hari setelah shalat subuh, maka menulislah di jam-jam ini.
Pada dasarnya, menulis saat puasa dianjurkan di jam-jam berbuka. Mulai dari selepas shalat tarawih, malah setelah tadarus Al-Qur’an, dini hari sebelum sahur, setelah sahur, sampai setelah shalat subuh.
4. Menulis Sedikit Tapi Konsisten
Tips produktif menulis berikutnya di tengah ibadah puasa Ramadan adalah mengusahakan menulis sedikit, tapi bisa konsisten. Menulis di bulan Ramadan tidak harus setiap hari. Bisa beberapa hari dalam seminggu, bahkan seminggu sekali.
Sesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun selama Ramadan. Jika merasa hanya mampu menulis sekali seminggu. Maka tidak perlu risau, dan lanjutkan menulis. Prioritaskan untuk menulis sedikit tapi bisa konsisten. Tujuannya agar ibadah puasa lancar dan kegiatan akademik ain tidak terganggu.
Ikuti kelas E-Course Digital Era Smart Lecturer Optimalisasi Riset dan Publikasi dari Dunia Dosen untuk membantu menguasai strategi riset dan publikasi digital untuk memperkuat reputasi akademik Anda!
Selaras dengan produk AI ntuk Dosen, Akselerasi Tridharma Perguruan Tinggi untuk membantu penulisan dan riset Anda dengan lebih cepat dan efisien!
5. Menyiapkan Kerangka TulisanÂ
Menulis bisa menjadi lebih lama saat puasa. Bisa karena kesulitan mendapatkan ide melanjutkan kalimat dan paragraf berikutnya. Mencegah hal ini, para dosen bisa menyiapkan kerangka tulisan sebelum mulai mengembagkan naskah.
Kerangka menjadi peta jalan saat menulis. Sehingga sebelum mulai menulis, dosen sudah mengumpulkan referensi dan memahami topik yang akan dibahas di setiap bab. Jadi, bisa meminimalkan resiko writer’s block meski tengah berpuasa.
Baca Juga: Bentuk Kerangka Penulisan Karya Ilmiah dan Manfaatnya
6. Membaca Buku saat NgabuburitÂ
Kesulitan untuk produktif menulis saat puasa juga bisa karena belum memahami topik, keterbatasan perbendaharaan kata, dan sebab lainnya. Jika dua sebab ini dialami, ada baiknya selama puasa mengatur jadwal rutin untuk membaca buku.
Terutama di waktu menjelang buka puasa atau momen ngabuburit. Dibanding diisi dengan rebahan, scroll media sosial, dll. Bisa dialihkan membaca buku untuk persiapan mengembangkan kerangka tulisan.
Bisa juga membaca buku sebagai hiburan. Misalnya membaca novel, cerpen, kisah inspiratif, motivasi, dan sebagainya. Sehingga bisa menjadi ajang rehat agar dosen tidak burnout dan siap melanjutkan naskah.
7. Fokus Menulis dengan Menghindari DistraksiÂ
Jika tantangan saat menulis di tengah ibadah puasa sulit fokus. Maka pahami betul penyebab kesulitan menjaga fokus dan konsentrasi tersebut. Jika karena kekurangan energi, haus, dan lapar. Sebaiknya menulis di jam buka puasa.
Jika fokus mudah teralihkan karena ada distraksi. Maka sebaiknya menjauh dari semua sumber distraksi tersebut. Sehingga bisa mendapatkan suasana tenang dan kondusif untuk menulis. Meski puasa, dijamin tetap lebih fokus dalam melanjutkan naskah.
8. Pola Makan dan Istirahat yang BenarÂ
Tubuh yang mudah lemas, mudah merasa lapar dan haus saat puasa, mudah kelelahan, dan sejenisnya. Bisa jadi karena ada kesalahan dalam pola makan. Sehingga tubuh kekurangan energi maupun nutrisi yang memadai.
Silahkan melakukan evaluasi pola makan. Pastikan memilih makanan sehat, tinggi serat, dan kaya akan protein bukan karbohidrat berlebihan. Atur asupan gula dengan mengurangi makanan dan minuman manis saat sahur dan buka puasa.
Selain itu, usahakan istirahat cukup. Hindari begadang selama puasa karena harus bangun sahur. Selain itu, usahakan tidur cukup dan berkualitas. Buat kamar tidur nyaman, bersih, dan tidak bising.
9. Olahraga RutinÂ
Tips terakhir agar dosen tetap menulis saat puasa adalah olahraga rutin. Olahraga ringan seperti jalan kaki, sepeda statis, berenang, dll. Bisa membantu menjaga metabolisme tubuh saat puasa, mengontrol gula darah, dll. Sehingga tubuh bugar, puasa lancar, dan tetap produktif menulis.
Dengan beberapa tips tersebut, dosen bisa tetap produktif menulis saat puasa Ramadan. Jadi, ibadah puasa tetap berjalan lancar dan naskah ilmiah tetap bisa diselesaikan. Hal ini tentu menjadi kepuasan tersendiri bagi para dosen.














